Tampilkan postingan dengan label SDM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SDM. Tampilkan semua postingan

Rabu, Juni 03, 2009

Pengembangan SDM : Meningkatkan Kreativitas di Tempat Kerja


Orang-orang yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk memikirkan bonus yang akan mereka terima tidak banyak melakukan pekerjaan kreatif.

“Kreativitas” adalah hal yang sangat populer belakangan ini. Setiap orang menyadari bahwa untuk dapat bertahan dan memenangkan persaingan, perusahaan-perusahaan harus kreatif. Namun, karena setiap orang mempelajari kreativitas dengan terburu-buru, mereka menyerap banyak informasi yang salah mengenai kreativitas.

Walaupun penting bagi Anda untuk mengetahui sebanyak mungkin informasi tentang kreativitas, penting juga bagi Anda untuk menyadari konsep-konsep yang salah tentang kreativitas.

Berikut ini beberapa konsep yang salah tentang kreativitas:

1. Kreativitas hanya dihasilkan oleh tipe-tipe orang yang kreatif
Banyak orang memiliki gagasan yang salah bahwa kreativitas adalah bawaan sejak lahir dan oleh karenanya hanya orang-orang yang memiliki karunia tersebut dapat memikirkan ide-ide kreatif. Penelitian telah membuktikan bahwa siapa saja dengan kecerdasan normal mampu berpikir kreatif. Kreativitas tergantung pada beberapa faktor: pengalaman (termasuk pengetahuan dan keterampilan teknis), talenta, dan kemampuan untuk berpikir dengan cara-cara baru. Motivasi dari dalam diri sangat penting. Orang-orang yang menikmati dan termotivasi oleh pekerjaan mereka, sering kali memiliki ide-ide kreatif. Organisasi mencurahkan begitu banyak waktu dan usaha untuk membuat anggota-anggotanya berpikir kreatif. Namun, sebagian besar orang tidak dapat berpikir kreatif karena lingkungan kerja mereka sama sekali tidak mendorong pemikiran kreatif!

2. Uang memotivasi kreativitas
Uang bukanlah faktor penting untuk meningkatkan kreativitas seseorang. Sebaliknya, orang-orang yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk memikirkan bonus yang akan mereka terima sesungguhnya tidak banyak melakukan pekerjaan kreatif. Tentu saja, orang-orang perlu merasa bahwa mereka mendapatkan gaji yang layak. Namun, penelitian telah menunjukkan (dan sebagian besar dari kita akan sependapat) bahwa orang cenderung jauh lebih kreatif di lingkungan kerja tempat kreativitas didukung, dihargai dan diakui. Orang menginginkan kesempatan untuk dilibatkan secara penuh dalam pekerjaan mereka dan untuk membuat kemajuan yang nyata. Orang menjadi sangat kreatif ketika mereka mencintai pekerjaan mereka dan memaksimalkan keterampilan mereka.

3. Tekanan waktu menciptakan kreativitas
Pendapat umum menyatakan bahwa orang-orang menjadi sangat kreatif ketika mereka berada di bawah tekanan tenggat waktu. Namun, studi telah menunjukkan kenyataan yang sebaliknya. Orang menjadi paling tidak kreatif ketika mereka harus berjuang memenuhi target tenggat waktu. Kenyataannya, studi yang sama menemukan bahkan kreativitas orang-orang bahkan merosot pada hari-hari setelah batas tenggat waktu! Tekanan waktu tidak menciptakan suasana kondusif bagi kreativitas karena orang tidak memiliki waktu untuk memikirkan masalah secara mendalam. Sebagian besar ide muncul setelah orang diberi cukup waktu untuk membiarkan benih ide tersebut 'meresap' ke dalam pikirannya dan berkembang sampai matang.

4. Ketakutan mendorong terobosan
Konsep yang salah lainnya adalah ketakutan dan kesedihan meningkatkan kreativitas. Sebaliknya, studi menunjukkan bahwa sukacita dan kasih berdampak positif bagi kreativitas, sementara itu kemarahan, ketakutan dan kekhawatiran berdampak negatif bagi kreativitas. Penelitian menunjukkan bahwa orang memiliki kemungkinan terbesar untuk menghasilkan ide kreatif ketika mereka gembira, bahkan ketika kegembiraan itu mereka alami sehari sebelumnya! Ketika orang-orang bersukacita dengan pekerjaan mereka, kemungkinan besar mereka akan memikirkannya pada hari tersebut, mematangkan ide tersebut pada malam harinya dan menghasilkan ide kreatif pada hari berikutnya.

5. Pengurangan jumlah karyawan membuat orang menjadi kreatif
Tentu saja kebalikannyalah yang benar. Kreativitas mengalami kemerosotan tajam selama pengurangan karyawan. Akibat pengurangan jumlah karyawan, semua faktor yang kondusif bagi pemikiran kreatif mengalami penurunan. Antisipasi terhadap pengurangan jumlah karyawan dan kekhawatiran terhadap masa depan yang tidak pasti membuat mereka tidak antusias dengan pekerjaan mereka. Akibatnya, kreativitas merosot drastis.

Jadi, pahamilah fakta-fakta ini, dan mulailah mengembangkan lingkungan kerja tempat orang-orang dihargai atas usaha kreatif mereka.

Penulis : James Gwee, T.H., MBA

Pengembangan SDM : Menciptakan Kesan Positif di Tempat Kerja Baru


Kesan pertama memang penting. Singkatnya kesan pertama selama beberapa hari di kantor baru sangatlah penting bagi Anda. Kesan itulah yang akan menjadi label Anda di perusahaan tersebut.

Jika Anda menampilkan kesan baik sejak awal, selanjutnya keberadaan Anda di perusahaan akan berlangsung nyaman. Bila memulai dengan salah, Anda harus bekerja ekstra keras untuk memenangkan perasaan, kepercayaan, dan keyakinan atasan serta rekan kerja Anda. Hal ini dapat dihindari.

Saat bergabung dengan perusahaan baru, Anda akan diperhatikan banyak pihak. Perhatian itu dilakukan dengan berbagai motivasi.

  • Pimpinan baru akan menilai kecakapan dan sikap Anda.
  • Teman baru ingin tahu apakah Anda patut disambut dengan hangat dan ramah dalam tim.
  • Anak buah Anda ingin kenal siapakah orang baru yang akan mereka “patuhi” selama beberapa waktu ke depan.

Berikut beberapa tips untuk menolong Anda memulai minggu pertama di tempat kerja baru dengan cara yang benar.

1. Tepat Waktu
Poin ini sering disebut dan tampak klise. Tapi yakinlah, sebenarnya hal ini tidak klise. Suka atau tidak, seorang pemimpin pasti memperhatikan pukul berapa Anda tiba di kantor, khususnya selama beberapa minggu pertama Anda bekerja.
Datang di kantor tepat waktu dalam beberapa hari pertama menunjukkan bahwa Anda:

  • antusias dan serius dengan pekerjaan.
  • menghargai sebagai orang terpilih di antara pelamar lainnya.
  • dapat mengatur waktu, maka Anda pun pasti dapat mengatur diri sendiri.
  • bersikap profesional dalam bekerja.

Ingatlah, atasan baru Anda sedang mengawasi Anda. Memeriksa dan memperhatikan apakah ia telah memilih orang yang tepat. Bawahan Anda juga memperhatikan seberapa disiplin atasan baru mereka.
Jadi, untuk menarik perhatian, tepat waktulah dalam minggu pertama di tempat kerja Anda yang baru.

2. Mendengar dan Perhatian
Di banyak perusahaan, beberapa hari pertama kerja ada masa orientasi untuk menolong Anda terbiasa dengan kantor baru. Informasi yang diberikan biasanya meliputi:

  • Sejarah/profil perusahaan.
  • Visi dan misi perusahaan.
  • Dasar-dasar bisnis perusahaan.
  • Cabang dan bagian-bagian perusahaan.
  • Siapa dan siapa (nama-nana orang penting dan jabatannya).
  • Sistem perusahaan dan prosedur yang berlaku.
  • Tugas dan tanggung jawab pekerjaan Anda.
  • Bisnis perusahaan, klien, dan lain-lain.

Mendengarlah sesering mungkin dan berikanlah perhatian selama pertemuan berlangsung dengan:

  • Menunjukkan ketertarikan
  • Membuat catatan
  • Klarifikasi
  • Bertanya. Apa pun yang Anda lakukan, jangan pernah tertidur selama presentasi berlangsung!
  • Setelah presentasi, ingatlah poin-poin penting yang telah dibahas.

Harus Anda perhatikan dan ingat bahwa para pemimpin menyukai pegawai yang antusias, bekerja cekatan, cepat beradaptasi dan dapat mengingat orang-orang penting anggota organisasi/perusahaan.

3. Mengadakan Observasi
Selama satu minggu pertama, ketika orang-orang memperhatikan Anda, Anda juga harus memperhatikan orang lain. Lakukan observasi yang meliputi:

  • Kode etik bisnis perushaan. Anda tentu tidak ingin terlibat dalam perusahaan yang menipu klien atau melakukan bisnis ilegal.
  • Pimpinan Anda. Nilai-nilai prinsipil, sifat dan karakternya, apa yang disukai dan tidak disukai, prioritasnya. Jika mungkin, pahami filosofinya tentang hidup dan bisnis.
  • Anak buah Anda. Dalam keseharian siapa yang biasa memimpin mereka. Apakah mereka mendukung atau melawan menejemen perusahaan? Mengapa begitu?
  • Di mana kekuatan utama perusahaan? Divisi marketing, keuangan atau lainnya?
  • Siapa saja yang punya wewenang/kuasa di perushaan?
  • Siapa orang-orang atau siapa yang pendapatnya sangat berpengaruh dalam pembuatan keputusan?
  • Informasi apa saja yang beredar di perusahaan? Anda harus mengerti link kekuatan komunikasi informal.

Dengan kata lain, observasi dan temukanlah siapa saja pembuat “pergerakan” dan “pengguncang” (kehebohan dan manuver). Informasi seperti ini akan memberitahukan banyak tentang perusahaan dan kehidupan perusahaan selanjutnya.

Jadi, dalam beberapa minggu pertama di tempat baru akan menjadi hari-hari sibuk bagi Anda. Anda harus beradaptasi dengan pemimpin, rekan kerja, dan anak buah baru. Dalam hal ini penting untuk tetap bersikap tenang dan jangan menunjukkan temperamen yang sombong.

James Gwee T.H., MBA
Trainer & Seminar Speaker

Minggu, Mei 24, 2009

Artikel Pengembangan SDM : PEGAWAI PROFESIONAL


Barangkali salah satu istilah yang paling luas digunakan dalam dunia kerja adalah ”profesional”.Hampir semua dari kita pernah mengucapkan kata ini.

Kita sering melihat poster di dinding kantor, baik swasta maupun pemerintah, yang menyerukan sikap profesional. Bahkan, tak canggung kita menyebut diri sendiri sebagai seorang profesional pula. Definisi paling gampang dan sederhana dari ”profesional” adalah ”bukan amatir”.

Karena mendapat imbalan, seorang profesional harus bekerja sebaik- baiknya. Seorang dibilang amatir bila melakukan sesuatu hanya untuk main-main atau iseng. Seorang profesional menggantungkan penghidupan dari hasil kerjanya. Profesional membuat sesuatu yang rumit menjadi lebih sederhana, bukan sebaliknya.

Bila menemukan sesuatu yang rumit,jangan berhenti atau putus asa.Terus berusaha sehingga apa yang dianggap rumit menjadi sederhana. Dibutuhkan waktu dan latihan sehingga sesuatu tersebut kelihatan menjadi sederhana. Siapa pun boleh-boleh saja mengklaim dirinya profesional,namun menjadi profesional tidak semudah itu.Perlu kerja lebih keras dan wajib memiliki sejumlah syarat, baik teknis maupun nonteknis.

Misalnya watak dan karakter.Hanya, sehebat atau sepintar apa pun seorang profesional, tetap memerlukan visi atau arah perjalanan perusahaan. Juga memerlukan kejelasan akan batasan kewenangan dan tanggung jawab sehingga berani membuat keputusan dan mencari solusi yang tepat. Presiden Direktur Semen Gresik Dwi Soetjipto menjelaskan, pegawai yang bekerja profesional harus terlebih dahulu menguasai pekerjaannya.

Atau minimal bisa memperlihatkan kinerja yang lebih baik dari rekan kerja lainnya. Dengan begitu, target yang dicapai pegawai sesuai dengan yang diharapkan perusahaan. ”Kinerja bisa menjadi parameter apakah seseorang profesional atau tidak,” tuturnya saat dihubungi Seputar Indonesia.

Pegawai yang profesional biasanya bisa memperlihatkan kerja yang lebih keras dalam melakukan aktivitas. Bukan hanya kuantitas, kualitas kerja yang diperlihatkan pegawai pun cenderung lebih baik dari pegawai biasa. Hal itu mustahil dilakukan apabila pegawai tidak melakukan kerja keras. Pegawai yang profesional juga harus memiliki tanggung jawab terhadap pekerjaan yang dipercayakan kepadanya.

Apa pun tugas yang menjadi tanggung jawab pegawai harus diselesaikan dengan paripurna. Jangan sampai ada tugas yang penyelesaiannya kurang maksimal. Terus belajar merupakan ciri lain dari pegawai profesional. Menurut Dwi, pegawai yang profesional selalu merasa memiliki pengetahuan yang terbatas.

Hal itulah yang kemudian memotivasi pegawai tersebut untuk terus belajar. Baik yang terkait dengan urusan perusahaan maupun kepentingan pribadi. Direktur Utama Modernland Tbk Edwin Lim menjelaskan,pegawai yang profesionalisme cenderung memiliki tiga W, yakni work smart,work hard,dan work done.Dengan sistem kerja seperti itu,tentunya pekerjaan bisa dilakukan dengan efektif dan efisien.

”Itulah yang cenderung membedakan antara pekerja profesional dengan bukan,”katanya. Hal itu timbul dari kesadaran seorang pekerja.Kemudian digabungkan dengan adanya ambisi dari pekerja tersebut untuk meningkatkan kualitasnya. Pegawai menyadari pada masa mendatang, persaingan dunia kerja semakin keras.

Kalau tidak memiliki sikap profesional,bukan tidak mungkin, kedudukan di perusahaan bukan tidak mungkin diganti pemilik perusahaan. Di sisi lain, sikap profesionalisme pegawai juga hadir dari dorongan perusahaan.Misalkan saja kesempatan yang diberikan perusahaan kepada pegawainya untuk mengikuti berbagai kursus keterampilan. Ada yang dibiayai oleh perusahaan,ada juga berdasarkan inisiatif pegawai tersebut.

Bahkan, terkadang ada perusahaan yang memberikan insentif lebih bagi pegawai yang bertindak profesional. Perusahaan menyadari kalau sebagian besar pegawai bekerja dengan profesional, maka produktivitas perusahaan menjadi semakin baik. ”Kalau tidak ada reward and punishment, pastinya pegawai menjadi enggan bersikap profesional,” ucapnya. Sikap profesional merupakan hal yang harus diperlihatkan pegawai.

Sebab, hal itu bisa menjadi pembuktian bagi seorang pegawai terhadap kerja yang diamanahkan kepadanya. Menurut Presdir PT Sari Husada Tbk Budi S Isman, di sisi lain,mengerjakan kerja secara profesional juga bisa membuka peluang lain bagi pegawai.Menurut Budi, pada prinsipnya pegawai cenderung mengklaim telah bekerja dengan profesional.

Padahal untuk menjadi profesional, pegawai tidak cukup hanya dengan rajin dan memiliki kedudukan yang bagus.Setidaknya ada dua hal yang mendukung pegawai untuk bisa bekerja dengan profesional, yakni sikap dan karakter dari pegawai tersebut. Tanpa kedua hal itu sepertinya mustahil bagi pekerja bisa meningkatkan kualitas kerjanya.

”Sikap dan karakter merupakan hal utama bagi pegawai untuk bisa profesional di bidangnya,” ucapnya. Pegawai yang profesional senantiasa mampu bekerja keras untuk menyelesaikan pekerjaannya. Selain mampu bekerja secara mandiri, pegawai profesional juga mampu bekerja sama untuk mencapai tujuan-tujuan yang hendak dicapai.

Dalam bekerja,senantiasa dilandasi oleh nilai-nilai kejujuran dan moral positif.Untuk itulah,pegawai profesional harus memiliki integritas yang tinggi. Dia berkeyakinan sikap profesional cenderung diciptakan, baik karena kesadaran pribadi maupun tuntutan pekerjaan.

Atas dasar itulah, pegawai sebaiknya terusmenerus menggali kemampuannya dengan belajar.Penggalian potensi dan bakat tersebut tentunya bisa membawa pegawai ke jabatan struktural yang lebih tinggi.Selain itu,tanggung jawab yang diberikan perusahaan juga diselesaikan dengan baik.

Sementara, Presiden Direktur Indomobil Gunadi Sindhuwinata menyebutkan, profesionalisme tidak hanya mengenai kompetensi. Melainkan juga mengenai dedikasi dan moral.”Kompetensi bisa dipelajari dengan cepat. Sementara dedikasi dan moral cenderung sulit dipraktikkan dengan mudah,” katanya.

Dalam bekerja,harus senantiasa dilandasi nilai-nilai kejujuran dan moral positif. Untuk itulah, pegawai profesional harus memiliki integritas yang tinggi. Dengan integritas, pegawai tidak akan tergoda melakukan sesuatu yang dapat merusak moral dan nama baik pribadi ataupun perusahaan.

Karena itulah, untuk menjadi profesional,tidak cukup hanya dengan ahli dan pandai dalam pekerjaan, tetapi juga harus didukung moral dan akhlak yang positif. (hermansah)

Referensi : Media Seputar Indonesia, Monday, 18 May 2009

Kamis, Mei 21, 2009

Pengembangan SDM : KECERDASAN SPIRITUAL dan Pengaruhnya terhadap KINERJA KARYAWAN dan ORGANISASI


APA yang dimaksudkan dengan kecerdasan spiritual dan apa bedanya dengan kecerdasan intelektual maupun kecerdasan emosi? IQ,EQ dan SQ adalah tiga istilah yang sudah cukup dikenal,terutama di kalangan praktisi dan spesialis pengembangan sumber daya manusia.

Istilah pertama yaitu Intellectual Quotient atau IQ menggambarkan kapasitas seseorang untuk melakukan kegiatan mental seperti berpikir, mencari penjelasan, dan memecahkan masalah secara logis. Berdasarkan hasil tes IQ, dapat ditentukan kemampuan seorang karyawan yang terkait dengan angka, kata-kata, visualisasi, daya ingat, penjelasan deduktifinduktif, dan kecepatan memersepsikan sesuatu.

Dengan mengetahui dalam hal apa seorang karyawan memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi,maka perusahaan dapat menempatkan karyawan tersebut pada posisi atau pekerjaan yang sesuai. Istilah kedua yaitu Emotional Quotient atau EQ yang diperkenalkan oleh Daniel Goleman di sekitar pertengahan tahun 1990-an menjelaskan kemampuan seseorang untuk mendeteksi dan mengelola emosi.

Menurut Goleman, ada empat level kecerdasan emosi. Level pertama adalah self awareness atau kesadaran diri. Pada tahap ini, seorang karyawan dapat mengenal dan memahami emosi, kekuatan dan kelemahan, nilai-nilai serta motivasi dirinya.Pada level kedua, yaitu self management atau kelola diri,karyawan tidak hanya mampu mengenal dan memahami emosinya, juga mampu mengelola, mengendalikan dan mengarahkannya.

Karyawan yang memiliki kemampuan kelola diri yang baik secara rutin melakukan evaluasi diri setelah menghadapi keberhasilan maupun kesuksesan dan mampu mempertahankan motivasi dan perilaku kerjanya untuk menghasilkan kinerja yang baik.

Pada level ketiga yang disebut social awareness atau kesadaran sosial, karyawan sudah mampu berempati, yaitu peka terhadap perasaan, pemikiran, dan situasi yang dihadapi orang lain. Kecerdasan emosi memampukan kita untuk menyadari dan memahami perasaan sendiri dan orang lain, memampukan kita menilai suatu situasi dan bertindak sesuai dengan situasi yang dihadapi.

Dan pada level yang tertinggi yaitu relationship management atau kelola hubungan, seorang karyawan mampu mengendalikan dan mengarahkan emosi orang lain. Karyawan tersebut mampu menginspirasi orang lain,memengaruhi perasaan dan keyakinan orang lain, mengembangkan kapabilitas orang lain, mengatasi konflik, membina hubungan, dan membentuk kerja sama yang menguntungkan semua pihak.

Istilah yang ketiga yaitu Spiritual Quotient atau SQ diyakini merupakan tingkatan tertinggi dari kecerdasan,yang digunakan untuk menghasilkan arti (meaning) dan nilai (value). Dua jenis kecerdasan yang disebutkan pertama,yaitu IQ dan EQ, merupakan bagian yang terintegrasi dari SQ.

Mengacu pada teori motivasi yang dikemukakan Maslow, kecerdasan spiritual terkait dengan aktualisasi diri atau pemenuhan tujuan hidup,yang merupakan tingkatan motivasi yang tertinggi. Kecerdasan spiritual yang tinggi ditandai dengan adanya pertumbuhan dan transformasi pada diri seseorang, tercapainya kehidupan yang berimbang antara karier/pekerjaan dan pribadi/keluarga, serta adanya perasaan suka cita serta puas yang diwujudkan dalam bentuk menghasilkan kontribusi yang positif dan berbagi kebahagiaan kepada lingkungan.

SQ walaupun mengandung kata spiritual tidak selalu terkait dengan kepercayaan atau agama.SQ lebih kepada kebutuhan dan kemampuan manusia untuk menemukan arti dan menghasilkan nilai melalui pengalaman yang mereka hadapi.

Akan tetapi, beberapa penelitian menunjukkan bahwa seseorang yang memiliki kepercayaan atau menjalankan agama,umumnya memiliki tingkat kecerdasan spiritual yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki kepercayaan atau tidak menjalankan agama.

Seperti misalnya penelitian yang dilakukan Harold G Koenig dan kawan-kawan yang telah dipublikasikan Oxford University Press dalam bentuk buku berjudul Handbook of Religion and Health. Penelitian yang mereka lakukan menemukan bahwa di setiap tingkatan pendidikan dan usia, orang yang pergi ke rumah ibadah, berdoa dan membaca kitab suci secara rutin, ternyata hidup lebih lama sekitar tujuh hingga 14 tahun dan memiliki kesehatan fisik yang lebih baik dibandingkan dengan orang yang tidak menjalankan ritual keagamaan.

Seperti apakah peran SQ di tempat kerja? Karyawan dengan SQ yang tinggi biasanya akan lebih cepat mengalami pemulihan dari suatu penyakit, baik secara fisik maupun mental. Ia lebih mudah bangkit dari suatu kejatuhan atau penderitaan, lebih tahan menghadapi stres, lebih mudah melihat peluang karena memiliki sikap mental positif,serta lebih ceria, bahagia dan merasa puas dalam menjalani kehidupan.

Berbeda dengan karyawan yang memiliki SQ rendah. Pada orang dengan SQ rendah,keberhasilan dalam hal karier, pekerjaan, penghasilan, status dan masih banyak lagi hal-hal yang bersifat materi ternyata tidak selalu mampu membuatnya bahagia. Persaingan dan perbedaan kepentingan yang berlangsung begitu ketat sering kali membuat manusia kehilangan arah dan identitas.

Perubahan teknologi yang pesat menghasilkan tekanan yang begitu besar, yang terkadang membutakan manusia dengan kecerdasan spiritual rendah dalam menjalani visi dan misi hidupnya, membuat ia lupa melakukan refleksi diri dan lupa menjalankan perannya sebagai bagian dari komunitas.Kesibukan kerja dan keberhasilan yang dicapai tidak diamalkannya untuk penciptaan arti dan nilai bagi lingkungan.
Bagaimana membentuk kecerdasan spiritual yang tinggi di tempat kerja ? Manusia memiliki pikiran dan roh, ingin mencari arti dan tujuan, berhubungan dengan orang lain dan menjadi bagian dari komunitas. Oleh karenanya,organisasi perlu membentuk budaya spiritualitas di lingkungan kerja.

Organisasi yang bersifat spiritual membantu karyawannya untuk mengembangkan dan mencapai potensi penuh dari dirinya (aktualisasi diri). Robbins & Judge dalam bukunya yang berjudul Organizational Behavior menyebutkan budaya spiritualitas yang perlu dibentuk adalah:

● Strong sense of purpose.Meskipun pencapaian keuntungan itu penting, tetapi hal itu tidak menjadi nilai utama dari suatu organisasi dengan budaya spiritual.Karyawan membutuhkan adanya tujuan perusahaan yang lebih bernilai, yang biasanya dinyatakan dalam bentuk visi dan misi organisasi.

● Trust and respect.Organisasi dengan budaya spiritual senantiasa memastikan terciptanya kondisi saling percaya, adanya keterbukaan dan kejujuran. Salah satunya dalam bentuk manajer dan karyawan tidak takut untuk melakukan dan mengakui kesalahan.

● Humanistic work practices. Jam kerja yang fleksibel,penghargaan berdasarkan kerja tim,mempersempit perbedaan status dan imbal jasa, adanya jaminan terhadap hak-hak individu pekerja, kemampuan karyawan, dan keamanan kerja merupakan bentuk-bentuk praktik manajemen sumber daya manusia yang bersifat spiritual.

● Toleration of employee expression. Organisasi dengan budaya spiritual memiliki toleransi yang tinggi terhadap bentuk-bentuk ekspresi emosi karyawan. Humor, spontanitas, keceriaan di tempat kerja tidak dibatasi. Saat ini sudah cukup banyak perusahaan yang menerapkan budaya spiritualitas di tempat kerja.

Bahkan,ada perusahaan yang mendorong dan mengizinkan setiap karyawan untuk menyediakan satu persen dari waktu kerjanya untuk melakukan pekerjaan sukarela bagi pengembangan komunitas, seperti: membagikan makanan kepada para tunawisma, kerja bakti membersihkan taman umum,mendirikan perpustakaan atau rumah baca untuk anak-anak jalanan,dan memberi bantuan bagi korban bencana alam.

Southwest Airlines adalah contoh sukses sebuah organisasi spiritual.Pembentukan budaya spiritual di Southwest Airlines telah membuat perusahaan itu menjadi salah satu perusahaan penerbangan dengan turn over terendah, secara konsisten memiliki biaya tenaga kerja terendah per jarak penerbangan, secara tetap mencatat waktu tiba yang lebih cepat dan tingkat komplain yang lebih rendah dibandingkan pesaingnya, dan terbukti merupakan perusahaan penerbangan yang paling konsisten dalam hal keuntungan di industri penerbangan Amerika Serikat.

Dengan terbentuknya budaya spiritualitas di tempat kerja, diharapkan akan terbentuk karyawan yang happy, tahu dan mampu memenuhi tujuan hidup. Karyawan yang demikian umumnya memiliki hidup yang seimbang antara kerja dan pribadi,antara tugas dan pelayanan.

Pada umumnya,mereka juga memiliki kinerja yang lebih tinggi. Hasil penelitian yang dilakukan sebuah perusahaan konsultan besar, penerapan lingkungan kerja yang spiritual meningkatkan produktivitas dan menurunkan turn over.

Studi lainnya menunjukkan, karyawan yang kecerdasan spiritualnya tinggi dan didukung lingkungan kerja yang juga spiritual, secara positif menjadi lebih kreatif, memiliki kepuasan kerja yang tinggi, mampu bekerja dengan baik secara tim, dan memiliki komitmen yang tinggi terhadap organisasi.

Eva Hotnaidah Saragih Manajer Pembinaan & Penempatan Sekolah Tinggi Manajemen PPM


Referensi : Media Seputar Indonesia, Monday, 18 May 2009

Pengembangan SDM : Ciptakan Atmosfer Kerja lewat Desain Ruang

DEMI menciptakan atmosfer kerja yang nyaman bagi karyawannya, perusahaan mendesain ruang kantor dengan gaya inspiratif.Hal tersebut diyakini dapat memicu motivasi sekaligus inovasi karyawan.

Kantor yang nyaman, asri, dengan tampilan yang tidak monoton, tentu harapan setiap karyawan. Desain kantor seperti ini, dimaksudkan dapat mendongkrak semangat kerja karyawan sehingga mereka akan lebih produktif dalam bekerja dengan didukung kreativitas yang tidak terbatas.

Karenanya, beberapa perusahaan, mengeluarkan anggaran khusus untuk menghadirkan kesan berbeda di perkantorannya. Seperti desain kantor yang diterapkan PT Nutrifood Indonesia. Perkantoran yang berlokasi di kawasan industri Pulo Gadung ini, menekankan desain yang bersifat terbuka.

Hal ini terlihat dari ruang pertemuan maupun ruang kerja yang tidak dibatasi dengan kehadiran pintu. Ruangan pun menjadi lebih lapang, tanpa kehadiran sekat yang dianggap dapat menghambat kelancaran aktivitas berkomunikasi sesama karyawan. Di samping tidak ada pintu dan sekat, beberapa ruangan tampil terbuka dengan kaca-kaca transparan sebagai pengganti dinding.

Tidak seperti ruangan meeting pada umumnya,di PT Nutrifood Indonesia, juga disediakan ruangan meeting dengan konsep lesehan, yang membuat suasana rapat tidak kaku dan lebih akrab. Uniknya, di setiap ruangan dibuat tema yang berbeda.Ruangan tersebut dibedakan dari warna yang dipergunakan untuk dinding maupun konsep ruangan itu sendiri.

Sebut saja di ruangan divisi marketing communication yang menggunakan nuansa oranye.“Warna ini dipilih untuk menciptakan kesan ceria, dan agar memunculkan kreativitas yang bekerja di dalamnya,” ujar Public Relation PT Nutrifood Indonesia Arninta Puspitasari. Sementara warna cokelat tanah, putih dan krem diaplikasikan pada ruangan meeting.

Menurut Ninta, warna-warna tersebut memunculkan kesan homy dan membuat proses brainstroming lebih segar dan efektif. Tampaknya perusahaan ini benar-benar ingin membuat karyawannya betah bekerja dan sekaligus memanjakan mereka. Tak heran, gedung perkantoran ini dilengkapi dengan fasilitas kebugaran dengan sarana yang memadai.

Di Gym tersebut ada beberapa alat fitnes seperti angkat beban, alat untuk melatih otot perut dan punggung, treadmill, serta sepeda statis.Para karyawan dapat menggunakan fasilitas ini kala jam kerja telah usai.Bagi karyawan yang memiliki waktu senggang, dapat menghabiskan waktu di perpustakaan yang tersedia, dengan koleksi buku yang cukup lengkap. Kantin pun dibuat dengan konsep interior yang berbeda.

Kantin ini menggunakan warna-warna berkesan ceria.Karena bergerak di bidang produk makanan sehat,perusahaan ini pun hanya menyajikan menu makanan sehat. Dan bagi karyawan yang ingin mengetahui informasi mengenai seputar nutrisi, di kantin terdapat papan informasi yang memuat tentang itu. Dengan perancangan kantor yang apik,Ninta menganggap kantornya sebagai rumah kedua.

“Begitu masuk saja, sudah terasa nyaman. Gimana enggak betah di kantor?”kata Ninta. Pendapat yang sama juga dilontarkan Manajer PR PT Excelcomindo Pratama Tbk Febriati Nadira.Menurut dia,desain kantor di gedung yang baru ini, lebih baik dan semakin nyaman. Mengusung konsep minimalis,furniturgedung perkantoran yang beralamat di kawasan Mega Kuningan ini,ditata dengan apik dan teratur.

Ruangan pun lebih nyaman dan sehat serta meninggalkan kesan bersih. Perkantoran yang menggunakan warna biru sebagai corporate color pada seluruh dinding ini,menawarkan pemandangan hijau di bagian luar.Yang lebih menarik, dengan pandangan luas karyawan dapat puas melihat suasana luar di sekitar kawasan Mega Kuningan maupun Sudirman.

“Jadi kalau lagi suntuk tinggal melihat keluar, banyak pepohonan dan gedunggedung yang ada di sekitar ini.Bisa fresh lagi,”kata Febriati. Konsep open plan office,juga diusung oleh PT Intiland Development.

Perusahaan ini tidak hanya ingin membuat ruang perkantoran yang bagus,juga dapat meningkatkan produktivitas kerja,teamwork, kenyamanan karyawan, serta penerapan teknologi informasi khususnya komunikasi data. Menurut Project Director PT Intiland Development Permadi Indra Yoga,konsep openplanofficedapatmemaksimalkan pemanfaatan cahaya alami hampir ke semua area kerja.

Semua karyawan bukan hanya dapat melihat pergantian waktu dari pagi hingga sore — yang menurut penelitian dapat meningkatkan produktivitas —tetapi juga dapat melihat viewkotayangsebelumnya hanya bisa dinikmatiparapimpinanperusahaan saja.Jelas cara ini juga dapat menghemat pemakaian energi listrik juga.

Penggunaan banyak kaca sebagai partisi menciptakan ruangruang tembus pandang yang dapat mengurangi privasi direktur hingga karyawan dalam bekerja.Untuk itu PT Intiland Development menyiapkan hub-hub meeting room kecil yang dilengkapi dengan komputer kerja agar bisa digunakan juga oleh karyawan yang membutuhkan privasi supaya dapat bekerja dengan tenang dan lebih konsentrasi.

Dari desain interior kantor yang berlokasi di Wisma Dharmala Sakti ini, terlihat bersih dan lapang. Tampilan desain ini disebabkan minimnya penggunaan dinding penyekat ruangan dan dinding ruangan yang didesain berwarna putih terang. Sedangkan untuk kaca jendelanya menggunakan warna yang transparan.

Tampilan ini membuat suasana ruangan kantor semakin terang dan hangat pada siang harinya. Corporate colour, yakni merah dan oranye tetap dipergunakan sebagai aksen di pintu dan partisi kaca maupun ruang-ruang rapat.Warna merah memberi dampak dinamis, sensual,dan mewah.

Warna ini cenderung mendatangkan energi,aktif, suasana hangat, dan komunikatif, optimis,antusias,dan bersemangat. Baik Ninta, Febriati maupun Yoga berpendapat, desain perkantoran yang inspiratif di kantor masingmasing, membuat semangat kerja menjadi lebih terpacu dan sangat cozy.(sri noviarni/hermansah)

Referensi : Media Seputar Indonesia, Monday, 18 May 2009

Pengembangan SDM : Ruang Kerja Tingkatkan Semangat Karyawan

RUANG perkantoran dapat memberi andil penting bagi karyawan untuk menemukan daya kreatifnya. Ini dapat diterapkan dari arsitektur gedung, perabotan, warna maupun pandangan luar yang dapat dilihat dari jendela.

Hal ini dibenarkan Praktisi Human Resources Department (HRD) Akhmad Guntar. Menurut dia, dengan menciptakan atmosfer dan lingkungan kerja yang kreatif,maka karyawan menjadi lebih bahagia dan sangat kondusif untuk berpikir kreatif.“Sayangnya masih banyak karyawan yang memandang tempat kerja mereka sebagai pendatang stres dan kesengsaraan.”

Padahal iklim kerja yang kondusif dan sarat dengan nuansa yang berkesan ceria,juga dapat menjadi pemicu motivasi serta produktivitas karyawan.“Hal ini tentu mendatangkan keuntungan juga bagi perusahaan,” papar pria yang berprofesi sebagai konsultan sekaligus trainer ini.

Menurut Guntar, lazimnya perusahaan yang sangat memperhatikan konsep desain interior untuk kreativitas karyawannya adalah perusahaan yang bergerak di bidang teknologi. Guntar mencontohkan,perusahaan besar seperti Google misalnya. Google meyakini pentingnya kreativitas karyawan yang dapat ditingkatkan dengan desain kantor yang mendukung.

Terbukti, di Googleplex,perusahaan memberikan fasilitas yang cukup memadai. Fasilitas ini bukan hanya dimaksudkan untuk kelancaran pekerjaan, juga memberikan keleluasaan bagi karyawan untuk bersantai sejenak. Misalnya dengan kehadiran meja biliar. Mereka pun mempunyai papan gagasan dengan ukuran yang cukup besar.

“Tujuannya untuk menampung aspirasi karyawan. Ini bisa membuat karyawan semangat untuk melontarkan gagasan segar setiap saat,”sebut Guntar. Di samping itu,Google juga memiliki kolam renang berukuran mini. Lain lagi dengan Sun Microsystem.

Dalam upaya untuk mengintensifkan kolaborasi dan interaksi informal para staf, perusahaan vendor komputer ini, merancang ulang area koridor dan dapur, dua tempat di mana para staf sering melakukan diskusi produktif.

Sementara bagi karyawan yang lebih menyukai bekerja di luar, disediakan beberapa bangku dan meja yang ergonomis. Jika perusahaan ingin mengubah tata letak ruang perkantorannya, menurut Guntar,ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan terlebih dahulu.

Salah satunya perusahaan sebaiknya menyiapkan investasi khusus untuk perubahan itu.Namun,Guntar mengingatkan, perusahaan tidak perlu mengeluarkan biaya yang tinggi. “Terkait untuk ruang kreatif, cukup beri saja kebebasan bagi para karyawan untuk menata sendiri meja atau ruang kerjanya sesuai dengan gaya yang dia anggap paling kondusif untuk berpikir kreatif,”kata Guntar. (sri noviarni)

Referensi : Media Seputar Indonesia, Monday, 18 May 2009

Pengembangan SDM ; 3 Kriteria Pegawai Profesional

PENGAMAT HRD Yodhia Antariksa mengatakan, pegawai yang profesional adalah pegawai yang memiliki tanggung jawab tinggi terhadap tugas dan sasaran kinerja yang diberikan kepadanya.

Pegawai itu memiliki dedikasi dan niatan yang ikhlas untuk menuntaskan segenap tugas yang diamanatkan pada dirinya. Pegawai yang profesional dicirikan tiga kriteria utama. Pertama, selalu memiliki motivasi kerja untuk meraih hasil terbaik dalam setiap pekerjaannya.

Kedua, pegawai profesional adalah mereka juga yang selalu memiliki spirit of learning yang solid untuk mengembangkan kompetensi dirinya. Ketiga yakni profesionalisme pegawai juga ditandai dengan etika kerja yang kuat dan integritas diri yang mulia.

Dengan bekerja profesional, pegawai tersebut akan berkembang baik dalam aspek kompetensi dirinya ataupun aspek spiritualitasnya. Dengan profesionalisme kerja, sang pegawai akan selalu bisa mendapatkan kesempatan untuk melakukan rangkaian tugas yang makin menantang dan juga dengan tanggung jawab yang kian luas.

Dengan cara ini, maka pengalaman dan kompetensi pegawai juga otomatis akan terus bisa berkembang sejalan dengan tugas yang makin meluas. Dari sisi spiritualitas, pegawai yang profesional juga akan makin berkembang. Sebab, pegawai yang profesional memandang tugasnya sebagai salah satu bentuk ibadah—sebagai salah satu bentuk pengabdian kepada Sang Pencipta.

Dengan mengerjakan tugasnya secara profesional, otomatis juga akan mendapatkan ruang untuk terus memperteguh spiritualitas dirinya. Yodhia menyebutkan, yang lebih penting adalah bagaimana perusahaan bisa membangun kultur di mana profesionalisme bisa terus berkembang.

Tentu di sini insentif memegang peranan, dalam arti berperan sebagai reward agar setiap pegawai bisa terus terpacu memberikan yang terbaik. Namun ini saja tidak cukup. (hermansah)

Referensi : Media Seputar Indonesia, Monday, 18 May 2009