Tampilkan postingan dengan label Marketing - Selling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Marketing - Selling. Tampilkan semua postingan

Sabtu, Juni 06, 2009

Marketing Selling : EVOLUSI MARKETING


Perjalanan konsep pemasaran (marketing) telah melewati beberapa fase.Perusahaan harus mempertimbangkan misi,visi,dan nilai.Sementara perorangan harus mempertimbangkan pikiran.

Perubahan perilaku konsumen dan pasar menuntut perbaikan strategi pemasaran. Menurut guru pemasaran Philip Kotler, perubahan pola pemasaran paling tidak terbagi dalam tiga fase yakni pemasaran transaksional (pemasaran tradisional/ transactional marketing) yang terjadi pada era 1950-an, pemasaran relasional (relationship marketing) yang terjadi pada era 1980-an, serta pemasaran kolaboratif (collaborative marketing) yang terjadi pada era pasca-2000.

Philip Kotler yang juga dijuluki sebagai Bapak Marketing Modern ini menegaskan ada beberapa perbedaan fundamental dalam setiap fase perkembangan praktik pemasaran. Pada pola pemasaran transaksional, pandangan nilai yang dilakukan adalah perusahaan menawarkan sebuah pertukaran sehingga pandangan terhadap pasar didasarkan pada tempat di mana nilai tersebut dipertukarkan.

Peranan konsumen dalam fase ini hanya sebagai pembeli pasif, yang menjadi objek target penawaran. Perusahaan berperan mendefinisikan atau menciptakan nilai-nilai bagi pelanggan.Pola interaksi konsumen dan perusahaan hanya didasarkan pada survei konsumen untuk memperoleh informasi kebutuhan dan tanggapan mereka (konsumen).

Sementara pada fase pemasaran relasional, pandangan nilai didasarkan pada hubungan konsumen dan produsen dalam jangka waktu lama. Sedangkan pandangan pasar didasarkan pada beragamnya penawaran yang muncul. Pada fase ini terjadi relasi atau hubungan yang cukup erat antara konsumen dan produsen.

Perusahaan berperan menarik perhatian konsumen melalui pengembangan pola pemasaran yang menguntungkan konsumen itu sendiri. Pola relasinya dilakukan dengan pengamatan dan pemahaman terhadap konsumen secara adaptif. Dalam fase pemasaran kolaboratif, nilai yang dikembangkan berdasarkan pengalaman bersama antara produsen dan konsumen dalam memikirkan produk yang akan dikembangkan.

Pandangan pasar pada fase ini adalah sebuah forum di mana nilai itu dilakukan secara bekerja sama melalui dialog. Perusahaan berperan mendorong konsumen untuk mendefinisikan dan bekerja sama menciptakan nilai-nilai yang unik pada sebuah produk. Pola relasinya bersifat dialog aktif antara perusahaan dan konsumen dan komunitas lainnya.

Melihat ketiga fase tersebut, ada beberapa pergeseran utama dalam dunia pemasaran. Menurut Kotler,kegiatan pemasaran sebelumnya hanya dilakukan oleh divisi pemasaran. Kini setiap orang bisa melakukan pemasaran. Jika sebelumnya hanya diorganisasi unit produk,kini diorganisasi segmen pasar. Di masa lalu sebuah perusahaan harus memproduksi semua komponen produk, kini pola out-sourcing menjadi tren.

Sebelumnya perusahaan juga selalu melibatkan banyak supplier,kini sebaliknya. “Sebelumnya perusahaan-perusahaan sangat perhatian terhadap aset nyata yang berwujud (tangible assets). Kini perhatian perusahaan lebih tertuju pada asetaset tak berwujud (intangible assets). Dulu perusahaan membangun citra (brand) melalui iklan, kini melalui kinerja yang baik dan komunikasi yang terintegrasi,” ujar Kotler dalam acara Seminar Sehari “Marketing in Turbulent Times : Discovering Opportunities in a Recession with Chaotic Management System” yang diselenggarakan MarkPlus Inc di Jakarta (27/5).

Sisi metode penjualan juga mengalami perubahan. Dulu hanya dilakukan melalui toko (offline),kini dilakukan secara online. Sebelumnya penjualan dilakukan kepada setiap orang (perorangan),kini penjualan dilakukan dengan cara menjadi perusahaan terbaik dalam memberikan kepuasan terhadap target konsumen.

Jika sebelumnya perusahaan hanya fokus pada keuntungan hari ini, kini lebih fokus terhadap nilai-nilai bagi pelanggan dalam jangka panjang. Sebelumnya perusahaan lebih fokus pada bagaimana meningkatkan bagian dari kue pasar yang ada, kini lebih fokus pada mendapatkan pelanggan. Secara cakupan geografis, sebelumnya perusahaan lebih suka bersifat lokal,kini gabungan antara global dan lokal.

Jika dulu lebih fokus pada catatan keuangan,kini lebih perhatian pada catatan pemasaran. Terakhir, jika sebelumnya lebih fokus pada kepentingan pemegang saham,kini harus perhatian terhadap kepentingan seluruh stakeholder. Perusahaan yang sadar akan perubahan pola pemasaran ini juga harus berperan dalam memberdayakan konsumen.

Terutama jika sebelumnya informasi dari perusahaan ke konsumen bersifat satu arah, kini harus mempertimbangkan prinsip demokrasi. Artinya, dulu informasi yang ada sangat jarang diberikan, kini konsumen bisa mendapatkan informasi dari mana saja.Sebelumnya pelanggan tidak memiliki pemahaman yang baik terkait informasi perusahaan, kini konsumen menjadi lebih kritis dan memiliki pemahaman yang lebih baik.

Pertukaran informasi sebelumnya bersifat monolog, kini sebaliknya. Jika sebelumnya pemasaran bersifat perintah dan mengendalikan, kini harus bersifat kolaboratif dan berjaringan. Dengan demikian, terjadi pergeseran dalam jejaring kegiatan ekonomi. Menurut Kotler, dulu sangat dikenal dengan istilah ekonomi industri, kini berubah menjadi ekonomi jaringan.

Penjelasannya, di masa lalu seorang pegawai pemasaran dalam perusahaan layaknya seorang pemburu, kini dia harus mengubah pola kerjanya menjadi tukang kebun. Artinya, dia harus menyisir semua lahan untuk melayani semua konsumen. Sebelumnya pelanggan hanya dianggap sebagai objek, kini konsumen harus dianggap sebagai relasi.

Demikian juga kegiatan pemasaran yang sebelumnya hanya untuk memaksimalkan transaksi, kini seorang pemasar harus berupaya mengoptimalkan nilai bagi pelanggan seumur hidup. Produk atau jasa yang ditawarkan sebelumnya biasanya bersifat standar, kini harus bisa menawarkan produk atau jasa sesuai keinginan konsumen. Akhirnya pemasar tidak lagi berinisiatif memulai komunikasi,tetapi konsumen yang memulainya.

Dari Monolog ke Dialog

Pola pemasaran dari monolog ke dialog sebenarnya juga sudah menjadi perhatian banyak praktisi pemasaran di dunia. Dalam hasil penelitian Economic Intelligence Unit (EIU) yang berjudul: The Future of Marketing From Monologue to Dialogueditemukan,dalam beberapa tahun silam kegiatan pemasaran masih bersifat monolog (satu arah).

Para praktisi pemasaran menginvestasikan waktu, bakat, dan uang untuk menyampaikan pesan yang didesain untuk bisa mencapai beberapa tahap penjualan. Di antaranya memberikan pemahaman tentang suatu produk kepada konsumen, penelitian, pertimbangan, uji coba produk, negosiasi, dan transaksi.

Tetapi pada 2004 sudah ada bukti contoh pemasaran metode dialog (dua arah) antara konsumen dan beberapa brandproduk dunia. Didorong dengan inovasi,kompetisi, dan pergeseran utama perilaku konsumen, dialog antara produsen dan konsumen telah menghilangkan bentuk praktik pemasaran tradisional.

Dalam survei yang melibatkan 228 responden praktisi pemasaran senior perusahaan dunia itu juga diungkapkan beberapa hasil kunci di antaranya para chief marketing officer (CMO) merasa perlu untuk memikirkan kembali empat elemen utama dalam kegiatan pemasaran mereka yakni pekerjaan branding (pencitraan), integrasi, pengukuran, dan akuntabilitas, serta organisasi internal untuk mengembangkan pemasaran online maupun offline agar pemasaran tersebut relevan, terukur, akuntabel, dan berdampak pada pertumbuhan signifikan untuk meraih pasar.

sumber : Sindo, Sunday, 31 May 2009

Rabu, Juni 03, 2009

Marketing Selling : The Truth About Selling (9-Conclusion)

In Part 1 of “The Truth About Selling”, I highlighted that the reality about selling is that, after you remove the jargon and the fancy names and terminologies, selling is about 4 main aspects, namely :

  1. Selling is a process
  2. Selling is a numbers game
  3. Selling is all about having good inter-personal communication and relationship
  4. Selling is all about discipline

I also explained the Sales Process and the fact that to excel as a sales person, you will have to excel in each and every stage of this sales process. The better you are at each stage, the better your performance as a sales person.

In “The Truth About Selling Parts 1,2,3,4,5,6,7 and 8 we had described the first 8 steps of the Sales Process in great detail. I hope that you can now see that Selling is a Process, and that each step is a technique and has to be properly mastered.

In this article, we shall Summarize all the points that we have explained in all the 8 previous articles.

Stage 1 – Leads & Referrals


“Leads” are to the sales person what blood is to the body. A good sales person must continually be able to generate new leads. There are several ways to generate leads.

§ From your existing circle of friends/relatives

§ From your extended circle of friends/relatives (friends of friends, friends of relatives, relatives of friends, relatives of relatives)

§ From people that you meet daily

§ Referral from happy and satisfied customers

Of the four sources of leads and referrals, the first and the last are the most promising. Successful sales people are continually getting an in-flow of good quality leads and referrals. So the question is simple.

§ Do you have a continuous in-flow of good quality leads ? If no, what do you have to do to get it ?

§ Are your existing clients actively giving you referrals ? If not, why ? Are they dissatisfied with your current level of support and service ? Or are you simply not asking them for it ?

Remember, without leads, your sales performance will dry up very quickly. This is the primary reason why some sales people seem to do very well in the first 2 years on the job, and then after that, their performance just goes down, down, down. Yet other sales people seem to bet better and better with the years. The main difference is their ability (or inability) to generate leads and referrals.

Stage 2 – Making Telephone Appointments

Once you have succeeded to get leads and referrals, the next step is to telephone these prospective clients to make an appointment to meet them. If you can’t even make an appointment to meet the prospective client, how are you ever going to have an opportunity to explain to him how your products/services can benefit him, much less sell to him ? Many sales people are extremely weak in Stage 2.

Even within this Telephone Stage, there are sub-processes.

  1. You will have to get past the “gatekeeper” (secretary, receptionist, etc) ! A good sales person has learnt all the necessary skills to get past the gatekeeper (not by out-tricking the gatekeeper !) but by getting the gatekeeper to help/co-operate with the sales person.
  2. After getting past the gatekeeper, you will speak directly with the decision-maker. You will then have to convince the decision maker that it is worth is time to see you face-to-face.

When you are telephoning to make an appointment, remember 2 basic principles :

§ Your ability to get an appointment by telephone is critical to your success as a sales person

§ You must not sell your product/services on the phone. The only thing that you are selling on the phone is an appointment !

Use Power Statements !

Stage 3 – Establishing Rapport

When you meet the potential customer, the human aspect of the interaction is most important. There is a popular saying in selling :

No rapport, no sale !

Establishing a good rapport with your customer so important because :

§ People buy based on 3 primary considerations:

  • Your Company (its reputation & reliability)
  • Your Product (as a solution to their problems / value for money, etc)
  • YOU

Of the 3 considerations, from my experience in Indonesia, number 3 (YOU) is still the most important deciding factor.

§ You need to gather as much information as possible about the prospective customer. You need to gather information such as his needs, his priorities, his constraints, his concerns, his doubts, his personalities, his budget, his hot buttons, the decision making process in his company, whether or not he is actually the decision-maker, the problems he is facing, whether or not he already has an existing supplier, if yes, is his relationship with the supplier good or bad, etc.

With the right information about the prospective client, you are now in a better position to design/propose a SOLUTION that is appropriate and matches with all the above. Yet incredibly, many sales people dive straight into product presentation without any fact-finding and still hope to get an order !!

Stage 4 – Presentation & Overcoming Objections

This stage could be relatively simple and smooth-sailing or a horrible nightmare ! It all depends on how much accurate fact-finding you have conducted in Stage 3.


If you had established a good rapport with the potential customer, truly uncovered his needs/problems/constraints/motivation to buy/the true decision-maker, etc then this Stage becomes quite smooth sailing because you will be offering him the exact solution to his problems and therefore he will have less objections.

Still, during the Presentation Stage, there are some basic principles that you have to observe.

How you present depends on whether you are presenting to an individual or a team (audience). Each type of audience will require some different approaches.

As part of the Presentation stage, you will inevitably face some Objections. Sales people must realize that objections are part of the sales presentation and that they have to prepare thoroughly to face objections. One way to do this is by preparing and having a Sales Script.

Stage 5 – Close The Deal !

For the sales person, this is the climax after having gone through the tedious, stressful and often painful stages 1,2,3 and 4. ! However, as with all the other stages of the selling process, there are proper techniques which can help you to improve your success stage. Sales people should learn to ask for the order from the very beginning.

The “Closing” or “Asking for the Order” is a PROCESS rather than an event. An effective sales person does not wait till the last part of his presentation / meeting to ask for the order. Instead, he is continually “conditioning” and preparing his customer for the stage “Yes” stage.

During the Closing stage, there are several points that you have to pay attention :

§ Watch against your Attitude during Closing time

§ There are things that you will have to do during closing time to calm the customer

§ You have to be competent at watching and correctly interpreting your customer’s body language

§ There are Closing Techniques that will be useful to help you to get the sale when you use them correctly


Stage 6 – The “Delivery” Stage

The Delivery Stage is a very important stage because it marks a CHANGE IN STATUS.

From PROSPECT to CUSTOMER / CLIENT

From SALES PERSON to BUSINESS PARTNER / RELIABLE FRIEND

From SELLING TO THE PROSPECT to SERVING THE CUSTOMER

From PROMISING TO DELIVER to DELIVERING THE PROMISE

This is the stage that the customer gets the FIRST EXPERIENCE (FIRST IMPRESSION) of the quality of your service and the service provided by your company.

This is the stage that the customer either feels that “Yes, you and your company are reliable and would be a good long term business partner”

Or

This is the stage that he sighs to himself “Oh boy ! Here is the beginning of my headaches ! I wish I had not bought from them !”

Therefore, the “Delivery” stage is the FIRST opportunity for the company (and the sales person) to show to the customer how responsible (or irresponsible!) he is in delivering his promise!

Stage 7 – The “Service” Stage

Many sales people have the WRONG attitude that selling process (and therefore their responsibility to the customer) ENDS at the Closing Stage (Stage 5). Consequently, they neglect Stages 6 and 7 and leave these stages to their colleagues in the Delivery Department, After-Sales Department, Customer Support Department, Technical Department, etc. This is NOT WRONG, but this practice creates disadvantages to the sales person himself !

Remember this

If you do not serve your customer well AFTER the sale, then you are depriving yourself for future sales (and referrals) that you could actually have got from these customers. It’s your loss.

Therefore, as a sales person, MUST take time and effort to service this customer.

Stage 8 – The “Follow-up and Cross-Sell” Stage

Stage 8 can be considered the most pleasant stage of the Sales Process. However, many sales people consider this stage to be the most awkward, embarrassing and difficult stage ! Why the contrast in opinion ?

The answer is very straight-forward.

The “Follow-up and Cross-Sell” Stage is pleasant if the sales person has serviced his customer well. It becomes awkward and embarrassing the sales person had disappointed his customer or had poor after-sales service.

So once again, the problems faced in Stage 8 are a direct consequence of neglecting Stages 6 (Delivery) & 7 (Service).

So, do you have a SYSTEM that REMINDS you when to follow-up on which customer ?

Understand and make full use of THE POWER OF 500

§ On average, a person knows 500 people. So if you know one person, you can actually gain access to 500 people. So every satisfied / happy customer is a door to 500 other potential customers ! So make maximum use of the Power of 500 and ask for a referral !

If you do not ask for a referral, how in the world will your customer know that you need his help ??!!!

Remember, Stage 8 is a HIDDEN GOLDMINE for the sales person who :

§ Performs very well in Stages 6 & 7, and

§ Who ASKS for referrals

So you can now see that selling is indeed a process. To become an effective and successful sales person, you must pay attention to EVERY stage of the selling process.

Penulis : James Gwee

Senin, Juni 01, 2009

Marketing Selling : Cara Menjual Es Krim seharga USD 1.000 (lebih kurang Rp. 10 Juta) per gelas


APAKAH Anda menyukai es krim? Merek apa yang Anda sukai dan mengapa Anda memilihnya? Apa alasannya? Bagi sebagian orang yang menyukai es krim,mungkin salah satu pertimbangannya adalah merek es krimnya, bentuknya, atau mungkin juga karena rasanya.

Jika Anda memang penggemar es krim kemudian diberi informasi untuk membeli es krim seharga USD1.000 (lebih kurang Rp 10 juta) per gelasnya, apakah Anda mau membelinya? Mungkin dari Anda ada yang bertanya, ”Mana mungkin ada es krim yang harganya semahal itu?” Atau mungkin ada yang mengatakan, ”Mana ada orang mau membeli es krim semahal itu?”Mungkin pula banyak orang akan bertanyatanya jika ditawari es krim seharga Rp10 juta per gelasnya.

Di dalam Marketing Revolution, sebenarnya kita bisa menjual suatu barang atau jasa dengan harga yang tinggi sekalipun dan orang tetap ada yang mau membelinya asalkan produk atau jasa yang kita tawarkan antara lain mampu membuat penawaran yang luar biasa menariknya. Penawaran dilengkapi detail proses pembuatan dan bahan produk. Berikutnya, dikomunikasikan dengan cara yang tepat.

Ini akan membuat orang semakin yakin akan apa yang mereka beli. Sebagai contohnya, apakah Anda pernah mendengar Golden Opulence Sundae? Itulah nama es krim termahal di dunia seharga USD1.000 . Ternyata meskipun es krim tersebut sangatlah mahal, tetapi tetap saja ada pembelinya. Mengapa es krim semahal itu tetap saja dibeli konsumen?

Salah satu penyebabnya karena penjual es krim tersebut senantiasa memaparkan dengan detail proses dan apa saja bahan untuk membuat 1 gelas Golden Opulence Sundae. Kemudian dikomunikasikan dengan cara yang tepat. Golden Opulence Sundae terdiri atas bahan-bahan yang sangat bermutu dari berbagai penjuru dunia,mulai dari sendoknya yang terbuat dari emas 18 karat,kemudian gelasnya berupa crystal goblet (gelas minum berbentuk piala) seperti yang digunakan di Vatikan.

Kemudian, di dalam gelas diletakkan edible gold leaf(lembaran emas) 23 karat. Golden Opulence Sundae diracik dari kombinasi bahan termahal yang sangat langka, yaitu amedei porceleana. Berikutnya, cokelat yang sangat langka Chuao chocolate yang berasal dari pulau kecil di Venezuela. Bahan-bahan ini kemudian dimasukkan ke dalam es krim tahitian vanilayang spesial.Es krim diselimuti dengan kertas emas (asli) yang bisa dimakan dan candied fruit dari Paris yang sangat lezat.

Tidak cukup itu, ditambahkan juga almondyang dibungkus emas 23 karat dan dihiasi dengan sugar flower. Ditambah dengan kaviar yang sangat mahal Grand Passion Caviar.Sebagai sentuhan akhir, diberi taburan emas murni. Apakah Anda bisa membayangkan bentuk es krim yang seperti itu? Mungkin memang tidak setiap saat es krim itu terjual (seperti es krim pada umumnya ).

Dengan bisa menjual es krim tersebut, setidaknya tempat atau pengusaha es krim tersebut mulai mendapat publisitas yang baik. Ini memungkinkan pula produknya yang lain (yang lebih murah ) akan bisa semakin laku terjual. Walau hanya laku 10 setahun, es krim ini membuat restorannya terkenal, mendapat Guinness World Record, plus dapat publisitas gratis.Anda mau beli? Ini alamatnya: 225 East 60th Street,New York.

Cara seperti ini juga bisa kita praktikkan dalam bisnis yang kita jalankan. Berikan nilai tambah yang sangat luar biasa pada produk atau jasa Anda,komunikasikannilaitambahnya dengan cara yang tepat, kemudian faktor itu kalikan (antara lain dengan publisitas, diliput berbagai media karena ada unsur unik,ada nilai tambah, dan layak berita). Saatnya untuk berpraktik, semoga sukses.Salam dahsyat.(*)

TUNG DESEM WARINGIN
Pelatih Sukses No 1 di Indonesia
The most Powerful People and
Ideas in Business 2005

Kamis, Mei 21, 2009

Marketing Selling : Biaya Iklan Bisa Tak Terbatas

APAKAH Anda pernah melihat di koran ada iklan yang berbunyi: Ikuti seminar gratis…di Hotel A…., atau datanglah dalam acara kami, dan dapatkan cek kesehatan secara gratis!

Dan dapatkan pula hadiah langsung yang menarik untuk 100 orang pertama yang datang, atau berbagai bentuk iklan lainnya yang menyertakan kata gratis atau hadiah langsung? Menanggapi iklan tersebut, ternyata tidak sedikit orang yang mengatakan, ”Memangnya mereka tidak rugi? Mengadakan seminar atau acara bagus, tapi tiket dan biayanya gratis, di hotel yang berkelas lagi, dan masih diberi hadiah pula”. Atau ada yang berkata, ”Dari mana mereka bisa untung?” Serta masih banyak lagi respons lainnya.

Dari pengalaman saya sendiri, biaya iklan kita sebenarnya bisa tidak terbatas. Artinya, kita juga bisa memberikan sesuatu yang gratis (dan tentu saja juga bermanfaat). Kita bisa melakukannya berulang kali, bahkan dengan biaya tak terbatas. Tentu saja dalam hal ini yang kita lakukan bukan hanya mengeluarkan biaya iklan sebanyak mungkin dan tanpa hasil.Yang saya lakukan adalah selalu membuat suatu iklan yang menghasilkan karena hasilnya telah saya ukur.

Sebagai contohnya: Jika kita ingin mengadakan suatu acara dan kita mengundang peserta secara gratis, di suatu hotel yang bagus,memang kita harus mengeluarkan modal terlebih dahulu antara lain untuk iklan di koran, biaya hotel, dan sebagainya. Namun, jika yang datang atau merespons acara yang kita adakan cukup banyak, misalnya 1.000 orang, dan akhirnya di acara yang kita adakan kita berhasil menjual apa yang kita tawarkan kepada 100 orang saja, dan yang kita jual senilai Rp3 juta per itemnya, sedangkan biaya produksi sesuatu yang kita tawarkan/jual hanya Rp1 juta, maka meski di depan kita harus mengeluarkan biaya hotel, iklan, dan sebagainya (misalnya dengan total pengeluaran Rp30 juta), pada akhirnya kita berhasil mendapatkan penjualan sebesar Rp3 juta x 100 orang atau Rp300 juta.

Kita masih memiliki keuntungan mencapai lebih kurang Rp170 juta (setelah dikurangi biayabiaya pengeluaran). Apakah Anda mau mengulangi hal tersebut? Tentu saja banyak orang akan mau mengulangi kembali jika hasilnya seperti itu, kendati kelihatannya di awal kita harus mengeluarkan biaya cukup besar sekali pun. Jadi kuncinya, jika biaya per pelanggan jauh lebih kecil atau setidaknya lebih kecil dari hasil keuntungan bersih per pelanggan, atau dengan kata lain jika keuntungan bersih Anda per pelanggan dari hasil penjualan jauh lebih besar dari biaya per pelanggan, sudah tentu kita akan bisa mengeluarkan biaya iklan tidak terbatas, bisa diulangi terus, karena sudah terbukti memberikan hasil yang dahsyat.

Selalu diingat, semuanya harus selalu diukur. Dalam hal ini memang kita membutuhkan suatu keahlian dalam bidang pemasaran supaya respons iklannya tinggi dan hasil penjualannya juga tinggi. Dan selalu diingat, agar mendapatkan respons yang tinggi, kita perlu membuat konsep iklannya dengan matang. Informasikan nilai tambah akan apa yang Anda tawarkan. Berikan sensational offer yang dahsyat sehingga orang sangat tertarik untuk melihat iklan Anda dan selanjutnya melakukan tindakan untuk mendatangi atau menghubungi Anda.

Seperti yang telah saya tuliskan sebelumnya, untuk membuat suatu iklan yang efektif, kita harus memperhatikan faktor headline- nya. Karena mengganti headline dengan yang lebih tepat ternyata bisa membuat peningkatan hasil pemasaran atau respons yang lebih dahsyat. Selamat praktik! (*)

TUNG DESEM WARINGIN
Pelatih Sukses No 1 di Indonesia The most Powerful People and Ideas in Business 2005

Referensi : Media Seputar Indonesia, Sunday, 17 May 2009