Tampilkan postingan dengan label Kisah Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Tokoh. Tampilkan semua postingan

Rabu, Juni 03, 2009

Tokoh Inspirasi : Usain Bolt, Fokus Meraih Cita-Cita Sejak Usia Belia


Berbekal kemauan keras,Usain Bolt terjun total menekuni olahraga sejak belia.Pria kelahiran 21 Agustus 1986 di kota kecil Trelawny,Jamaika,itu tak lagi memikirkan bidang lain selain olahraga.

Kehidupan anak dari pasangan Jennifer dan Wellesley Bolt, keluarga yang menyandarkan ekonominya dari usaha toko kelontong itu,benar-benar tak bisa pisah dari dunia yang penuh dengan peluh, kerja keras dan disiplin tersebut. ”Saat saya kecil, tak ada hal lain yang saya pikirkan selain olahraga,” kata Bolt suatu ketika.

Selain bersekolah,masa kanakkanak Bolt nyaris dihabiskan untuk bermain sepak bola dan kriket bersama saudara lelakinya, Sadeeki. Selain Sadeeki, Bolt memiliki saudara perempuan bernama Sherinee. Meski sepak bola dan kriket adalah olahraga favorit Bolt, tapi potensi yang dimilikinya adalah berlari.

Bolt terlihat sangat kencang saat menggiring bola melewati hadangan saudaranya yang senantiasa setia menemaninya bermain sepak bola. Potensi lari yang dimiliki Bolt terlihat pertama kali saat mengikuti kejuaraan lari tahunan antarsekolah dasar tingkat nasional. Di usianya yang baru menginjak 12 tahun, dia menjadi pelari tercepat pada jarak 100 meter.

Karena olahraga telah menjadi jiwanya, sewaktu memasuki William Knibb Memorial High School, Bolt pun tak bisa pisah dari aktivitas tersebut.Namun, melihat potensi lari yang dimiliki siswanya, pelatih kriketnya kala itu menganjurkannya untuk mengikuti lomba lari. Dari sinilah bakat dan potensi Bolt mulai terlihat nyata.

Di bawah bimbingan mantan atlet lari 100 meter Olimpiade Pablo McNeil dan Dwayne Barret, seluruh potensi Bolt di lintasan atletik diasah. Neil dan Barret berperan besar mengasah bakat Bolt ke level sebenarnya. Faktanya,William Knibb Memorial High School memiliki sejarah panjang dalam mencetak murid-muridnya menjadi atlet hebat. Sebut saja Michael Green. Green tercatat sebagai atlet lari spesialis 100 meter.

Meski tak mampu meraih prestasi maksimal, dia tercatat sebagai siswa tercepat di sekolahnya pada 1989. Prestasi Bolt di tingkat junior diraih pada 2001, saat mampu meraih perak pada kejuaraan lari tingkat SMU. Dia mencatatkan waktu 22,04 detik pada lomba 200 meter.

McNeil kemudian menjadi pelatih utamanya, meski terkadang Mc- Neil mengeluhkan sikap Bolt yang dinilainya kurang berdedikasi dalam berlatih karena terlalu sering bercanda. Matang dalam kompetisi SMU, Bolt mewakili Jamaika untuk pertandingan tingkat Karibia.Bolt meraih medali perak setelah mencatatkan waktu 48,82 detik pada jarak 400 meter pada CARIFTA Games 2001.

Bolt juga meraih perak pada 200 meter dengan catatan waktu 21,81 detik. Bolt tampil untuk pertama kalinya di panggung atletik dunia pada IAAF World Youth Championship di Debrecen, Hungaria pada 2001. Turun di nomor 200 meter,dia gagal masuk kualifikasi untuk final. Meski demikian,dia mampu memperbaiki rekor pribadinya menjadi 21,73 detik di nomor 200 meter.

Masuknya Glen Mills sebagai pelatih barunya menggantikan McNeil dan juga pelatih lainnya, Fitz Coleman,membawa perubahan besar dalam karier profesional Bolt. Bakatnya semakin terasah dan kemampuan larinya semakin maksimal. Puncaknya, Bolt sukses meraih tiga medali emas pada ajang Olimpiade Beijing 2008 lalu. Salah satunya dinomorbergengsi100meter, dia sukses memecahkan rekor dunia.

Selasa, Juni 02, 2009

Tokoh Inspirasi : Nathaniel Anthony Ayers, Penderita Gangguan Mental yang Sukses Menjadi Musisi


Nathaniel Anthony Ayers membuktikan bahwa dia mampu menginspirasi banyak orang dengan bakat musik yang luar biasa.Gangguan mental,schizophrenia, tak menghalangi nya untuk terus bermusik.

LAHIR 58 tahun silam dari keluarga Afro-Amerika di Cleveland, Amerika Serikat, Ayers dianugerahi bakat musik luar biasa. Bakat ini ditunjang dengan minat serta ambisi Ayers menjadi musisi hebat. Jalan hidup Ayers untuk menjadi musisi terasa semakin mudah saat dia menerima beasiswa dari sekolah musik Juilliard yang sangat bergengsi di New York pada pertengahan 1970-an.

Ayers merupakan satu dari sedikit mahasiswa berkulit hitam yang sanggup menembus masuk sekolah tersebut.Di sekolah itu Ayers memfokuskan diri untuk mempelajari bas serta cello. “Ayers memiliki bakat dan kemampuan luar biasa. Dia ditakdirkan untuk menjadi musisi hebat.

Saya selalu meyakinkan Ayers bahwa dia bisa menjadi orang hebat karena bakat, kecintaan, dan obsesinya pada musik,” tutur Harry Barnoff, guru musik bas di Cleveland Orchestra yang pernah mengajari Ayers di Juilliard School. Tapi dunia Ayers seolah runtuh saat dia divonis sebagain penderita schizophrenia.

Dia pun harus keluar dari Juilliard setelah sempat mengecap ilmu satu tahun di sana. Schizophrenia adalah kelainan otak yang kronis.Orang yang menderita schizophrenia dapat berbicara halhal yang tidak masuk akal, sering berhalusinasi,dan menarik diri dari hubungan antarpribadi normal. Ayers kemudian kembali ke rumah dan harus menjalani serangkaian terapi untuk menyembuhkan penyakit itu.

Setelah ibunya meninggal pada 2000 Ayers pindah ke Los Angeles karena mengira ayahnya tinggal di sana. Tanpa tempat tinggal dan pekerjaan tetap dia lantas menjadi gelandangan di kota itu. Dia terbiasa menghadapi kekerasan. Untuk tidur Ayers bahkan menggunakan biolanya sebagai bantal.

Demi menyambung hidup, dia mengamen dengan memanfaatkan alat-alat musik setengah rusak seperti biola yang senarnya tinggal dua atau cello yang tidak dipakai orang lagi. Sialnya, alat musik apa adanya ini pun sering dicuri orang. Selain mengamen di jalanan,Ayers bekerja di restoran-restoran fast food untuk mencari uang demi mengganti alat-alat musiknya yang dicuri.

Dia mempelajari biola secara autodidak dan mengaku sangat nyaman memainkan alat musik gesek itu. Kehidupannya mulai berubah saat Steve Lopez melihat permainan musiknya di Pershing Square, LA. Lopez yang tak lain kolumnis Los Angeles Times ini sangat tertarik dengan pertunjukan Ayers yang hanya menggunakan biola dengan dua senar di tengah hiruk-pikuk lalu lintas kota LA.

Lopez kemudian mengganti senarsenar tersebut dan meminta Ayers memainkan karya-karya klasik seperti karya Beethoven. Melihat bakat sempurna Ayers, Lopez kemudian mencari tahu kehidupan musisi jalanan itu dan mengetahui Ayers pernah belajar di Juilliard School. Lopez bahkan membawa Ayers ke Lamp Community,tempat ribuan gelandangan mencari tempat tinggal dan bantuan.

Staf Lamp Community dan Lopez berusaha mencari tempat yang lebih nyaman bagi Ayers yang masih belum sembuh dari gangguan mentalnya. Semula Ayers menolak sebelum akhirnya tinggal di apartemen. Lopez juga membantunya meningkatkan kemampuan permainan musiknya dengan mengundang pemain cello Peter Snyder yang memberi les privat bagi Ayers di apartemennya.

Namun Ayers menolak dan tidak kembali ke apartemennya itu setelah les pertama. Pada musim gugur 2005 Lopez mengatur rencana agar Ayers ke Disney Concert Hall untuk melihat kelompok Los Angeles Philharmonic berlatih.Ayers akhirnya diberi kesempatan untuk mengikuti tur mereka.Setelah itu dia pun banyak mendapat tawaran untuk menjadi bintang tamu LA Symphony.

Biasanya setelah konser selesai dan musisi pulang, Ayers akan memainkan biola sendirian di Disney Concert Hall. Lopez menulis kisah hidup Ayers dalam kolom di LA Times. Saat tulisan pertamanya keluar,seorang pembaca langsung menyumbang sebuah cello kepadanya. Pemilik klub di LA yakni Alexis Rivera of Little Pedro's Blue Bongo juga menawari Ayers sebagai bintang tamu dalam klubnya.

Selain uang,Ayers mendapat imbalan lain berupa makanan gratis. Melihat banyaknya perhatian dari pembaca kisah hidup Ayers dan perjuangan Lopez, tulisan kolom tersebut kemudian dibukukan dengan judul “The Soloist: A Lost Dream, An Unlikely Friendship, and the Redemptive Power of Music”.

Buku ini pun sudah difilmkan sutradara Joe Wright (Pride and Prejudice, Atonement) ke dalam layar lebar April silam. “Ayers sudah menunjukkan keberanian menghadapi hidup yang keras, meskipun memiliki gangguan mental. Dia adalah inspirasi banyak orang, saya hanya membantu dia saja,”tutur Lopez

Kamis, Mei 28, 2009

Tokoh Inspirasi : Sehat Sutardja, Anak Jakarta yang Menciptakan Komputer Terkecil


Apa yang akan Anda lakukan dengan komputer seharga USD40 (Rp400.000) yang berukuran mini? Boleh jadi sebagian orang bingung menjawab pertanyaan itu.

Namun,alat itulah yang diciptakan Sehat Sutardja,48. Sutardja mengerahkan ribuan pakar di perusahaannya, Marvell Technology Group, untuk menciptakan komputer terkecil dan termurah di dunia. Bentuk komputer itu hanya sebesar kotak adaptor laptop yang langsung dimasukkan ke dalam colokan listrik. Memang, tidak ada layar monitor yang menempel ke ”komputer colok” tersebut karena itu semacam CPU supercanggih yang akan menghubungkan semua fasilitas komputer secara nirkabel, termasuk peralatan rumah tangga lain.

Di dalam kotak mungil itu tersimpan chip Marvell berkekuatan 1,2 gigahertz yang menjalankan fungsi layaknya prosesor komputer umumnya dan menjalankan sistem operasi Linux. ”Di dalam komputer itu tidak terlalu rumit,”tutur Sutardja yang dilahirkan di Jakarta itu kepada New York Times. Menurut CEO Marvell itu, di dalam komputer colok itu hanya ada beberapa chip dan sangat hemat energi karena listrik yang digunakannya hanya sebesar yang digunakan untuk mengisi baterai telepon seluler.

Sutardja menambahkan, karena komputer itu menggunakan chip yang didesain untuk telepon seluler, listrik yang digunakan pun jauh lebih irit daripada chip komputer umumnya.Ini tentu menjadikan komputer mini tersebut sangat ramah lingkungan, tatkala persediaan energi global menipis. Setelah 13 tahun membangun Marvell Technology Group, Sutardja berhasil membawa perusahaannya sebagai pemain utama dalam industri semikonduktor dunia.

Penjualan tahunannya mencapai lebih dari USD2 miliar per tahun.Perusahaannyalah yang selama ini banyak memproduksi prosesor mikro yang mengontrol harddisk dan penyuplai chip untuk telepon seluler di berbagai perusahaan multinasional. Kini komputer terkecil di dunia ciptaan Sutardja diperkirakan menjadi revolusi di dunia teknologi informasi. Sutardja berharap para pengguna komputer di rumahrumah di seluruh penjuru dunia bakal tertarik membeli produknya karena merupakan kombinasi antara peranti lunak open-source dan beberapa chip berkekuatan hebat dengan harga yang ”sangat” murah ”sekali.

” Komputer colok pertama di dunia itu dapat dihubungkan dengan sebuah hard drive sebesar USB.Kemudian, komputer itulah yang akan memungkinkan Anda melakukan berbagai aktivitas dengan internet. ”Ini menciptakan pusat data yang cerdas untuk di rumah,” papar Sutardja yang saudara kandungnya, Pantas Sutardja, turut menjadi pendiri Marvell. Ketertarikan Sutardja pada barang-barang elektronik muncul sejak usia dini.Pada saat berusia 12 tahun dan tinggal di Jakarta, dia suka membongkar radio. Dia juga suka bermain-main dengan pengatur daya listrik.

Sejak kecil dia bermimpi mendesain dan membuat peralatan elektroniknya sendiri. Melihat gelagat itu, orang tua Sutardja awalnya tidak terlalu mendukung. Mereka mengira putra sulungnya hanya akan menjadi tukang reparasi televisi. ”Mereka ingin saya menjadi dokter,” papar Sutardja. Meski dilahirkan dan tumbuh di Jakarta, dia banyak menghabiskan hidupnya di Amerika Serikat setelah menyelesaikan pendidikan SMA.Dia meraih gelar sarjana Teknik Elektrik dari Iowa State University dan menyabet Master of Science serta PhD di bidang teknik elektrik dan ilmu komputer dari University of California, Berkeley.

Pada 2007, majalah Forbes memasukkannya dalam daftar miliarder dunia dengan kekayaan bersih sebesar USD1 miliar. Ini menjadikannya masuk dalam klub eksklusif miliarder dunia untuk pertama kalinya. (syarifudin)

Tokoh Inspirasi : WARREN BUFFETT , Orang TERKAYA DUNIA yang Tetap BERSAHAJA


NEBRASKA (SI) – Omaha bukanlah kota besar yang gemerlap. Namun, warga kota di negara bagian Nebraska,Amerika Serikat (AS), berpenduduk sekitar 400.000 ini boleh berbangga. Mereka memiliki seorang warga yang sangat terhormat dan bisa dibanggakan hingga ke seluruh penjuru dunia.

Dialah orang terkaya kedua di dunia,Warren Edward Buffett, bos perusahaan investasi Berkshire Hathaway. Warga kota terkadang secara tidak sengaja bertemu dengan Buffett di toko, restoran, atau di jalan-jalan kota tanpa merasakan bahwa dia adalah orang terkaya kedua dunia dengan kekayaan sekitar USD37 miliar (sekitar Rp380 triliun). Buffett yang lahir di Omaha pada 30 Agustus 1930 memulai usahanya sejak dini dengan menjadi loper koran di kotanya ini.

Pada awal 1960- an, Buffett mulai berinvestasi di Berkshire yang saat itu merupakan perusahaan pembuat tekstil. Buffett kemudian menjadikan Berkshire sebagai perusahaan induk untuk lebih dari 50 perusahaan. Buffett sering disebut sebagai Sage of Omaha oleh para investor karena dia hanya berinvestasi pada perusahaan-perusahaan besar yang mudah dimengerti bisnisnya,mendominasi pasar saham, serta memiliki pendapatan konsisten manajemen kuat.Pada 2008 lalu, Buffett bahkan sempat menggeser posisi pendiri Microsoft Corp, Bill Gates, sebagai orang terkaya di dunia.

Kendati telah menjadi miliarder, gaya hidup Buffett yang sederhana tetap melekatinya sampai sekarang dan membuat para warga kota mengenalnya dengan akrab di berbagai pertemuan.Rumahnya di kawasan Dundee, Omaha, juga sederhana tanpa memperlihatkan model dan arsitektur sebagai rumah orang kaya raya dunia. Ketika harian Seputar Indonesia (SI) melintasi rumah tersebut, suasana depan tempat tinggal itu tampak sepi dan tenang seolah tanpa penghuni.

Buffett tetap tinggal di rumah tersebut sejak dibelinya pada 1958 seharga USD31.000. Rumah itu kini ditaksir seharga USD700.000. Rumah yang tergolong sederhana di AS untuk ukuran orang terkaya dunia. Para tetangganya sering melihatnya jalan santai di depan rumahnya,kemudianmenyapanya denganakrab,”Morning, Warren,how are you today?” Terkadang Buffett mengundang teman-temannya ke rumah, termasuk pesaingnya sekaligus sahabatnya, orang nomor satu terkaya dunia Bill Gates, untuk bermain kartu bridge. Menurut warga kota, Buffett bisa menghabiskan waktunya bermain bridge hingga 12 jam sehari. Bahkan dia ikut mensponsori pertandingan dengan trofi Buffett Cup di Omaha.

Saking sederhananya, Buffett masih mengendarai mobil tuanya jika ingin menghadiri acara-acara undangan warga kota. Suatu ketika, menurut cerita Val McPherson,seorang warga Omaha, Buffett mengundang Gates untuk makan di sebuah restoran favoritnya di Omaha. Buffett bersama Gates mengendarai sebuah mobil baru pemberian anaknya,Susie. Seusai makan malam, mereka kembali ke tempat parkir, tetapi Buffett tidak bisa membuka pintu mobil barunya itu yang menggunakan kombinasi password.

Daripada pusing, Buffett kemudian menelepon taksi dan akhirnya dua orang terkaya dunia ini pulang ke rumah Buffett dengan menggunakan taksi dan meninggalkan mobil baru tersebut. Sebagai sosok yang sederhana, Buffett banyak memberikan sumbangan kepada berbagai yayasan, universitas,dan organisasi sosial di Omaha. Bahkan sifat filantropisnya ditunjukkan terhadap Gates dengan memberikan sumbangan kepada Gates Foundation. Anaknya, Susie,kini mengetuai yayasan Susan A Buffett, mengambil nama mendiang istri Buffett, dengan memberikan sumbangan kepada berbagai organisasi.

Dua anaknya lagi Peter dan Howard tinggal di Chicago dengan usaha mereka sendiri. Buffett memang sosok sederhana, bahkan Desember 2006 lalu ada yang mengatakan Buffett tidak mempunyai telepon genggam, tidak mempunyai komputer di mejanya, dan masih mengendarai sendiri mobilnya,Cadillac DTS

Minggu, Mei 24, 2009

Tokoh Inspirasi : KOUROSH MOZOUNI, capres termuda Iran 12th


Jabatan presiden bukan hanya diperebutkan bagi orang dewasa.Di Iran,Kourosh Mozouni,bocah berusia 12 tahun,juga mendaftarkan diri untuk mengikuti pemilihan presiden.

”IBU-IBU,anak-anak, dan para remaja akan memberikan suaranya untuk saya,” katanya seperti dikutip PressTV belum lama ini. Dia optimistis, seluruh kaum ibu yang menyayangi anak-anak mendukung langkahnya. Program-program yang ditawarkannya cukup unik.

Salah satunya, apabila terpilih, dia berjanji melarang gamekomputer. Dia juga berjanji menaikkan upah para lelaki sehingga para ibu tidak perlu bekerja. Dalam kebijakan luar negerinya, Mozouni akan bernegosiasi dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama untuk membeli Kepulauan Hawaii. Pulau itu akan digunakan untuk menampung penduduk Israel.

”Dengan demikian, bangsa Palestina dapat hidup damai di tanah mereka,” paparnya. Ketika ditanya apakah dia mengetahui tentang ”yellow cake” (suatu zat yang digunakan untuk bahan bakar nuklir)? Mozouni menjawab diplomatis. ”Seorang presiden tidak harus tahu semuanya,” paparnya dengan percaya diri seperti dikutip Harian The Scotsman.

Jabatan Presiden Iran memang berkait dengan kontroversi internasional mengenai program nuklir Iran.Namun, Mozouni terus membela diri. ”Anda semua memiliki kulkas di rumah, tetapi apakah Anda mengetahui bagian-bagian kulkas tersebut? Semua orang Iran percaya bahwa energi nuklir adalah hak sah mereka, tetapi hal ini tidak berarti bahwa mereka harus tahu semua tentang itu,” ungkapnya.

Program perlindungan terhadap anak-anak juga menjadi prioritas. Mozouni berjanji akan menghentikan pembunuhan terhadap anak-anak tertindas di dunia, termasuk anak-anak di Gaza, jika terpilih menjadi presiden. Hanya saja, Mozouni kalah bersaing dengan pendaftar lain untuk menjadi kandidat presiden. Namun, semangatnya untuk maju mendaftar presiden Iran patut diteladani.

Dari sekitar 1.000 pendaftar, Dewan Garda Revolusi akhirnya hanya menyaring empat kandidat calon presiden Iran.Keempat kandidat dimaksud adalah Presiden Mahmoud Ahmadinejad yang didukung kubu konservatif; mantan Perdana Menteri Mirhossein Mousavi, seorang moderat; mantan ketua parlemen Mehdi Karoubi, ulama reformis; dan Mohsen Rezaie, komandan Pasukan Garda Revolusi Iran.

Sebenarnya sejak awal Mozouni mengetahui akan kalah dibandingkan kandidat lain.Namun, dia ingin mewarnai politik Iran yang cenderung dikuasai ulama dan politikus kawakan. Dia ingin menyadarkan rakyat Iran bahwa politik itu milik semua warga tanpa memandang status. Dalam peraturan yang ditentukan Dewan Garda Revolusi yang terdiri atas enam ulama senior dan enam ahli hukum Islam, presiden harus warga Iran yang berusia minimal 18 tahun.

Selain itu, kandidat presiden Iran merupakan politisi ataupun ulama terkemuka. Kecewakah Mozouni tidak terpilih sebagai calon presiden? ”Tidak,”jawabnya tegas. ”Saya sudah berencana untuk maju dalam pemilihan presiden berikutnya,” lanjutnya.Dia mengatakan dirinya sangat-sangat menghormati para kandidat lain, tetapi tujuannya jauh lebih penting dibandingkan mereka. Sebelumnya, Mozouni pun telah berpikir tentang koalisi. Semuanya dipikirkan matang.

”Jika pencalonan saya disetujui, saya akan menunjuk Ahmadinejad sebagai wakil saya,” ujarnya.Mozouni juga berjanji tidak akan melakukan nepotisme dengan menunjuk ayahnya sendiri sebagai menteri dalam kabinet Iran yang akan datang. Tanggapan mengenai program yang diusung Mozouni pun muncul.

Editorial harian Star Bulletin yang terbit di Honolulu,Hawaii,mengejek program-program tersebut sebagai ”final fantasy”.”Dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk menyelesaikan ketegangan internasional. Kirimkan bocah itu kembali ke sekolah-sekolah diplomasi,” tulis harian tersebut.

Referensi : SINDO, Monday, 25 May 2009

Tokoh Inspirasi : Jane Lee,Esther Tan dan Lee Li Hui menjadi wanita pertama Singapura Penakluk Everest

Bersenjatakan spanduk dan plakat, mahasiswi Republik Polytechnic Atiqa Zaini dan Renuka Singh berada di jarak sekitar 3.519 km dari Nepal,rumah puncak tertinggi di dunia,Gunung Everest.

Namun,itu tidak menghentikan langkah kedua gadis berusia 19 tahun itu untuk berbagi kesenangan dan juga ketegangan,merasa sebagai wanita pertama Singapura yang berhasil menaklukkan Everest. Sekitar pukul 03.45 pada Rabu (20/05) waktu setempat atau pukul 05.00 WIB,Jane Lee,Esther Tan dan Lee Li Hui menjadi wanita pertama Singapura yang berada di puncak pada ketinggian 8.850 meter di atas permukaan air laut, di perbatasan Nepal-China.

Trio itu adalah bagian dari Tim Everest Wanita Singapura dari Asosiasi Agen Travel Nasional Singapura (Natas) yang beranggotakan enam orang. Lee Li Hui,27,adalah orang pertama yang mencapai puncak pada pukul 03.45, diikuti Tan, 26, yang tiba pada pukul 03.54, kemudian disusul pemimpin tim Jane Lee,25, pada pukul 04.43. Ketiga wanita itu belum bisa dikontak karena mereka masih turun gunung.

Mereka diperkirakan akan segera tiba di base camp Everest. Meski demikian, pelatih mereka, Lim Kim Boon,yang juga manajer base camp mereka,memberikan sedikit gambaran tentang bagaimana perasaan para wanita itu berada di puncak dunia. ”Mereka sangat senang, kecuali dengan pemandangan yang tidak sebagus seperti apa yang mereka harapkan.

Dan mereka semua sangat bahagia dan sangat senang,” tutur Lim kepada Channels NewsAsia. Kabar tentang tiga wanita yang mencapai Everest itu langsung menyebar dengan cepat di Mountaineering Alps Club yang beranggotakan 30 orang di Republic Polytechnic, di mana Jane Lee bekerja sebagai seorang petugas pendidik eksperimental dan Lee Li Hui adalah seorang akademisi.

Pada pukul 13.00 waktu setempat, sekitar 80 mahasiswa dan staf berkumpul di Republic Polytechnic Centre untuk merayakan prestasi wanita-wanita ini. ”Mereka telah membuat sekolah bangga dan negara ini bangga dengan menjadi tim wanita pertama dari sini yang mampu mencapai puncak Everest,” kata Singh, yang menjadi satu dari 10 anggota wanita klub pendaki gunung yang didirikan September lalu oleh Jane Lee.

”Jane adalah teladan kami. Saya ingin berada di sepatunya suatu hari nanti dan menaklukkan Everest,” ujar Atiqah, mahasiswa komputer bisnis tahun kedua. Tim penakluk Everest ini berangkat ke Kathmandu, Nepal pada 21 Maret lalu.Mereka telah menghabiskan waktu selama dua bulan untuk beradaptasi dan bersiap mendaki puncak tertinggi dunia itu.

Pendakian itu adalah sebuah perjalanan berat bagi para wanita, yang telah menyaksikan avalanche (longsor salju) di Khumbu Icefall saat menjalani ronde adaptasi ketiga mereka. Tim ini juga dipaksa membatalkan pendakian pertama mereka pada Senin (11/5 dan Selasa (12/5) karena terjadi perubahan cuaca. Jumat (15/5) lalu, tim Jane Lee meninggalkan base camp Everest (yang berada di ketinggian 5.300 meter) dan memulai pendakian mereka untuk mencapai puncak dari camp 4 (yang berada di ketinggian 7.950 meter) sebelum pada akhirnya berhasil mencapai puncak.

Tim kedua yang dianggotai Joanne dan Lee Peh Gee dijadwalkan segera mengikuti jejak tim pertama untuk mencapai puncak. Ketua tim bernama Sim Yi Hui, 27, tidak mengikuti pendakian itu karena menderita sakit di dada.(*)

Low Lin Fhoong
linfhoong@mediacorp.com.sgThis e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it

Tokoh Inspirasi : Patrick Farrell, Menggugah Sisi Humanis Lewat Foto

Kecintaan Patrick Farrell pada dunia fotografi tidak hanya mengubah pandangan hidupnya.Kecintaan itu mampu pula menggugah sisi humanis orang lain lewat foto-fotonya.

SEBUAH gambar bisa mewakili seribu kata. Ungkapan ini jelas dipahami oleh Farrell.Lewat karyakaryanya, pria berusia 49 tahun ini menunjukkan bahwa foto mampu menceritakan banyak hal, dari kebahagiaan, keputusasaan, hingga duka mendalam.

Salah satu karya terbaik Farrell ”A People in Despair: Haiti’s Year Without Mercy” menjadi contoh terbaik.Kumpulan foto berisi 19 jepretan Farrell dalam hitam putih tersebut dinobatkan sebagai foto terbaik Pulitzer untuk kategori Breaking News Photography tahun ini.Foto-foto ini menampilkan dengan jelas beratnya penderitaan serta keputusasaan warga Haiti yang terkena badai Ike pada 2008.

”Tidak ada yang bisa menandingi sebuah foto. Gambar di foto akan melekat di pikiran Anda lebih dari hal lain,” tutur Farrell yang bekerja untuk Miami Herald tersebut. Kendati karya-karyanya banyak mendapat sanjungan,Farrell akan lebih bahagia melihat fotonya menggerakkan simpati orang untuk membantu Haiti.

Hanya beberapa hari setelah foto-foto itu terbit di tempatnya bekerja,bantuan memang mengalir deras ke negara itu. Untuk itu secara khusus Presiden Haiti Rene Preval berterima kasih padanya. ”Saya sangat bangga dengan foto-foto itu, tetapi saya juga tahu ada begitu banyak karya hebat di luar sana.

Yang terpenting adalah bagaimana orang memberi perhatian pada Haiti karena foto itu. Jika foto saya mampu membuat orang tergerak, itu bagus,” papar Farrell. Secara jujur Farrell mengaku sangat emosional saat mengambil gambar-gambar yang menyayat hati itu.”Saya sedang berada di kabut saat itu.

Saya bahkan bingung bagaimana mengambil gambar yang tepat. Saya hanya tahu kalau momen itu sangat penting dan akhirnya gambar itu diambil. Bencana itu sangat mengerikan,” tambahnya. Juri Pulitzer mengatakan, terpilihnya foto Farrell sebagai yang terbaik karena foto itu mampu menampilkan hal yang provokatif, dengan komposisi gambar keputusasaan tanpa cela.

Foto tersebut juga dinobatkan sebagai Picture of this Year (2009) dalam berbagai kompetisi foto jurnalistik di dunia. Lahir dan besar di Miami Florida, Farrell merupakan warga asli Miami dan datang dari keluarga besar. Pria berambut panjang ini merupakan anak ketujuh dari 12 bersaudara pasangan Dr James dan Peggie Farrell.

Farrell sudah jatuh cinta dengan dunia fotografi sejak berusia 13 tahun. Kecintaannya pada fotografi bisa dibilang tidak disengaja. Saat berusia 11 tahun Farrell kecil yang sedang merayakan Hallowen mengalami kecelakaan. Mata kanannya tertembak peluru mainan yang membuatnya harus dirawat di rumah sakit.

Karena cederanya dia harus merelakan kedua matanya diperban selama seminggu dalam masa pemulihan di rumah sakit. Saat itulah Farrell mulai mengubah pandangannya tentang dunia.Dia pun mulai menaruh perhatian besar pada cahaya dan detail yang sangat berguna dalam dunia fotografi. Bakat besarnya di bidang fotografi sudah tampak menonjol saat SMA.

Kala belajar di Christopher Columbus High School dia berkeliling di AS dan menghasilkan karya-karya yang membuatnya dinobatkan sebagai fotografer sekolah tahunan. Demi fotografi Farrell bahkan membuat saudarasaudaranya marah besar karena merusak kamar mandi orang tuanya untuk dijadikan studio kamar gelap pribadi.

Setelah lulus SMU dia melanjutkan studi di Universitas Miami, pada jurusan seni di bidang televisi dan produksi film. Dia lulus pada 1981, kemudian bekerja di beberapa komunitas penerbitan di Florida. Namanya segera mencuri perhatian saat dinobatkan sebagai Photographer of the Year (1992, 1993) oleh asosiasi wartawan foto nasional wilayah 6.

Sebelumnya dia juga mengantongi penghargaan sebagai Photographer of the Year (1989, 1993) untuk Amerika wilayah selatan. Farrell menjadi staf fotografer Miami Herald sejak 1987. Dia juga menjadi bagian dari kemenangan Miami Herald di Pulitzer Prize untuk Layanan Publik saat meliput badai di Florida Selatan pada 1993.

Sebagai wartawan foto Farrell jelas sudah kenyang pengalaman dan petualangan. Berbagai negara sudah dia datangi. Selain di Turki, dia juga pernah bertugas di Haiti, Kuba, serta beberapa negara di Amerika Selatan dan Tengah.Tak jarang Farrell mesti bolak-balik ke beberapa negara demi tugasnya.

Tokoh Inspirasi : TETSUKO KUROYANAGI, Mengabdikan Diri pada Dunia Anak-Anak

Berkat buku ”Totto Chan,Gadis Cilik di Jendela”, Tetsuko Kuroyanagi meraih penghargaan dari Badan PBB urusan Perlindungan Anak (UNICEF) atas pengabdiannya selama 25 tahun membela kepentingan anak di seluruh dunia.

KUROYANAGI ditunjuk menjadi duta internasional UNICEF sejak 1984. Dia pun memecahkan rekor menjadi duta UNICEF terlama. Setiap tahun,dia mengunjungi dua negara.

Dia pernah berkunjung ke Afghanistan bertemu dengan para gadis dan perempuan yang terkekang di bawah pemerintahan Taliban. Sebanyak 29 misi ke berbagai negara telah dilaluinya.Tahun ini, untuk ke-30 kali, dia akan berkunjung ke Nepal.

”Saya ingin mengungkapkan rasa terima kasih kepada UNICEF yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk menjadi duta selama ini,”ungkap Kuroyanagi seperti dikutip situs resmi UNICEF. ”Saya tidak semata-mata menjadi aktris dan selebriti,tetapi saya juga mengemban misi UNICEF untuk bertemu dengan anak-anak di seluruh dunia,”imbuhnya.

Perempuan Asia pertama yang menjadi duta UNICEF itu mengaku memiliki pengalaman bertemu dengan anak-anak yang direkrut menjadi tentara,anak-anak yang kelaparan, dan para anak perempuan yang menjadi korban pemerkosaan selama konflik. ”Sungguh sangat menyakitkan melihat realitas yang ada,”paparnya.

Kuroyanagi tertarik dengan dunia pendidikan setelah dia menulis sebuah buku yang bercerita mengenai kenangan masa kecilnya. Buku yang berjudul ”Totto- Chan,Gadis Cilik di Jendela”. Buku tersebut bercerita tentang gadis kecil bernama Totto- Chan (panggilan kecil Kuroyanagi). Ibu guru menganggap Totto- Chan nakal, padahal gadis cilik itu hanya punya rasa ingin tahu yang besar.

Itulah sebabnya ia gemar berdiri di depan jendela selama pelajaran berlangsung.Karena para guru sudah tak tahan lagi, akhirnya Totto-Chan dikeluarkan dari sekolah. Akhirnya, Mama Totto-Chan pun mendaftarkan Totto-Chan ke Tomoe Gakuen.Totto-Chan girang sekali,di sekolah itu para murid belajar di gerbong kereta yang dijadikan kelas.

Dia bisa belajar sambil menikmati pemandangan di luar gerbong dan membayangkan sedang melakukan perjalanan. Di Tomoe Gakuen, para murid juga boleh mengubah urutan pelajaran sesuai keinginan mereka.

Ada yang memulai hari dengan belajar fisika,ada yang mendahulukan menggambar,ada yang ingin belajar bahasa dulu,sesuka mereka.Karena sekolah itu begitu unik,Totto-Chan pun merasa heran. Bukan cuma itu, Totto-Chan juga mendapatkan banyak pelajaran berharga tentang persahabatan, rasa hormat, dan menghargai orang lain serta kebebasan menjadi diri sendiri.

Buku Totto-Chan tersebut diterjemahkan ke bahasa Indonesia pada 1984. Hingga kini, buku tersebut telah diterjemahkan lebih dari 30 bahasa. Bukan cuma itu, Totto-Chan menciptakan sejarah dalam dunia penerbitan di Jepang saat itu dan terjual sebanyak lebih dari 4,5 juta buku dalam setahun.

Bahkan,Kuroyanagi menerima hadiah untuk buku nonfiksi dan tiga penghargaan lain.Pemerintah Jepang memutuskan buku ini sebagai buku wajib dalam dunia pendidikan. Hingga saat ini,Totto- Chan pun menjadi buku pegangan bagi para pengajar dan pendidik di berbagai negara mengenai konsep pendidikan.

Kemudian, pada 1997,Kuroyanagi membuat buku yang berjudul ”Totto-chan's Children”. Buku tersebut menceritakan pengalamannya sebagai duta UNICEF. Dalam buku itu, dia menggugah semua orang atas banyaknya penderitaan anak-anak di dunia ini. Selain penulis, perempuan kelahiran 9 Agustus 1933 tersebut juga dikenal sebagai aktris terkemuka di Jepang.

Namanya mulai melambung sejak 1975 ketika dia membuat program televisi bertajuk Tetsuko's Room (Tetsuko no Heya) di Asahi. Program itu merupakan program talk show pertama di Jepang. Dalam acara tersebut,Kuroyanagi membahas berbagai hal,mulai politik, olahraga hingga berbagai isu lain. Tetsuko's Room pun menjadi fenomena di Jepang.

Dia 14 kali meraih penghargaan aktris televisi paling favorit dalam Japanese Cultural Broadcasting Award yang digelar setiap tahun. Perempuan kelahiran Nogisaka, Tokyo itu pada 2006 disebut oleh Donald Richie dalam bukunya mengenai Jepang berjudul Japanese Portraits: Pictures of Different People. Richie menganggap Kuroyanagi sebagai perempuan paling populer dan menginspirasi banyak orang.

Sebenarnya, Kuroyanagi bercita- cita menjadi seorang penyanyi opera hingga dia pun menempuh studi di Tokyo College of Music.Namun, dia tak menyesal cita-cita itu tak tercapai. Kuroyanagi juga menjadi perbincangan di kalangan media dan publik Jepang.

Majalah berbahasa Inggris di Jepang, Metropolis, menjuluki Kuroyanagi sebagai ”Tamanegi Oba-san” (Nenek Bawang). Pasalnya,Kuroyanagimemilikigaya rambut yang berbeda dan unik. Selain itu, jarang sekali orang yang meniru gaya rambut Kuroyanagi. (andika hendra m)

Tokoh Inspirasi : JOHN PAUL DEJORIA, Mantan Anak Jalanan yang Kini Jadi Miliarder

John Paul DeJoria, 65,merupakan ikon mimpi Amerika Serikat (AS).Pernah hidup di jalanan dan menjadi tunawisma,kini menjadi miliarder.

MELALUI John Paul Mitchell Systems (JPMS), dia menghasilkan lebih dari 100 produk yang dijual di ratusan ribu salon dan perawatan kecantikan di seluruh AS dan 45 negara lain. Setiap tahun omzetnya mencapai USD1 miliar.

DeJoria mengakui, pada awalnya sangat sulit menjalankan bisnis JPMS. Dia harus mendatangi satu salon ke salon lain demi menawarkan produk. “Ada perbedaan antara orang sukses dan tidak. Orang sukses selalu melakukan banyak hal dan terus mencoba jika gagal.Adapun orang tidak sukses tak berani mencoba dan berbuat,” papar De- Joria kepada IslandConnection.

Dalam menjalankan JPMS,De- Joria menerapkan filosofi,lakukan pekerjaan dengan keterbatasan. Tidak banyak pekerja yang direkrut, tetapi dia optimal memanfaatkan sumber daya yang ada. Manajemen ramping itulah yang menjadikan bisnisnya terus berkembang karena pengeluarannya bisa diatur. Selain itu,sabar dan kuat dalam menghadapi ancaman bangkrut juga harus dipersiapkan.

“Dipikirpikir, perusahaan yang saya dirikan mungkin lebih dari 50 kali kesempatan untuk bangkrut,” paparnya pada situs resmi JPMS paulmitchell. com. DeJoria terus mengembangkan berbagai sayap bisnis. Pada 1992, dia mendirikan The Patron Spirits Company bersama dengan mitra bisnisnya, Martin Crowley, dan kini telah meraih pendapatan USD1 miliar per tahun.

Selanjutnya, DeJoria mendirikan klub malam House of Blues dan kemudian dijual ke Live Nation senilai USD350 juta pada 2006. Dia memiliki saham di berbagai perusahaan seperti Pyrat Rum, Ultimat Vodka, Solar Utility, Touchstone Natural Gas,Three Star Energy,DiamondAudio,Harley Davidson Dealership, a Diamond Company, dan John Paul Pet Company, perusahaan yang menyediakan perawatan rambut dan bulu bagi binatang.

Berbagai kegiatan amal pun dilakukan DeJoria.Menurut dia, keberuntungan hidup yang dialaminya harus dibagi-bagi dengan orang-orang di sekitarnya. Dia selalu mengatakan, dirinya harus menjadi inspirasi orang-orang yang ingin maju. “Hidup tidak akan berarti jika Anda tidak menikmati setiap apa saja yang Anda lakukan,” paparnya sebagaimana dikutip Reuters.

Majalah Forbes menempatkan DeJoria sebagai orang terkaya dalam peringkat ke-261 dengan nilai kekayaan USD2,5 miliar. Sebenarnya, DeJoria yang lahir pada 13 April 1944 itu dikenal sebagai seorang miliarder yang berangkat dari nol.Sebelum mencapai kesuksesan, pria berusia 65 tahun itu pernah menjadi tunawisma.

Lelaki yang tinggal di Echo Park, Los Angeles, California,AS, itu merupakan putra kedua dari seorang imigran asal Italia dengan ibu berasal dari Yunani. Kedua orangtuanya bercerai saat DeJoria berusia dua tahun. Pada usia sembilan tahun, dia terpaksa berdagang kartu ucapan Natal bersama saudara lelakinya untuk menyambung hidup.

DeJoria dan saudaranya juga harus bangun pukul tiga pagi untuk mengantarkan koran ke rumah-rumah pelanggannya. Tak mampu membiayai hidup DeJoria,ibunya terpaksa mengirimkannya ke rumah panti asuhan di East Los Angeles.

Masa muda DeJoria pernah dihabiskan di jalanan. Bergaul dengan anak jalanan dan kelompok anak nakal di East Los Angeles. Kehidupan jalanan pun dirasakannya sebagai pelajaran yang sangat berarti dalam kehidupannya. (andika hendra m)