KRISIS merupakan waktu yang tepat bagi perusahaan mengevaluasi manajemen bisnis.Perusahaan yang mengetahui kelemahannya akan mampu membangun kembali bisnis dengan kekuatan yang lebih besar.
Adapun yang tidak akan bernasib merugi dan akhirnya bangkrut. Oleh karena itu,perusahaan dituntut mampu menghadapi berbagai efek krisis yang bisa membuat kebangkrutan.Masalah yang sering dialami saat krisis di antaranya kehilangan pasar,penurunan daya beli masyarakat,meningkatnya ongkos produksi hingga semakin ketatnya likuiditas di pasar global.
Masalah-masalah semacam inilah yang menuntut perusahaan melakukan berbagai antisipasi,salah satunya efisiensi biaya produksi. Langkah efisiensi ini dilakukan dengan berbagai cara.Ada yang mengurangi kapasitas produksinya,mengurangi jam lembur,memanfaatkan teknologi kekinian hingga merumahkan sebagian karyawannya.
Hal ini bertujuan selain menekan biaya produksi,juga untuk memperkuat likuiditas yang dimiliki perusahaan.Survei Economist Intelligence Unit (EIU) bertajuk Organisitional Agility: How Bussines Can Survive and Thrive in Turbulent Timemenyatakan,ada berbagai tantangan yang harus dilalui perusahaan dalam mempertahankan bisnisnya di saat krisis seperti saat ini.
Dari 349 eksekutif bisnis di seluruh dunia yang disurvei,50% responden di antaranya menyebutkan tantangan paling sulit dalam periode tiga tahun saat ini adalah menekan besarnya biaya produksi.Adapun 47% responden menyatakan persaingan harga menjadi kendala dalam tiga tahun terakhir.Disusul kesulitan memenuhi peningkatan kebutuhan konsumen (29%), sulitnya pemasaran barang-barang produksi (28%),masalah kebijakan dan peraturan (24%),dan kesulitan mengakses modal (23%).
Sebanyak 20% responden menyebutkan permasalahan lain dalam tiga tahun ke depan adalah sulitnya mempertahankan perputaran suplai dan kompleksitas operasional.Masalah lain lagi adalah sulit menemukan inovasi.Sebanyak 20% responden menganggap masalah inovasi menjadi hambatan yang sangat sulit dihadapi ketika krisis berlangsung,selain kesulitan meningkatkan produktivitas (15%) dan permasalahan lain (5%). Jika dilihat dari hasil survei di atas,masalah menekan besaran biaya produksi menjadi kendala utama.
Hal ini tidak lepas dari adanya tuntutan bagi perusahaan untuk menyusun sistem seefektif mungkin guna menjaga likuiditas yang mereka miliki.Maklum,likuiditas menjadi kunci utama akibat ketatnya keuangan di pasar global. ”Pasar saat ini dalam kondisi yang tidak menentu dan belum pernah terjadi sebelumnya,”ungkap Manajer Direktur Senior dan Kepala M&A dan Corporate Development TIAA-Cref (salah satu perusahaan finansial terbesar di Amerika Serikat) Sheila Hooda.
Menurut dia,krisis yang melanda pasar global saat ini sangat tidak menguntungkan bagi semua perusahaan.Pasar global belum pernah tergelincir seperti saat ini,di mana pasar mengalami guncangan yang berdampak ke permasalahan penguasaan teknologi hingga tekanan yang lebih besar pada margin penjualan.Karena itu,saat ini banyak perusahaan berlomba-lomba back to basic guna menjaga core bisnis utamanya.
Para pebisnis lebih senang menahan ekspansinya hingga pasar benar-benar dalam situasi yang kondusif. Turbulensi di pasar global saat ini sangat berpengaruh pada performa bisnis berbagai perusahaan sehingga penghematan harus dilakukan. Tentu saja,penghematan ini memicu terjadinya reaksi rantai produksi yang salah satu muaranya adalah hilangnya sebagian pasar yang dimiliki perusahaan. Selain itu,upaya menekan harga produksi juga menjadi kendala yang harus dihadapi para pengusaha dalam tiga tahun terakhir.
Menurut EIU,permasalahan menekan biaya produksi ini bukan hanya menjadi momok bagi perusahaan kelas menengah ke bawah saja,tetapi juga perusahaan besar.Semakin besar skala bisnis, semakin sulit juga upaya perusahaan untuk menekan biaya produksi. Dari perusahaan-perusahaan besar (berpendapatan antara USD5–10 miliar) yang disurvei,77% menyatakan salah satu beban utama saat krisis melanda adalah terkait masalah biaya operasional manajerial yang harus dikeluarkan setiap bulan.
Semakin besar perusahaan, semakin besar pula biaya produksi yang harus ditanggung.Kondisi ini berbeda dengan perusahaan kelas menengah (berpendapatan kurang dari USD500 juta).Hanya 35% saja perusahaan skala menengah yang menyebutkan biaya manajemen menjadi permasalahan utama. Sementara efisiensi bukan berarti merombak sistem manajerial menjadi sangat minimalis. Oleh karena itu,alangkah baiknya jika perusahaan lebih berkonsentrasi pada pengurangan hal-hal di luar core bisnis untuk menetralisasi dampak krisis.
Saja salah satunya menghapuskan jam lembur.Dengan pengurangan biaya produksi di luar core bisnis,perusahaan akan lebih fokus dalam upaya merebut hati konsumen dengan memberikan inovasi terbaru
Assalammu'alaikum Sahabat... Selamat Datang di blog yang berusaha menjadi yang Terbaik dan Memperbaiki... Blog ini berisi informasi yang bermanfaat dan penyedia layanan jasa training, outbound, paintball games, event organizer, multimedia design. Blog tempat berbagi informasi dan pengalaman yang dapat dimanfaatkan siapapun untuk perubahan diri, keluarga, tim kerja, dan organisasi.
Tampilkan postingan dengan label Organisasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Organisasi. Tampilkan semua postingan
Minggu, Mei 24, 2009
Artikel Organisasi : KREATIVITAS TANPA BATAS
Masa krisis tidak hanya berakibat menurunkan daya beli masyarakat,tetapi juga menghantam psikologi konsumen.Untuk itu,para pelaku usaha harus kreatif merebut hati pelanggan.
Kreativitas bisnis adalah sebuah kunci sukses. Itulah asumsi yang dilontarkan pakar marketing revolution Tung Desem Waringin. Menurut dia, kreativitas pelaku bisnis dalam melakukan pemasaran sangat dibutuhkan dalam keadaan krisis. Sebab, krisis tidak hanya berakibat pada menurunnya daya beli masyarakat, tetapi juga menyerang psikologi masyarakat untuk menahan keinginan membeli. Dengan demikian kreativitas produsen atau perusahaan sangat dibutuhkan untuk bisa tetap menarik minat konsumen. “Krisis tidak mengakibatkan uang menjadi hilang.
Uang masih beredar di mana-mana. Di Amerika Serikat (AS) pun demikian. Jumlah uang tidak berkurang,justru malah bertambah dengan kebijakan pemerintah setempat. Jadi ini membutuhkan kreativitas para pelaku bisnis untuk bisa merebut pasar,”ujarnya. Tung menjelaskan, belajar kasus di Negeri Paman Sam, jumlah uang beredar semakin banyak.Misalnya, kredit macet properti untuk rumah yang sebelumnya dijual dengan harga USD2 juta per unit. Begitu resesi, hampir 20.000 nasabah kredit properti mengalami kredit macet.
Dengan kebijakan pemerintah, harga rumah pun diturunkan menjadi hanya USD500. Namun kenyataannya harga properti yang anjlok drastis itu masih tidak laku dijual. “Lantas ke mana uang USD1500 lainnya? Apakah hilang? Tidak, uang itu masih beredar di pasar.Namun psikologi masyarakat down akibat resesi ekonomi. Kondisi itu membuat mereka enggan melakukan pembelian. Meski punya uang, mereka akan lebih memilih menabung ketimbang membelanjakannya,”papar dia. Untuk itu, kreativitas pelaku bisnis sangat diperlukan agar bisa tetap tumbuh di masa krisis.
Tung mencontohkan, kreativitas yang dilakukan pemilik Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Lestari, salah satu BPR terbesar di Bali.BPR Lestari justru tumbuh dengan mengesankan seiring dengan peristiwa insiden Bom Bali I dan II.Padahal, tragedi pengeboman yang telah menewaskan ratusan orang membuat sektor perekonomian Bali terancam ambruk karena masyarakat ragu akan keamanan di Bali.
Awalnya bank ini hanya memiliki aset tidak lebih dari Rp1 miliar yang tidak kunjung mengalami peningkatan selama bertahuntahun. Namun, ketika terjadi peristiwa Bom Bali I, justru kinerjanya mengalami pertumbuhan hingga memiliki total nilai aset Rp6 miliar, kemudian meningkat Rp12 miliar saat Bom Bali II.Hingga saat ini BPR ini telah memiliki total nilai aset Rp60 miliar.
Apa rahasianya sehingga BPR Lestari justru tumbuh fantastis pada saat Bali sedang mengalami krisis akibat insiden bom? Pada saat krisis,banyak pelaku usaha yang lari atau bahkan menghentikan usahanya.Pascabom Bali waktu itu, tidak banyak perbankan yang berani melakukan ekspansi kinerja.Peluang inilah yang diambil BPR Lestari untuk bisa bertumbuh. “Namun jangan menunggu sampai Bom Bali III untuk bisa tumbuh lagi. Sebab ini adalah tragedi yang membuat kita semua prihatin.Yang terpenting kita harus melihat sisi positif dari semua keadaan,”ujarnya.
Kasus BPR Lestari, menurut Tung, memberikan pelajaran bahwa di saat krisis pun peluang untuk tumbuh terbuka lebar. Syaratnya, strategi menjalankan usaha harus tepat.Di antaranya dari sisi marketing. Tidak sedikit perusahaan karena alasan krisis langsung memotong biaya pemasaran produk. Jelas hal ini menjadi kontraproduktif. Sebab marketing tetap diperlukan, apa pun keadaannya, agar kinerja perusahaan bisa tumbuh. “Sekarang marketingnya seperti apa? Kalau hanya brandingya sayang anggarannya.
Jadi harus marketing yang bisa diukur hasilnya dan manfaatnya signifikan untuk peningkatan penjualan,” ungkapnya. Strategi marketing yang dilakukan tidak hanya mengajak konsumen untuk membeli,melainkan juga meyakinkan mereka bahwa krisis tidak perlu berpengaruh kepada psikologi mereka. Selain itu, masa krisis menuntut perusahaan jeli melihat potensi pasar-pasar baru. Meskipun pasar lama, tentu saja masih tetap digarap. Jika dianggap sudah tidak potensial, pasar lama bisa ditinggalkan.
“Contoh adalah strategi yang dilakukan CEO Temasek yang justru menjual perusahaannya di AS dengan harga merugi untuk kemudian memindahkan usahanya ke China karena dianggap potensial,” tandasnya. Hal senada diungkapkan dosen senior Harvard Business School Bhaskar Chakravorti yang menyebutkan ide bagus tidaklah cukup untuk bisa berkompetisi pascaresesi saat ini. Ada banyak bagian lebih kompleks yang bisa membuat perusahaan lebih mengencangkan ikat pinggang dalam mengalokasikan anggarannya.
Modal masih bisa didapatkan untuk beberapa ide potensial. “Saya memiliki harapan besar pada masa ini karena ada beberapa alasan. Para wirausaha yang berhasil menangkap sumber daya yang terbatas memiliki potensi untuk bisa melakukannya dengan benar.Kekurangan dan kemalangan dalam kondisi saat ini adalah merupakan kekuatan untuk memfokuskan perhatian,” paparnya sebagaimana dilansir dalam situs Harvard Business School (23 Februari 2009).
Bagaimanapun pemberitaan saat ini, buktinya ada beberapa contoh pelaku bisnis yang berhasil. Banyak contoh produk dan jasa yang diluncurkan berbuah kesuksesan. Di antaranya, Motorola, Southwest Airlines,Revlon cosmetics, Hewlett-Packard,dan MTV. Menurut Chakravorti, ketika meluncurkan produk baru,perusahaan harus “memaksa”seorang pelaku usaha untuk mengidentifikasi peluang.Di antaranya dengan mendapatkan sumber daya kreatif, kemudian diberi nilai tambah dengan keuntungan kompetitif.
“Dalam sejarah, kita bisa berharap pada kemunculan banyak industri baru pada masa resesi 1930 dibandingkan dengan situasi kita saat ini. Dulu ada banyak bermunculan wirausaha baru yang kemudian memiliki brand,”ujarnya. Meski demikian,ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam masa resesi ekonomi.Di antaranya kebutuhan untuk menghilangkan pengaruh krisis. Kemudian, kebutuhan untuk munculnya kreativitas karena tersedianya waktu yang berlebihan atau tidak produktifnya tenaga kerja. Selain itu juga ada kebutuhan akan kemewahan yang terjangkau.
“Jadi, meski konsumen berhemat, bukan berarti mereka tidak akan menikmati produk yang memberikan kenyamanan dan hiburan. Sebab, mereka sudah mengalami hantaman psikologi akibat krisis. Jadi ciptakanlah produk yang memberikan nilai tambah bagi konsumen sehingga meski kondisi keuangan konsumen sedang cekak, karena menariknya penawaran, dia akan mempertimbangkan untuk membeli,” tandasnya.
referensi Media Seputar Indonesia, Sunday, 17 May 2009
Kreativitas bisnis adalah sebuah kunci sukses. Itulah asumsi yang dilontarkan pakar marketing revolution Tung Desem Waringin. Menurut dia, kreativitas pelaku bisnis dalam melakukan pemasaran sangat dibutuhkan dalam keadaan krisis. Sebab, krisis tidak hanya berakibat pada menurunnya daya beli masyarakat, tetapi juga menyerang psikologi masyarakat untuk menahan keinginan membeli. Dengan demikian kreativitas produsen atau perusahaan sangat dibutuhkan untuk bisa tetap menarik minat konsumen. “Krisis tidak mengakibatkan uang menjadi hilang.
Uang masih beredar di mana-mana. Di Amerika Serikat (AS) pun demikian. Jumlah uang tidak berkurang,justru malah bertambah dengan kebijakan pemerintah setempat. Jadi ini membutuhkan kreativitas para pelaku bisnis untuk bisa merebut pasar,”ujarnya. Tung menjelaskan, belajar kasus di Negeri Paman Sam, jumlah uang beredar semakin banyak.Misalnya, kredit macet properti untuk rumah yang sebelumnya dijual dengan harga USD2 juta per unit. Begitu resesi, hampir 20.000 nasabah kredit properti mengalami kredit macet.
Dengan kebijakan pemerintah, harga rumah pun diturunkan menjadi hanya USD500. Namun kenyataannya harga properti yang anjlok drastis itu masih tidak laku dijual. “Lantas ke mana uang USD1500 lainnya? Apakah hilang? Tidak, uang itu masih beredar di pasar.Namun psikologi masyarakat down akibat resesi ekonomi. Kondisi itu membuat mereka enggan melakukan pembelian. Meski punya uang, mereka akan lebih memilih menabung ketimbang membelanjakannya,”papar dia. Untuk itu, kreativitas pelaku bisnis sangat diperlukan agar bisa tetap tumbuh di masa krisis.
Tung mencontohkan, kreativitas yang dilakukan pemilik Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Lestari, salah satu BPR terbesar di Bali.BPR Lestari justru tumbuh dengan mengesankan seiring dengan peristiwa insiden Bom Bali I dan II.Padahal, tragedi pengeboman yang telah menewaskan ratusan orang membuat sektor perekonomian Bali terancam ambruk karena masyarakat ragu akan keamanan di Bali.
Awalnya bank ini hanya memiliki aset tidak lebih dari Rp1 miliar yang tidak kunjung mengalami peningkatan selama bertahuntahun. Namun, ketika terjadi peristiwa Bom Bali I, justru kinerjanya mengalami pertumbuhan hingga memiliki total nilai aset Rp6 miliar, kemudian meningkat Rp12 miliar saat Bom Bali II.Hingga saat ini BPR ini telah memiliki total nilai aset Rp60 miliar.
Apa rahasianya sehingga BPR Lestari justru tumbuh fantastis pada saat Bali sedang mengalami krisis akibat insiden bom? Pada saat krisis,banyak pelaku usaha yang lari atau bahkan menghentikan usahanya.Pascabom Bali waktu itu, tidak banyak perbankan yang berani melakukan ekspansi kinerja.Peluang inilah yang diambil BPR Lestari untuk bisa bertumbuh. “Namun jangan menunggu sampai Bom Bali III untuk bisa tumbuh lagi. Sebab ini adalah tragedi yang membuat kita semua prihatin.Yang terpenting kita harus melihat sisi positif dari semua keadaan,”ujarnya.
Kasus BPR Lestari, menurut Tung, memberikan pelajaran bahwa di saat krisis pun peluang untuk tumbuh terbuka lebar. Syaratnya, strategi menjalankan usaha harus tepat.Di antaranya dari sisi marketing. Tidak sedikit perusahaan karena alasan krisis langsung memotong biaya pemasaran produk. Jelas hal ini menjadi kontraproduktif. Sebab marketing tetap diperlukan, apa pun keadaannya, agar kinerja perusahaan bisa tumbuh. “Sekarang marketingnya seperti apa? Kalau hanya brandingya sayang anggarannya.
Jadi harus marketing yang bisa diukur hasilnya dan manfaatnya signifikan untuk peningkatan penjualan,” ungkapnya. Strategi marketing yang dilakukan tidak hanya mengajak konsumen untuk membeli,melainkan juga meyakinkan mereka bahwa krisis tidak perlu berpengaruh kepada psikologi mereka. Selain itu, masa krisis menuntut perusahaan jeli melihat potensi pasar-pasar baru. Meskipun pasar lama, tentu saja masih tetap digarap. Jika dianggap sudah tidak potensial, pasar lama bisa ditinggalkan.
“Contoh adalah strategi yang dilakukan CEO Temasek yang justru menjual perusahaannya di AS dengan harga merugi untuk kemudian memindahkan usahanya ke China karena dianggap potensial,” tandasnya. Hal senada diungkapkan dosen senior Harvard Business School Bhaskar Chakravorti yang menyebutkan ide bagus tidaklah cukup untuk bisa berkompetisi pascaresesi saat ini. Ada banyak bagian lebih kompleks yang bisa membuat perusahaan lebih mengencangkan ikat pinggang dalam mengalokasikan anggarannya.
Modal masih bisa didapatkan untuk beberapa ide potensial. “Saya memiliki harapan besar pada masa ini karena ada beberapa alasan. Para wirausaha yang berhasil menangkap sumber daya yang terbatas memiliki potensi untuk bisa melakukannya dengan benar.Kekurangan dan kemalangan dalam kondisi saat ini adalah merupakan kekuatan untuk memfokuskan perhatian,” paparnya sebagaimana dilansir dalam situs Harvard Business School (23 Februari 2009).
Bagaimanapun pemberitaan saat ini, buktinya ada beberapa contoh pelaku bisnis yang berhasil. Banyak contoh produk dan jasa yang diluncurkan berbuah kesuksesan. Di antaranya, Motorola, Southwest Airlines,Revlon cosmetics, Hewlett-Packard,dan MTV. Menurut Chakravorti, ketika meluncurkan produk baru,perusahaan harus “memaksa”seorang pelaku usaha untuk mengidentifikasi peluang.Di antaranya dengan mendapatkan sumber daya kreatif, kemudian diberi nilai tambah dengan keuntungan kompetitif.
“Dalam sejarah, kita bisa berharap pada kemunculan banyak industri baru pada masa resesi 1930 dibandingkan dengan situasi kita saat ini. Dulu ada banyak bermunculan wirausaha baru yang kemudian memiliki brand,”ujarnya. Meski demikian,ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam masa resesi ekonomi.Di antaranya kebutuhan untuk menghilangkan pengaruh krisis. Kemudian, kebutuhan untuk munculnya kreativitas karena tersedianya waktu yang berlebihan atau tidak produktifnya tenaga kerja. Selain itu juga ada kebutuhan akan kemewahan yang terjangkau.
“Jadi, meski konsumen berhemat, bukan berarti mereka tidak akan menikmati produk yang memberikan kenyamanan dan hiburan. Sebab, mereka sudah mengalami hantaman psikologi akibat krisis. Jadi ciptakanlah produk yang memberikan nilai tambah bagi konsumen sehingga meski kondisi keuangan konsumen sedang cekak, karena menariknya penawaran, dia akan mempertimbangkan untuk membeli,” tandasnya.
referensi Media Seputar Indonesia, Sunday, 17 May 2009
Langganan:
Postingan (Atom)