Tampilkan postingan dengan label Pengembangan Diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengembangan Diri. Tampilkan semua postingan

Selasa, September 29, 2009

Pengembangan Diri : The Power Adversity

Kekuatan Daya Tahan
Semangat membangun kekuatan, harapan memupuk ketabahan
Kita semua menginginkan situasi yang menyenangkan. Kita merasa aman di zona nyaman. Dimana semua harapan terpenuhi. Kita memimpikan kehidupan seperti di taman bunga yang indah. Tapi ternyata hidup tidak seindah impian kita.
Malang tak dapat ditolak dan untung tak dapat diraih. Semua orang menginginkan keuntungan. Namun tidak semua yang berhasil mendapat untung. Lebih sedikit lagi orang yang mampu mengubah kesulitan menjadi keuntungan. Cara pandang kita terhadap kesulitan menentukan bagaimana hasil akhirnya.
Masalah dan kesulitan bisa datang silih berganti. Tapi sikap dan respon kita ketika menghadapi masalah sangat mempengaruhi kemampuan kita untuk menanggungnya. Kita akan mudah merasa tak berdaya, stress, frustrasi bahkan putus asa jika kita menjadi emosional dan kehilangan akal sehat.
Burung rajawali memanfaatkan badai untuk terbang. Tekanan justru mengangkatnya lebih tinggi. Melalui kesulitan dan badai mereka bertumbuh dan mempertahankan hidupnya.

Realita Mengenai Tekanan Hidup
  1. Tekanan tidak melebihi kemampuan kita
  2. Tekanan pasti akan berakhir
  3. Tekanan menumbuhkan kekuatan
  4. Tekanan adalah kesempatan untuk mengembangkan diri

Kemampuan untuk Mengembangkan Daya Tahan
Daya tahan adalah kemampuan untuk menanggung kesusahan tanpa menyerah. Untuk tetap teguh dalam penderitaan atau kemalangan dengan tidak bersungut-sungut. Karena rasa kecewa dan persungutan hanya memerosotkan motivasi dan kekuatan diri. Jika kita memiliki daya tahan, kita memiliki ketabahan untuk mempertahankan stamina dan keseimbangan fisik, mental maupun rohani. Ketabahan membawa kita menjadi lebih dekat pada tujuan dan sasaran yang ingin dicapai.
Daya dibangun dari 4 kemampuan yang terdiri atas :
1. Kemampuan untuk Mengendalikan Masalah
Masalah bagaikan gelombang yang datang bergulung dan menghantam pantai. Namun para penggemar surfing justru mencari tempat-tempat luar biasa di penjuru dunia untuk bisa ”mengendarai ombak”. Mereka menggunakan keberanian dan keahlian yang dimiliki agar tetap berada di permukaan air.
Sikap reaktif membuat kita sulit mengendalikan masalah, karena dipicu oleh emosi dan asumsi. Tapi dengan bersikap tenang kita dapat memilah-milah persoalan secara cermat. Kita sebaiknya tidak mencari-cari kesulitan, namun janganlah lari jika menghadapi masalah. Tapi hadapilah dengan sikap responsif dan kondusif.

2. Kemampuan untuk Menemukan Akar Masalah

Sebuah pohon yang ditebang akan kembali tumbuh jika akarnya masih ada. Suatu masalah akan terus timbul jika akarnya tidak ditemukan dan diselesaikan. Masalah bisa bersumber dari internal pribadi atau dari hal-hal yang sifatnya eksternal.
Namun kecenderungan untuk hanya mempersalahkan situasi atau orang lain, membuat kita sulit introspeksi diri dan bersikap waspada. Sebaliknya evaluasi diri dan mengakui titik kritis yang dimiliki, membuat kita cepat menyelesaikan masalah.

3. Kemampuan untuk Membatasi Jangkauan Pengaruh Masalah
Kita belajar dari bencana lumpur Lapindo. Meskipun belum dapat teratasi secara sempurna, namun tindakan awal yang dapat dilakukan adalah menahan luapan lumpur. Tanggul-tanggul dibangun untuk membatasi jangkauan lumpur tersebut.
Demikian pula dengan masalah yang dihadapi. Soal pribadi jangan melibatkan masalah umum atau kelompok. Masalah kantor sebaiknya tidak terkait dengan urusan keluarga dan sebaliknya. Dengan kemampuan bersikap tegas dengan menitikberatkan pada nilai-nilai, kita mampu membendung pengaruh masalah tersebut.

4. Kemampuan untuk Bertahan dan Menanggung Masalah
Ada keunikan dari burung bangau. Kakinya sangat kurus dan panjang. Namun jangan diremehkan, karena bangau sanggup berdiri satu kaki selama berjam-jam. Kita mungkin dengan mudah bisa berdiri dengan kaki sebelah. Tapi berapa lama?
Adversity tidak hanya dibangun dari seberapa besar masalah yang dihadapi tapi berapa lama kita sanggup untuk bertahan. Kesabaran dan ketekunan membuat kita lebih tangguh. Sedangkan sahabat, keluarga dan orang-orang sekitar kita akan menolong dan menghibur kita untuk bersikap tabah menghadapi masalah.


The Word of Wisdom
Kesuksesan tidak hanya diraih dengan kehebatan tapi juga ketabahan

sumber : beritanet.com

Pengembangan Diri : Correcting The Mistake

Respons untuk Memperbaiki Kesalahan
Kesalahan bisa terjadi karena kelalaian diri sendiri ataupun faktor luar. Namun, selalu tersedia banyak kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Banyak hal yang fatal terjadi bukan ketika kesalahan dilakukan, tapi justru karena respons kita yang keliru. Panik, takut, bingung, mencari kambing hitam atau berusaha membela diri dan menutup-nutupi kesalahan. Semua itu tidak menyelesaikan masalah bahkan membuat situasi menjadi lebih buruk lagi.
Sebaliknya, diperlukan titik balik untuk mengubah pandangan kita terhadap kesalahan. Kesalahan bukanlah akhir dari segalanya, tapi bisa menjadi pijakan untuk permulaan baru. Kuncinya adalah kebesaran jiwa untuk mengakui kesalahan dan kerendahan hati untuk memperbaikinya.
1. Menerima Koreksi
Kita punya sepasang mata untuk melihat. Tapi semua tatapan orang tertuju pada diri kita, mereka melihat lebih baik. Artinya koreksi efektif berasal dari orang lain. Koreksi tidak selalu menyenangkan. Sering kali muka kita jadi merah saat dikoreksi. Seharusnya kita bersyukur karena ada orang yang mau peduli dan memberi masukan.
Tiap orang mungkin memiliki cara yang berbeda saat memberi koreksi atau input. Sebaiknya koreksi diterima dengan hati lapang. Namun kita juga perlu menyaring setiap koreksi apakah benar relevan dan bermanfaat.
2. Mengakui Kesalahan
Tak seorang pun yang luput dari sikap khilaf dan alpa. Kita pasti pernah membuat kesalahan. Tapi tidak semua orang mau mengakui kesalahan yang telah dibuatnya. Menutupi kesalahan seperti menyimpan bara dalam sekam. Suatu ketika pasti terbakar.
Banyak mitos keliru tentang kesalahan. Ada yang menganggapnya sebagai aib, tabu jika ketahuan salah. Sebagian merasa takut jika dihukum atau dihakimi. Namun, jika diakui secara terbuka dan obyektif, kesalahan dapat menjadi pembelajaran dan proses pengembangan karakter yang efektif.
3. Menemukan Titik Kritis
Banyak pemicu yang membuat sebuah kesalahan bisa terjadi. Titik dimana sering terjadi kesalahan disebut sebagai titik kritis. Titik orang bisa berasumsi, seakan-akan serupa padahal tak sama. Banyak keputusan keliru atau kesalahpahaman terjadi karena asumsi.
Titik kritis juga berarti kelemahan pribadi atau hal-hal yang perlu diwaspadai. Titik kritis tiap orang berbeda satu dengan yang lain. Ada yang pelupa, suka nekat, ragu-ragu, kuatir, apatis, mudah bosan, kurang inisiatif, perfeksionis, ceroboh dan lain-lain. Dengan menemukan titik kritis, kita bisa melakukan antisipasi untuk menghindari kesalahan.
4. Komitmen Perbaikan
Ada pepatah mengatakan, langkah terakhir menentukan. Tapi perbaikan perlu dilakukan sesegera mungkin, jangan tunggu saat terakhir baru mau berubah. Karena mungkin kesempatan sudah berlalu tanpa menunggu kita.
Langkah perbaikan membutuhkan komitmen, karena kita cenderung mengulang kesalahan yang sama. Jika kita bisa belajar dan memperbaiki kekurangan yang ada, maka kita memiliki pengalaman untuk tidak jatuh pada kegagalan yang sama.
5. Melakukan Restitusi
Restitusi sering kurang lazim dilakukan. Namun, ada proses pemulihan yang membutuhkan penggantian kerugian baik moral juga material. Jika ada pihak-pihak yang telah dirugikan, maka kita perlu melakukan restitusi.
Tapi, restitusi bukan berarti segalanya telah impas. Restitusi tidak menghapus kesalahan yang telah dibuat. Tapi lebih merupakan penggantian kerugian sepatutnya sebagai konsekuensi atas sebuah kesalahan.
The Word of Wisdom
Ketelitian menghindarkan kekeliruan
Koreksi mencegah kesalahan-kesalahan besar

sumber : beritanet.com

Pengembangan Diri : Imperfect Competition

Kita ingin lebih baik dari orang lain, tapi kita berpikir orang lain lebih baik dari kita,
lalu kita berpikir bagaimana agar keinginan kita bisa tercapai.

Persaingan Setua Umur Manusia
Persaingan diawali dengan naluri untuk menang. Yang menang akan berkuasa atas yang kalah. Pemenang mendapat lebih banyak, lebih baik dan lebih terhormat. Kemenangan selalu memberikan keutamaan.
Dalam situasi kompetisi yang sangat ketat saat ini, kita ditantang agar mampu untuk survive dan sukses. Prinsip konvensional untuk menang dan sukses adalah dengan mengalahkan para pesaing kita. Siapa kuat dia menang. Namun kondisi seperti ini menjadi semakin tidak kondusif. Ada pemenang dari sekian banyak yang kalah. Dan, yang kalah tentu tidak tinggal diam, tapi akan membuat perlawanan lagi.
Tanpa sadar akhirnya kita terjebak dalam situasi persaingan yang tidak sehat. Berbagai cara dihalalkan untuk berhasil. Karena itu harus disadari bahwa situasi ini hanya akan merugikan semua pihak. Persaingan yang tidak sehat memicu kebencian, dendam, kemarahan, dan akhirnya menimbulkan perpecahan.
Mengapa Terjadi?
Ketika raja Daud menjadi tua, maka tentu saja salah seorang dari anak-anaknya akan diangkat menjadi raja menggantikan ayah mereka. Berbagai intrik lalu terjadi. Hal ini sangat memilukan hati raja. Berawal dari sikap ambisi yang menghalalkan segala cara, persaingan yang tidak sehat segera memicu perang terbuka antar saudara.
Situasi persaingan bukan hanya melanda kalangan monarki, tapi juga ada di setiap lini kehidupan kita. Di tengah keluarga, sekolah, dunia kerja, bisnis, politik, bahkan di lingkungan keagamaan sekali pun, persaingan selalu hadir dengan wajah yang berbeda.
Masalah terjadi ketika persaingan berubah menjadi tidak sehat. Berbagai kendala dan kerugian segera menghadang. Nilai-nilai kebajikan terabaikan dan terinjak-injak. Bahkan hubungan menjadi bubar dan relasi jadi terisolasi. Sedangkan yang tersisa hanya kebencian dan perpecahan, ambisi dan kecurangan.
Indikasi Terjadinya Persaingan Tak Sehat
Persaingan bisa terjadi selama kita masih memiliki berbagai keinginan dan cita-cita. Keinginan bukan dosa. Cita-cita itu berguna dan perlu. Tetapi dapat seketika berubah menjadi bencana jika dipicu oleh situasi dan berbagai aspek yang tidak tepat. Indikasinya dapat segera diwaspadai dengan memahami situasi yang berlangsung.
Persaingan tidak sehat dipicu oleh 5 aspek berikut :
  • Dilandasi oleh motivasi yang keliru.
  • Diukur dengan penilaian dan persepsi yang salah.
  • Dilakukan dengan cara-cara atau trik yang tidak benar.
  • Diwarnai dengan sikap emosional, reaktif, impulsif, asumsi, dan prasangka.
  • Dampaknya negatif bagi semua pihak.
Karakter unggul untuk membangun kompetisi yang sehat
1. Respect
Sikap menghargai dimulai dengan belajar menghargai diri sendiri. Mengenal, menerima dan mengembangkan potensi pribadi membuat kita memiliki keyakinan atau self confidence yang kuat. Kita juga dapat menghargai kesuksesan orang lain yang lahir dari potensi, perjuangan dan ketekunan mereka. Sikap respek mendorong kita untuk berkompetisi secara sehat dan maksimal. Sedang dari sisi networking, kompetisi bahkan bisa diubah menjadi sinergi dengan win-win solution.
2. Fairness
Rasa keadilan selalu lahir dari integritas seseorang, dari hati nuraninya yang murni. Sedangkan kecurangan timbul karena sikap iri hati. Keadilan merupakan kompas atau jarum penunjuk bagi ” Do and Don’t ” sebuah kompetisi. Tanpa sikap fair, kita cenderung untuk mencari jalan pintas dengan menghalalkan segala cara. Akhirnya kita terjebak dalam persaingan yang tidak sehat.
3. Sportivity
Sportifitas berasal dari kata sport atau olah raga. Dalam dunia olah raga, kompetisi adalah mutlak. Dalam tiap pertandingan olah raga ada aturan main yang jelas dan harus ditaati oleh semua peserta. Memiliki sikap sportif berarti ada kebesaran hati untuk mengakui keunggulan orang lain, namun tetap rendah hati ketika kita mendahului mereka.

The Word of Wisdom
Respect, fairness and sportivity are the pillars of perfect competitions



sumber : beritanet.com


Rabu, Juni 03, 2009

Pengembangan Diri : The Power of Self Introspection

Mengapa Perlu Introspeksi

Sebuah kapal yang akan berlayar pasti membutuhkan petunjuk arah. Namun tak kalah pentingnya adalah selalu mengetahui posisi yang benar ketika di lautan lepas. Karena sedikit kekeliruan membuat kapal tersesat dan kehilangan arah.

Demikian halnya kehidupan kita. Secara berkala kita perlu evaluasi. Ada banyak peristiwa dimana kita harus belajar dan membiasakan introspeksi diri. Bercermin untuk mengetahui kekurangan dan kelemahan pribadi, agar dapat mengembangkan diri menjadi lebih baik lagi.

Introspeksi diri sangat diperlukan karena :

  • Proses tidak selalu berjalan konstan
  • Pengalaman yang serupa tidak selalu memberi hasil yang sama
  • Selalu ada keterbatasan dan perbedaan sudut pandang
  • Tiap masalah memiliki titik kritis tersendiri.


Bagaimana membangun sikap introspeksi diri

1. Memahami kelemahan pribadi

Introspeksi diri diawali dengan sikap rendah hati. Menyadari bahwa kita tidak luput dari kekeliruan atau kesalahan. Orang yang sombong tidak mau melakukan evaluasi diri karena selalu merasa benar. Akibatnya tidak ada pertumbuhan pribadi, karena hanya bersikap menyalahkan orang lain, situasi atau bahkan Tuhan.

Memahami titik kritis berarti memiliki sikap waspada dan antisipasi. Kemampuan untuk menjaga diri dan mewaspadai situasi sebelum terjadi hal-hal yang fatal.

2. Agenda introspeksi

Kapan dan apa saja dalam diri kita yang perlu untuk dievaluasi?
Pertama, sebelum melakukan sesuatu. Ada pepatah mengatakan bahwa orang yang mau membangun menara pasti akan memperhitungkan anggaran biayanya. Introspeksi dalam hal langkah awal yang harus dilakukan, bagaimana rencana dan kesanggupan atau sumber-sumber yang kita miliki.

Kedua, ketika sedang melakukan sesuatu. Introspeksi diperlukan untuk mencegah agar tidak terlanjur lebih jauh lagi jika ternyata ada kekeliruan. Hal-hal yang perlu di evaluasi adalah metode dan cara, asumsi dan pandangan, pengetahuan dan keahlian yang digunakan. Proses antisipasi titik kritis dan langkah-langkah perbaikan jika diperlukan.

Ketiga, setelah melakukan sesuatu. Pengalaman selalu merupakan guru yang terbaik. Introspeksi diri berguna untuk tindakan perbaikan atau recovery jika terjadi kekeliruan. Atau menjadi pembelajaran agar kelak kita tidak mengulang kesalahan yang sama.

3. Proses menuju pribadi yang lebih baik

Introspeksi diri bukan berarti bersikap menghakimi atau menyalahkan diri sendiri. Tetapi bentuk kebesaran hati untuk memperbaiki dan mengembangkan diri sendiri. Orang yang sulit melakukan introspeksi diri cenderung bersikap kekanak-kanakan. Karena kedewasaan dan kematangan pribadi lahir dari keterbukaan untuk mengevaluasi dan mengembangkan diri sendiri.

The Word of Wisdom
Pengalaman tanpa pembelajaran adalah sia-sia,
pembelajaran tanpa pengalaman adalah hampa.

sumber : beritanet.com

Pengembangan Diri : Intrapreneurship Character

KARAKTER KEWIRASWASTAAN

... Apa pun yang Anda perbuat dan kerjakan, lakukanlah itu seperti kepada Tuhan


Situasi krisis tidak pandang bulu, kita semua bisa terkena imbasnya. Kita harus berusaha dan berjuang sungguh-sungguh agar dapat menghadapi krisis dengan bijak. Beruntung perekonomian Indonesia banyak ditopang oleh usaha-usaha kecil, sehingga pertumbuhan ekonomi masih dapat dijaga.

Usaha-usaha mikro dan kecil nampaknya bisa menjadi basis ketahanan ekonomi yang signifikan. Rata-rata mereka adalah pelaku usaha yang tabah dan tekun. Berjuang karena mempertahankan hidup dan eksistensi usaha mereka. Karakter apakah yang dimiliki oleh para wiraswasta ini?

Entrepreneur ataukah Intrapreneur?

Kita sering mendengar istilah “entrepreneur” atau “wiraswasta”. Artinya sikap sebagai pemilik usaha yang punya rasa tanggung jawab besar karena mengelola usaha miliknya sendiri. Seorang wiraswasta akan berjuang sungguh-sungguh sepenuh hati untuk mempertahankan dan mengembangkan usahanya.

Sedangkan ”intrapreneurship” punya arti yang sama, tapi fungsi berbeda. Intrapreneurship adalah bersikap wiraswasta, tapi dalam kapasitas sebagai karyawan. Memiliki tanggung jawab dan respons sebagai pemilik usaha walaupun dia karyawan. Ternyata, karakter inilah yang membuat perusahaan sanggup menghadapi persaingan dan mengatasi krisis.

Sebaliknya ada karyawan yang “merasa memiliki” perusahaan sehingga bekerja sesuka hati dan mengambil keuntungan hanya bagi dirinya sendiri. Sikap seperti ini justru bukan intrapreneurship, tetapi mentalitas benalu. Banyak perusahaan besar yang mengalami kejatuhan karena karyawan bahkan pemimpinnya memiliki mentalitas benalu.

Karakter apa yang dimiliki seorang Intrapreneur?

1. Proaktif
Saat ini semakin banyak pengangguran, tapi dunia usaha tetap mengeluh sulit mencari karyawan. Sikap proaktif adalah antusias, inisiatif, dan kreatif. Banyak orang hanya menunggu diperintah. Melakukan apa yang ingin dilakukan, bukan apa yang seharusnya dilakukan. Kondisi ini menjadi penghalang utama dalam kompetisi usaha. Jika perusahaan lemah, karyawan juga sulit dipertahankan.

2. Loyalitas
Sikap intrapreneurship bagi karyawan ialah loyalitas. Loyalitas adalah suatu komitmen jangka panjang untuk dukungan, pengorbanan, dan pembelaan kepada perusahaan. Loyalitas tidak dinilai pada masa senang, tetapi justru bagaimana respons kita pada masa-masa sulit.

3. Ketekunan
Ketekunan membawa hikmah, karena dalam ketekunan ada pengharapan. Orang yang tekun selalu dapat melihat keuntungan dari hasil kerjanya. Ada cerita mengenai dua bersaudara anak petani. Ketika akan meninggal, sang petani berpesan bahwa ia sudah menimbun harta warisan di tanah pertanian mereka.
Setelah meninggal, kedua anaknya segera menggali dan mencangkul tanah pertanian itu. Namun harta itu belum ditemukan. Anak pertama dengan kecewa meninggalkan tanah pertanian dan pergi ke kota. Tapi, anak kedua merasa sayang jika tanah pertanian itu dibiarkan. Ia menanam kentang dan mendapat hasil panen yang luar biasa. Ternyata itulah harta yang ditinggalkan ayahnya. Ketekunan tidak pernah sia-sia.

sumber : beritanet.com

Pengembangan Diri : The Power of Resourcefulness - Kekuatan Mendayagunakan

Kekuatan Mendayagunakan

Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang rajin menjadikan kaya


Krisis terjadi karena ketidakseimbangan antara kebutuhan dan ketersediaan. Karena kebutuhan jauh lebih besar dari pasokan yang tersedia. Kita memiliki sumber daya sebagai aset yang dianugerahkan oleh Tuhan secara gratis. Sumber daya alam, talenta dan potensi pribadi, waktu, tenaga, pikiran, memang dimiliki secara cuma-cuma, tapi bukan berarti itu untuk disia-siakan. Tingkat persaingan yang tinggi membutuhkan kreativitas dan kebijakan dalam pengelolaan sumber daya. Situasi yang semakin tidak menentu, mendorong kita agar mampu melakukan evaluasi dan antisipasi. Kita harus menyadari betapa banyak hal yang telah disia-siakan selama ini. Menghadapi situasi krisis, kita harus bersikap kreatif dan bijaksana dalam mengelola sumber daya dan aset yang dimiliki.

Pola Pikir dan Gaya Hidup
Ciri dari karakter pendayagunaan adalah efektif dan efisien. Efektif berarti tepat guna. Sedangkan efisien adalah tepat daya. Penggunaan sumber daya yang tepat sasaran, jelas dan terkontrol pemakaiannya dengan hasil yang maksimal. Efektif adalah biaya sama dengan hasil. Efisien berarti biaya lebih kecil atau sama dengan hasil.
Efisiensi diawali dengan pola pikir dan gaya hidup. Hal ini membentuk kebiasaan sehari hari. Sering kali lingkungan yang makmur dan serba ada, cenderung membentuk sikap hidup kita yang kurang menghargai efisiensi. Sering kali efisien dikonotasikan dengan pelit atau kikir. Padahal efisien berarti memiliki antisipasi dan prioritas dalam penggunaan sumber daya yang dimiliki. Itu berarti kita menghargai anugerah Tuhan dengan mengelola aset kita secara bijaksana.

Karakter Pendayagunaan
Karakter pendayagunaan dimulai dengan sikap hidup sehari-hari yang tepat. Diawali dengan cara mengelola pola pikir dan pola hidup kita. Orang yang memiliki prinsip pendayagunaan senantiasa berpikir secara prosentase. Misalkan kita dapat berhemat Rp2.000,- dari pembelian barang seharga Rp10.000,- itu bukan sekadar penghematan Rp2.000,- namun berarti telah menghemat 20%. Bukankah kita justru sering mengabaikan dan menganggap remeh hal-hal yang sederhana?

1. Prioritas
Kita harus belajar menentukan hal-hal yang penting dan mendesak. Bedakan antara keinginan dan kebutuhan. Dahulukan kebutuhan daripada keinginan. Karena keinginan tidak pernah puas, dan banyak keinginan sebenarnya bukan hal yang perlu.

2. Kreatif
Orang yang kreatif mampu melihat dari sisi yang berbeda. Benda-benda yang selama ini dibuang, mungkin masih bisa dimanfaatkan. Banyak karya seni yang indah berasal dari limbah yang selama ini diabaikan saja. Kreativitas tidak dapat dipadamkan, tapi sikap masa bodo dapat menghambat kreativitas. Orang yang kreatif pasti sanggup mengatasi krisis dan kesulitan hidup.

3. Rajin
Orang yang rajin memiliki antusiasme dan tujuan yang jelas. Kerajinan dibangun dari sikap optimis dan positif. Orang yang rajin mampu mengelola dan melipatgandakan aset yang dimiliki. Bagi orang yang malas, banyak hal menjadi sia-sia. Tapi tangan orang rajin membawa berkat dan keberuntungan.

Tips Praktis:
Repair – Reuse – Recycle
Bangun kemampuan melihat nilai benda, ide dan orang-orang di sekitar kita.
Gunakan secara bijak dan kreatif; waktu, potensi, pikiran, dan energi kita.
Antisipasi kebutuhan dan situasi di depan dengan apa yang
dimiliki sekarang.

Kembangkan pola hidup;
repair (perbaiki yang rusak),
reuse (penggunaan kembali), dan
recycle (daur ulang).

Berikan kepada orang lain atau jual barang-barang yang tidak digunakan lagi

The Word of Wisdom
Setiap sumber daya yang dimiliki wajib dikelola dengan efektif dan efisien

Pengembangan Diri : Time Management - Mengelola Waktu

"Segala sesuatu indah pada waktunya ..."

Kita semua memiliki aset yang berbeda dan beragam. Ada yang bersifat material seperti properti, perusahaan, saham, dan perhiasan. Atau yang bersifat keahlian seperti ilmu pengetahuan, atau kepiawaian dalam seni dan keterampilan. Bahkan aset fisik misalnya di bidang olahraga atau keindahan secara lahiriah.

Namun, ada aset yang dimiliki tiap orang secara sama dan merata, yaitu waktu. Kita diberi waktu secara gratis dan bebas untuk mengelolanya. Tapi mungkin karena gratis, maka tanpa sadar kita sering mengabaikan betapa berharganya ia. Waktu adalah aset yang paling sering disia-siakan dan dikorbankan. Padahal waktu berlalu dan takkan pernah kembali. Waktu tak dapat dihentikan dan tidak bisa diulangi.

Kita diberi kesempatan sekali saja dalam hidup. Kita sangat dibatasi oleh waktu. Namun tanpa sadar, banyak hal tak berguna telah menyita waktu kita yang sangat berharga. Akibatnya, kita sering hidup dalam tekanan. Dikejar-kejar target pekerjaan, tidak cukup waktu yang berkualitas bagi keluarga, atau kesehatan yang terganggu.

Pencuri dan Penghalang Waktu

Betapa sering kita mengeluh tidak punya waktu, sehingga banyak hal penting yang terabaikan. Namun jika dicermati, ternyata masalahnya bukan soal kekurangan waktu, tapi seberapa efektif kita memanfaatkan waktu itu.

Tanpa disadari, banyak aktivitas tidak penting yang sudah mencuri waktu kita. Biasanya kita bahkan punya berbagai alasan. Padahal, sikap atau kebiasaan buruk yang menghalangi kita menggunakan waktu secara efektif.

  • Rasa malas

Perasaan malas adalah hal yang wajar. Kita semua pernah mengalaminya. Namun, sangat keliru jika kita memupuk rasa malas itu. Karena akhirnya menjadi sikap buruk yang melekat dan sulit dihilangkan. Kemalasan membunuh produktivitas waktu.

  • Suka menunda

Banyak hal yang membuat kita suka menunda. Tapi yang paling sering karena sikap perfeksionis. Keinginan serba sempurna membuat kita sulit untuk memutuskan atau bertindak segera. Akhirnya kita kehilangan banyak waktu yang berharga.

  • Lamban

Kelambanan berarti pemborosan waktu. Waktu yang dipakai jauh lebih panjang dari yang seharusnya. Akhirnya pekerjaan menjadi tidak efisien, biaya menjadi mahal, dan kita tidak mampu bersaing.

  • Kehilangan prioritas

Kita mudah kehilangan prioritas jika tidak fokus. Prioritas berarti mampu membedakan mana penting dan mendesak. Kehilangan prioritas membuat kita gagal melakukan apa yang seharusnya dilakukan.

  • Tidak ada perencanaan

Ada yang berpendapat bahwa hidup itu sebaiknya mengalir seperti air. Perencanaan itu kaku, membuat kita sulit bertindak fleksibel. Tentu saja ini adalah mitos yang keliru. Karena justru melalui perencanaan kita bisa membuat prediksi yang lebih matang dengan efisiensi waktu yang baik.

Mengelola Waktu Secara Bijaksana

Penundaan ataupun kelambanan selalu merugikan, bukan hanya diri sendiri tapi juga orang lain. Sikap menunda bagai musuh dalam selimut. Sepertinya menyenangkan namun sebenarnya sangat merugikan. Penundaan menghasilkan keterlambatan, dan keterlambatan tidak pernah memenangkan kompetisi.

Tips dalam mengelola waktu:

  1. Buatlah jadwal perencanaan dan kembangkan kebiasaan merencanakan.
  2. Tentukan prioritas kegiatan yang mendesak dan penting.
  3. Perhitungkan antara kualitas pekerjaan dan waktu yang dibutuhkan.
  4. Aturlah keseimbangan waktu dalam hidup.
  5. Tetaplah fokus.

Sikap efektif terhadap waktu pada prinsipnya didasari dua aspek penting yaitu: bagaimana menghargai waktu dan menghargai orang lain. Karena keputusan dan tindakan kita tidak hanya memengaruhi diri pribadi, tapi juga orang lain. Untuk memotivasi diri, marilah kita berpikir untuk mengelola waktu dan membuat perencanaan seakan-akan hidup masih lama. Namun, kita harus siap sedia dan tidak menunda pekerjaan seolah-olah hidup akan berakhir besok.


The Word of Wisdom
Kualitas hidup kita ditentukan oleh kualitas waktu yang kita manfaatkan

Sumber : Beritanet.com

Pengembangan Diri : Motivasi Bekerja


Uang BUKAN satu-satunya faktor yang memotivasi orang untuk bekerja!

Sebagian besar orang bekerja untuk mendapatkan uang. Tidak disangkal bahwa gaji dan kompensasi finansial merupakan faktor penting ketika memilih pekerjaan dan memutuskan bertahan atau keluar dari tempat kerja Namun, harus diingat bahwa uang bukanlah segalanya.

Apakah yang memotivasi seorang karyawan dan apa yang tidak memotivasi dia?

Faktor-faktor mendasar

Gaji pokok yang pantas dan lingkungan kerja yang aman hanyalah faktor-faktor mendasar yang membuat orang ingin bekerja di perusahaan Anda. Tanpa faktor-faktor ini, orang tidak ingin bekerja untuk Anda! Jadi, jika Anda seorang manajer atau pemilik bisnis, jangan salah mengasumsikan bahwa hanya karena memberikan upah yang pantas kepada para karyawan Anda (UMR atau sedikit di atas UMR, atau mengikuti standar pasar), Anda dapat mengharapkan mereka termotivasi bekerja. Salah! Orang tidak termotivasi oleh gaji pokok!

Faktor-faktor yang memotivasi orang untuk bekerja

Jika Anda mengharapkan para karyawan Anda termotivasi, Anda harus memberikan hal berikut ini:

  • Pekerjaan menantang yang memungkinkan orang mengembangkan kemampuannya.
  • Lingkungan yang mendukung orang untuk belajar.
  • Lingkungan tempat orang dapat menikmati interaksi dengan rekan-rekan sekerja
  • Lingkungan yang menumbuhkan sikap menghormati diri sendiri dan orang lain
  • Pengakuan atas prestasi mereka


Bila faktor-faktor tersebut ada dalam pekerjaan, para karyawan akan termotivasi untuk bekerja. Jika tidak, mereka hanya melakukan pekerjaan untuk mencari nafkah.

Oleh sebab itu, seorang manajer harus mengetahui perbedaan antara faktor-faktor pokok dan faktor-faktor yang memotivasi orang untuk bekerja. Sekarang, perhatikan tempat kerja Anda, apakah Anda hanya menyediakan faktor pokok atau faktor yang memotivasi orang untuk bekerja?

Salah satu faktor penting yang memotivasi orang untuk bekerja adalah pengakuan atas prestasi. Pengakuan dapat diwujudkan dalam bentuk imbalan atau penghargaan. Ada 1001 cara untuk menunjukkan bahwa Anda menghargai prestasi karyawan. Misalnya: insentif finansial, hadiah, cuti, liburan gratis, kesempatan bekerja di kantor atasan selama seminggu, diperkenalkan dengan CEO dan makan siang bersamanya, dsb.

Memberi Penghargaan

Cara Anda memberikan penghargaan sama pentingnya dengan penghargaan itu sendiri. Orang sangat menyukai perayaan, pesta, dan keriuhan. Jadi, perhatikan cara Anda memberikan penghargaan. Jika tidak, semua usaha Anda akan sia-sia dan karyawan Anda tidak merasa bahwa Anda benar-benar menghargainya. Berikut ini beberapa ide untuk memastikan bahwa karyawan Anda merasa dihargai dan diakui ketika ia menerima penghargaan.

  1. Pilihlah orang yang tepat untuk memberikan hadiah. Orang yang memberikan penghargaan tidaklah selalu harus CEO. Pilihlah orang yang istimewa di mata penerima penghargaan. Idealnya, pilihlah seseorang yang mengenal karyawan secara pribadi. Ada baiknya meminta pelanggan yang biasa dilayani si penerima penghargaan dan merasa puas atas layanannya untuk menyerahkan penghargaan. Penyerahan penghargaan ini disertai pidato singkat yang menyatakan bahwa karyawan ini benar-benar pantas menerima penghargaan. Dapatkah Anda membayangkan jika ibu (atau bahkan kakek) si karyawan ini secara diam-diam diundang untuk menyerahkan penghargaan kepadanya di atas panggung! Pengalaman yang benar-benar menyentuh perasaan dan tidak akan terlupakan! Sering kali, sedikit upaya ekstra dapat memiliki efek yang benar-benar bermakna.
  2. Penyerah hadiah harus tahu tentang hadiah tersebut. Orang yang ditugaskan untuk menyerahkan hadiah harus mengetahui nama penghargaan dan tujuannya. Dia harus mengetahui kriteria untuk memenangkan penghargaan sehingga memiliki pemahaman mengenai betapa tinggi kualifikasi/komitmen si pemenang agar pidato singkatnya mencerminkan penghargaan dan kekaguman. Jika Anda dipilih untuk menyerahkan penghargaan, Anda harus menganggap tugas tersebut sebagai hal serius dan patut Anda hormati. Mungkin acara tersebut tidak berarti banyak bagi Anda, namun dapat berarti segalanya bagi penerima penghargaan. Mungkin dia telah menanti seumur hidup untuk momen di atas panggung ini! Inilah momen kejayaannya!
  3. Mintalah rekan sekerjanya memberikan komentar. Ada baiknya jika ada rekan kerja yang memberikan komentar positif mengenai si pemenang di atas panggung. Ini merupakan bentuk penghargaan lain yang menunjukkan bahwa orang lain juga menghargai prestasinya.
  4. Beri kesempatan kepada pemenang untuk memberikan komentar. Ini selalu menjadi saat yang mengharukan. Si pemenang mungkin tidak ingin mengucapkan satu patah kata pun. Bagaimana pun ada baiknya memberi kesempatan kepadanya. Anda akan terkejut ketika mengetahui perasaannya setelah menerima penghargaan. Namun, hati-hatilah dengan orang yang cenderung berbicara bertele-tele! Pastikan paling lama 3 menit untuk berbicara.


Sering kali yang membuat hadiah tersebut begitu berarti, menyentuh perasaan, dan tidak terlupakan bukanlah harga hadiahnya. Cara hadiah tersebut diberikan itulah yang berkesan di hati penerimanya. Jadi, berikanlah penghargaan secara tulus. Karyawan Anda patut mendapatkannya!

Sebagian besar orang bekerja untuk mendapatkan uang. Tidak dapat disangkal bahwa gaji dan kompensasi finansial merupakan faktor-faktor penting ketika memilih pekerjaan, atau ketika memutuskan untuk bertahan dalam satu pekerjaan atau keluar.

Namun, tidak dapat dipungkiri pula bahwa uang bukan segala-galanya.

Pada bagian 1 mengenai “Motivasi Bekerja” kita telah mendiskusikan perbedaan antara “Faktor-faktor mendasar” dan “Faktor-faktor yang memotivasi”. Kesimpulannya, agar orang-orang termotivasi dalam pekerjaan mereka, memenuhi faktor-faktor mendasar saja tidaklah cukup. Harus ada faktor-faktor yang memotivasi. Pada bagian 1, kita telah menjelaskan cara menggunakan imbalan untuk memotivasi staf. Pula menerima imbalan saja tidaklah cukup. Imbalah harus diberikan dengan cara yang tepat sehingga karyawan yang menerimanya merasa dihormati, dihargai, dan diakui.

Dalam bagian 2 ¨Motivasi Bekerja” kita akan mendiskusikan hal-hal yang membuat orang bertahan dalam satu pekerjaan dan ingin melakukannya dengan baik serta hal-hal yang menyebabkan orang keluar dari pekerjaannya.

Karyawan bertahan atau keluar dari pekerjaannya, menjadi termotivasi atau kehilangan motivasi karena kombinasi dari beragam alasan. Tiap orang memiliki alasan yang berbeda dalam berbagai tahap kehidupannya. Lantas, bagaimana Anda menemukan hal-hal yang memotivasi para karyawan Anda dan membuat mereka bertahan melakukan pekerjaan tersebut dengan gembira? Jawabannya mungkin kelihatan jelas dan bodoh. Namun cara paling mudah dan akurat adalah tanyakan hal tersebut kepada mereka secara langsung!

Pertanyaan-pertanyaan apa yang harus diajukan kepada para karyawan Anda?

Untuk membantu Anda memulainya, berikut ini beberapa pertanyaan sederhana namun sangat membantu untuk menanyai para karyawan Anda:

  • Apa yang membuat Anda bertahan di sini?
  • Apa yang mungkin memikat Anda meninggalkan pekerjaan Anda saat ini?
  • Apa yang paling menarik dari pekerjaan Anda?
  • Apakah kami sepenuhnya mendayagunakan bakat Anda?
  • Apakah yang bisa saya lakukan untuk membantu Anda bekerja dengan sebaik-baiknya?

Selain pertanyaan tersebut, masih ada banyak pertanyaan lainnya yang dapat Anda ajukan kepada mereka. Hal ini tergantung pada apa yang Anda ingin ketahui mengenai mereka dan mengenai diri Anda sendiri.

Berikut ini beberapa manfaat yang jelas dari pengajuan pertanyaan-pertanyaan ini:

  1. Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini, karyawan Anda akan mengetahui bahwa Anda peduli, Anda menaruh perhatian pada kesejahteraan mereka, mereka adalah anggota-anggota tim Anda yang penting, mereka memiliki peran penting untuk menunjang keberhasilan tim Anda dan bahwa Anda ingin memberi yang terbaik kepada mereka semampu Anda.
  2. Jawaban-jawaban karyawan Anda terhadap pertanyaan-pertanyaan ini akan memberikan pengertian yang sangat berharga mengenai :
  • Apa yang sesungguhnya ada dalam hati dan pikiran mereka
  • Apa yang sesungguhnya penting bagi mereka
  • Apa yang sesungguhnya memotivasi mereka dan apa yang membuat mereka bosan atau tidak tertarik dengan pekerjaan mereka
  • Apakah Anda mendayagunakan talenta dan potensi mereka secara maksimal atau tidak
  • Seberapa besar komitmen mereka terhadap tim
  • Gaya manajemen Anda
  • Ketrampilan atau keahlian karyawan Anda
  • Kekuatan dan kelemahan Anda sebagai manajer

Pertanyaan-pertanyaan di atas sangat sederhana dan langsung menuju ke sasarannya, namun berapa banyak orang di antara kita yang benar-benar mengajukan pertanyaan ini kepada para karyawan kita? Mengapa kita tidak menanyai mereka?

  • Tidak perlu menanyai karena kita mengasumsikan bahwa kita sudah tahu jawabannya? Apakah kita paranormal? Dapatkah kita membaca pikiran orang?
  • Tidak ada waktu untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini?
  • Tidak mau repot-repot menanyai karena Anda sesungguhnya tidak peduli dengan apa yang mereka rasakan dan pikirkan? Namun Anda ingin mereka melakukan yang terbaik?


Cara tepat mengajukan pertanyaan

Untuk mampu mendapatkan jawaban yang jujur dari para karyawan Anda merupakan hal yang jauh lebih sulit daripada mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu! Jika kita tidak mendapatkan jawaban jujur dari para karyawan kita, seluruh tujuan pengajuan pertanyaan ini tidak tercapai!

Setiap manajer memiliki gaya yang berbeda dan setiap karyawan memerlukan metode yang berbeda. Anda memilih pendekatan mana yang paling sesuai dengan Anda dan karyawan Anda. Berikut ini beberapa saran:

1. Wawancara

Anda mungkin ingin mengundang karyawan ke kantor Anda untuk mengadakan pembicaraan santai. Namun pastikan bahwa penetuan waktu Anda tepat. Beberapa contoh penentuan waktu yang tidak tepat:

  • Ketika dia sibuk dengan pekerjaannya
  • Ketika ada hal-hal penting lainnya yang harus dipikirkan atau dilakukannya
  • Ketika dia sedang mengejar tenggat waktu penyelesaian tugas
  • Dia harus menyelesaikan masalah dengan pelanggan yang marah, dll.

Pastikan karyawan Anda sedang dalam situasi santai dan memiliki mood yang baik untuk mengadakan percakapan dengan Anda.

2. Percakapan “yang tidak direncanakan sebelumnya”

Cara lain untuk mengajukan pertanyaan adalah mengundang karyawan Anda untuk makan siang/malam/minum-minum, atau bertemu di kantin. Anda dapat dengan santai mengajukan beberapa pertanyaan di atas. Jika karyawan Anda merespons, Anda dapat mengembangkan percakapan dengan pertanyaan lainnya. Jika dia kelihatan tidak nyaman, ubahlah topik pembicaraan pada topik-topik yang kurang “sensitif”.

Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan ketika Anda mengajukan pertanyaan-pertanyaan:

  • Realitas bahwa Anda mungkin tidak ingin mengajukan begitu banyak pertanyaan dalam satu kesempatan. Mengajukan begitu banyak pertanyaan langsung kadang-kadang mungkin “membuat takut” karyawan Anda.
  • Anda mungkin harus mengalimatkan ulang pertanyaan-pertanyaan tersebut sehingga tidak terdengar langsung menuju ke sasaran
  • Selipkan pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam percakapan Anda sehingga mereka tidak menyadari bahwa Anda mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut.
  • Jika Anda dan karyawan Anda tidak terbiasa berbicara dalam tingkat yang “intim” ini, pertanyaan-pertanyaan seperti itu mungkin menyebabkan ketidaknyamanan. Mereka mungkin berpikir:
  • Mengapa Anda tiba-tiba mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti itu?
  • Apakah mereka telah melakukan sesuatu yang salah?
  • Apakah Anda berencana untuk memindahtugaskan mereka?
  • Apakah Anda mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini untuk menetukan besarnya bonus mereka?
  • Apakah Anda mencoba menggali informasi dari mereka mengenai teman-teman mereka?
  • Apakah Anda bertanya untuk menilai pantas tidaknya mereka mendapatkan promosi jabatan?

Apa pun pertimbangannya, jika Anda ingin mengetahui cara memotivasi karyawan Anda, apa yang membuatnya tetap termotivasi, alasan yang membuatnya tetap bertahan dalam pekerjaannya, faktor-faktor yang akan menyebabkannya ingin keluar dari pekerjaannya, dll, dengan cara tertentu Anda harus mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut kepadanya.

Anda tidak perlu mengajukan pertanyaan tersebut kepada mereka setiap minggu. Lakukan setiap empat bulan sudah lebih dari cukup. Mengetahui apa yang membuat karyawan Anda berperilaku seperti yang Anda amati akan memiliki dampak yang penting pada keefektifan Anda sebagai manajer dan untuk meningkatkan kinerja keseluruhan tim Anda. Semoga Anda sukses!

Penulis : James Gwee

Pengembangan Diri : James Gwee : Tips Menghemat Waktu


Kita semua diberi waktu 24 jam setiap hari. Namun, mengapa beberapa orang lebih tertata dalam pelaksanaan tugas dan dapat melakukan lebih banyak hal daripada orang-orang lainnya?

Berikut ini beberapa tips praktis yang dapat diterapkan setiap hari untuk membantu Anda menghemat waktu agar memiliki waktu ekstra. Jadikan sebagai kebiasaan Anda.

1. Menjawab surat-surat dengan bijak

Alokasikan waktu setiap hari untuk menjawab semua korespondensi, e-mail, voice-mail, pesan-pesan, memo antar kantor, dll. Jika Anda butuh waktu lebih dari satu jam untuk membaca dan menjawab e-mail, Anda mengalami kegagalan “sistem”.

2. Lakukan panggilan telepon dengan bijak
  • Lakukan dan selesaikan panggilan telepon pada waktu yang telah ditetapkan. Yang paling efektif adalah pukul 10.00–11.30 dan 14.00–16.00. Apabila orang yang Anda hubungi tidak ada di tempat, buatlah janji temu yang pasti, atau tinggalkanlah pesan yang jelas.
  • Beri tahu semua pihak yang berkepentingan dengan Anda bahwa Anda hanya menerima panggilan telepon pada jam-jam tertentu selama hari kerja. Panggilan di luar jam itu akan ditangani oleh asisten/sekretaris Anda atau mesin penjawab Anda.
  • Gunakan voice-mail secara kreatif untuk mengalihkan si penelepon kepada orang lain atau menulis e-mail kepada Anda sebagai gantinya.
  • Buatlah catatan mengenai poin-poin penting ketika Anda sedang berbicara melalui telepon. Perjelas hal-hal mengenai keputusan, komitmen, tindakan, tanggung jawab dan waktunya (dibubuhi tanggal dan jam).
  • Kirimkan catatan ini melalui faksimile setelah pembicaraan lewat telepon berakhir. Kemudian arsipkan catatan ini bersama dengan korespondensi lainnya yang terkait dengan orang/klien itu.
3. Praktikkan empat hal berikut terkait dengan dokumen-dokumen tertulis: buanglah ke tempat sampah, limpahkan kepada orang lain, kerjakan sendiri, atau putuskan di mana Anda akan menyimpannya.

4. Tata meja Anda, sediakan tempat atau map untuk:

  • Surat-surat yang akan dibaca dan dijawab.
  • Surat-surat atau dokumen yang akan dikirimkan.
  • Menyimpan dokumen-dokumen yang belum yakin akan dibuang atau disimpan. Tinjaulah dokumen-dokumen tersebut sekali sebulan.
  • Menyimpan dokumen mengenai tindakan khusus yang harus dikerjakan (per minggu atau bulan).
5. Tamu yang datang tanpa pemberitahuan lebih dulu
  • Jangan menerima tamu yang datang tanpa mengadakan janji temu terlebih dulu.
  • Lakukan langkah 1–2–3 Anda keluar.
    • 1—Lihat jam Anda.
    • 2—Mulai mengabaikan
    • 3—“Saya akan pergi ke ... Mari saya antar Anda pergi keluar.¨
6. Materi-materi bacaan
a. Sediakan map untuk menyimpan materi-materi bacaan.
b. Potonglah/fotokopilah materi-materi bacaan dan simpan ke dalam map.

7. Saat Anda menunggu
a. Gunakan waktu untuk tugas-tugas kantor sederhana:
- Menulis surat, memo, e-mail
- Menulis draft proposal
- Menelepon relasi
b. Membaca materi-materi bacaan dari map khusus bahan bacaan.

8. Saat bepergian, lakukan hal-hal berikut:
a. Mencari ide.
b. Pikirkan cara merancang proposal, surat, dll.
c. Menelepon untuk memberi instruksi.
d. Pikirkanlah hal-hal yang akan Anda lakukan dan tuliskanlah pada Post-it (potongan kertas berperekat).

9. Buatlah janji temu dengan Anda sendiri.

10. Belajar berkata “tidak”
a. Jangan melakukan pekerjaan orang lain.
b. Jangan menerima lebih banyak pekerjaan daripada yang dapat Anda tangani.
c. Jangan izinkan orang lain berkunjung ke tempat Anda seenaknya.
d. Jangan menghadiri pertemuan-pertemuan yang tidak perlu.

penulis : James Gwee

Pengembangan Diri : Mengatur Pekerjaan dengan Daftar Tugas


Pada zaman multitasking ini, kita dibanjiri segunung tugas yang harus diingat untuk dikerjakan. Menggunakan Daftar Tugas menjadi perlu dan penting dalam kehidupan modern.

Sekarang, mayoritas orang memiliki beragam tugas yang harus ditangani. Banyak hal yang harus diingat dan dilakukan. Misalnya:

  • Di tempat kerja

Pekerjaan rutin setiap hari
Hal-hal nonrutin yang diminta oleh atasan, rekan sekerja, dan bawahan
Mengikuti seminar dan pelatihan
Proyek-proyek lain di kantor

  • Di rumah

Bahan-bahan makanan yang harus dibeli
Kebutuhan-kebutuhan anak: bertemu kepala sekolah, konser di sekolah, membeli buku sekolah, seragam sekolah
Jadwal membayar tagihan
Ulang tahun anggota keluarga/teman, pesta pernikahan, ucapan syukur, dll.
Program-program pengembangan diri.

Banyak dari kita juga menjadi anggota organisasi. Hal ini juga menuntut kita mengingat banyak hal untuk dikerjakan.

Rambu-rambu
Bagaimana cara mengingat semua tugas tanpa membuat kita kewalahan? Buatlah Daftar Tugas yang akan banyak membantu Anda! Berikut ini rambu-rambu ketika menggunakan daftar tugas.

  • Gunakanlah Daftar Tugas untuk dikerjakan.

Jangan mencoba mengingat semuanya, Anda pasti lupa sebagian. Di dunia yang mengedepankan saling ketergantungan ini, melupakan suatu tugas dapat menimbulkan bencana. Bahkan lupa bangun tidur tepat waktu dapat menimbulkan konsekuensi serius. Jangan terlalu membebani memori Anda, tuliskanlah semua hal yang harus Anda kerjakan dalam Daftar Tugas.

  • Tulis dan simak setiap hari

Tidak ada manfaatnya jika Anda hanya menulis Daftar Tugas. Anda harus membacanya berulang-ulang setiap hari sehingga terus diingatkan mengenai hal-hal yang harus Anda lakukan.

  • Buatlah sistematis
  • Anda mungkin memiliki beberapa Daftar Tugas: pekerjaan kantor, kegiatan di rumah, kebutuhan anak-anak, keperluan pribadi, pengembangan diri, daftar untuk menuliskan ide-ide yang terlintas, dsb. Apa pun daftar tugas Anda, buatlah sistematis dan tertata rapi.
  • Revisi Daftar Tugas Anda

Coretlah tugas-tugas yang telah diselesaikan. Batalkanlah tugas-tugas yang tidak relevan. Sekali seminggu pindahkanlah tugas-tugas yang belum dikerjakan ke lembaran baru. Kebiasaan sederhana ini akan membantu Anda untuk menata Daftar Tugas serta menata ulang pikiran Anda

  • Daftar Tugas dapat dibuat dengan dua cara:

Pertama, sisihkan waktu, pergilah ke suatu tempat yang tidak menganggu konsentrasi Anda. Mulailah menuliskan semua hal yang harus Anda lakukan. Anda akan melihat betapa cepatnya Daftar Tugas Anda bertambah panjang. Kedua, kapan saja ada hal yang harus dikerjakan, tuliskanlah dalam daftar Anda. Coretlah tugas-tugas yang telah Anda selesaikan.

  • Jadikan kebiasaan.

Seperti semua kebiasaan lainnya, membuat dan menggunakan Daftar Tugas perlu latihan. Setelah belajar menggunakan Daftar Tugas selama satu bulan, Anda akan menikmati kegunaannya dan menghargai manfaatnya.

  • Buatlah Daftar Tugas Anda terancang secara otomatis. Caranya:

Secara otomatis pindahkanlah daftar “hal-hal yang harus dikerjakan hari ini” yang belum Anda kerjakan ke daftar “hal-hal yang harus dilakukan besok”
Klasifikasikan daftar “hal yang harus dilakukan” berdasarkan nama kegiatan, tanggal memulai tugas, tanggal penyelesaian, prioritas, dll.
Untuk aktivitas rutin (seperti membayar premi asuransi, SPP anak, perpanjangan STNK, sewa tahunan, dll), Anda hanya perlu memasukkan nama aktivitas tersebut sekali, dan secara otomatis akan diulang pada tanggal yang sama bulan-bulan atau tahun-tahun berikutnya.
Daftar ini dapat diatur sedemikian rupa sehingga dapat mengingatkan Anda dengan dering alarm bahwa aktivitas-aktivitas tertentu harus dilakukan.
Saya sendiri menggunakan Daftar Tugas seperti itu. Alat untuk membuat daftar otomatis itu disebut personal digital assistant (PDA). Terus terang, dering alarm PDA saya beberapa menit lalu, itulah yang mengingatkan saya untuk menulis artikel ini. Nah, istirahatkan memori Anda.

Selamat datang di dunia Daftar Tugas!

Pengembangan Diri : Memikat Pendengar Anda : Public Speaking


Salah satu keahlian yang harus dimiliki oleh seorang eksekutif untuk meningkatkan kariernya dengan cepat adalah kemampuannya berbi¬cara dengan baik dan menyampaikan presentasi dengan mengesankan.
Ada beberapa alasan mengapa kemampuan bicara sangat penting:

  • Dalam organisasi yang besar, atasan sering tidak mengenal setiap stafnya. Dengan demikian, menyampaikan presentasi yang menarik perhatian ketika big boss berada di tengah rekan kerja adalah cara terbaik dan tercepat agar ia mengenal dan melihat kemampuan Anda. Jika Anda melewatkan kesempatan emas ini, bos Anda tidak akan mengenal Anda sehingga Anda harus melewati jalur birokrasi yang bertele-tele untuk mendapatkan promosi.
  • Saya telah bertemu banyak orang dengan ide-ide cemerlang. Sayangnya, mereka tidak mampu menjelaskan ide-ide mereka secara logis dan terstruktur. Mereka tidak mampu meyakinkan bahwa idenya cemerlang. Akibatnya, orang tidak tertarik dengan ide mereka sehingga idenya menjadi sia-sia.
  • Orang yang memiliki kemampuan berbicara bagus sering menjadi pusat perhatian. Ia mungkin bukan orang paling pintar dan kompeten di perusahaan. Namun, ia justru sering mendapat promosi dan kesempatan yang lebih baik daripada karyawan yang lebih kompeten, tapi low profile.
  • Dengan kemampuan berbicara secara efektif, Anda akan semakin percaya diri. Anda tidak perlu takut terus-menerus… khawatir jika tiba-tiba dipanggil untuk presentasi Anda belum siap!

Saya berharap bisa memberikan cukup alasan kepada Anda agar mau belajar menyampaikan presentasi yang mengesankan. Kemampuan ini penting bagi:

Manajer/Supervisor—K arena Anda harus menyampaikan pengumuman rutin kepada bawahan Anda tentang perubahan kebijakan, peraturan, prosedur, produk baru, dll. Kemampuan Anda menyampaikannya dengan jelas dan meyakinkan menjadi faktor kunci apakah bawahan Anda menerima setiap perubahan dengan senang hati atau menolaknya. Jika Anda mampu meyakinkan mereka, pekerjaan Anda akan jadi mudah. Sebaliknya, jika Anda gagal meyakinkan mereka, Anda akan pusing tujuh keliling!

Sales dan Marketing—Ini merupakan kemampuan vital yang harus Anda kuasai karena salah satu tugas Anda adalah mempresentasikan tawaran/proposal kepada calon klien. Kemampuan Anda menyampaikan presentasi yang berkesan sangat berpengaruh pada kesempatan untuk memperoleh order. Pada tahun-tahun awal saya memulai bekerja dalam bidang ini dan orang belum mengenal saya, tugas terbesar saya adalah menjelaskan kepada klien-klien saya apa yang akan saya lakukan/sampaikan selama training/seminar. Kemampuan menyampaikan dengan jelas dan meyakinkan ini telah membantu saya mendapatkan order sepanjang tahun.

Mengatur Suasana

Sebuah presentasi dapat dibagi dalam beberapa bagian, yaitu: pembukaan, isi, dan penutup.
Pada bagian pembukaan, kedua pihak (Anda dan pendengar) mulai saling berkenalan. Pengalaman saya, sering kali justru para pendengar menunggu sinyal dari pembicara. Jika pembicaranya santai dan riang, pendengar akan santai dan riang juga. Sebaliknya, jika pembicaranya serius, pendengar akan serius juga. Hal ini mudah dimengerti karena jika pembicara serius, tetapi pendengarnya santai, riang, dan bercanda, akan terkesan tidak sopan dan tidak menghormati pembicara.

Intinya, ANDA yang mengendalikan suasana presentasi. Pendengar Anda menanti “instruksi” Anda – apakah mereka jadi santai atau serius. Mereka bergantung pada Anda, bukan Anda yang bergantung pada mereka!
Inilah salah satu alasan mengapa “ice-breakers” sangat penting. Tujuan ice-breakers adalah mencairkan suasana. Caranya dengan mengajak hadirin melakukan sesuatu, seperti: tertawa, mengangkat tangan, berputar, berdiri, dan menjawab pertanyaan.

Saat para pendengar telah melakukan salah satu hal di atas, secara otomatis mereka akan lebih santai, aliran darah lebih lancar, dan lebih siaga –siap mendengarkan apa yang Anda sampaikan. Mereka mendengarkan Anda dengan lebih santai dan riang karena Anda telah mengontrol “suasana” presentasi Anda.

Apa yang bisa Anda lakukan untuk mencairkan suasana? Ide-ide untuk itu tak terbatas!