Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Rabu, Juni 03, 2009

Perkembangan Anak : Si Kecil Pun Punya Tabungan Sendiri

BELAJAR BERHEMAT : Sejumlah anak mendapatkan pengenalan sejak dini terhadap produk tabungan di salah satu bank. Pengelolaan keuangan perlu diajarkan kepada anak-anak sejak usia dini.

BUDAYAmenabung memang semestinya dibiasakan sejak dini kepada anak.Sebab,selain membuat anak tidak boros,juga membuat si kecil terbiasa mengatur keuangannya sendiri. Kebiasaan menabung akan sangat sulit dilakukan bila semenjak kecil dan remaja Anda tidak terbiasa dengan pola hidup hemat.

Banyak orang dewasa tidak tahu cara mengelola uang dengan benar karena ketika masih anak-anak mereka jarang atau tidak diperkenalkan dengan permasalahan uang. Orang tua merekalah yang melakukan semua kegiatan mulai berbelanja sampai menabung. Anak tidak diberikan kesempatan untuk mempelajari persoalan mengelola uang.

Padahal saat menginjak remaja, tentunya si anak itu juga akan berhadapan masalah pengelolaan uang. Jika ingin anak-anak Anda tumbuh besar menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab secara finansial, tentu kebiasaan tersebut haruslah ditanamkan pada si kecil. Sekarang ini, perbankan juga memberi perhatian mengenai keinginan anak untuk menabung.

Banyak bank yang sudah menawarkan tabungan khusus untuk si kecil. Dengan syarat yang mudah,begitu pula dengan setoran yang minimal, namun fasilitas yang diberikan tak jauh beda dengan tabungan biasa. Untuk setoran awal tabungan ini tergolong sangat rendah. Dengan dana yang berkisar Rp50.000 hingga Rp100.000, si anak sudah memiliki tabungan sendiri.

Untuk berikutnya, setoran minimal jauh lebih kecil lagi,yaitu Rp25.000.Sementara untuk fasilitas yang diberikan bank, tidak jauh beda dengan tabungan biasa.Malahan,beberapa bank memberikan keistimewaan bagi penabung kecil.Keistimewaan yang memang sesuai dengan dunia mereka.

Salah satunya Bank BRI melalui Tabungan BRI BritAma Junior. Tabungan ini merupakan pengembangan produk tabungan ke segmen anak-anak. Dari namanya saja,produk ini memang ditujukan untuk kalangan anak-anak dan remaja. Produk yang mengincar pasar perkotaan tersebut, ditujukan secara khusus untuk pasar anak sekolah TK,SD,SMP,dan SMA.

Pengemasan produk tabungan ini lebih melibatkan emosi anak (emotional selling) dengan dilengkapi berbagai fasilitas kemudahan dan tentunya fasilitas yang sangat menarik bagi kelompok anak. Selain untuk menunjang kebutuhan bisnis tabungan BRI, program ini juga bertujuan untuk ikut menyukseskan program Bank Indonesia ”Ayo ke Bank” dengan mengenalkan produk dan jasa layanan bank di usia sejak dini.

Nah, untuk bisa merangkul banyak kalangan tertarik menabung, BRI memberikan sejumlah keistimewaan, antara lain buku Tabungan BRI BritAma Junior yang diberikan secara gratis. Selain cuma-cuma, buku tabungan tersebut didesain secara khusus sesuai dengan dunia anak.Pada sampul buku tersebut, memiliki gambar karakter sejumlah tokoh kartun internasional, seperti Superman,Tom and Jerry ataupun Tweety.

Bukan cuma itu, kartu ATM/Debit Limited Edition juga diberi gambar sampul serupa. ”Produk ini menjadi pelengkap dari (produk) yang sebelumnya. Tidak fair jika kami selalu mengeluarkan produk untuk dewasa dan kebutuhan untuk anak sangat besar sehingga BritAma Junior bisa mendapat 100.000 rekening baru,” ujar Wakil Kepala Divisi Dana dan Jasa BRI Widodo Januarso.

Program ini juga dapat dikategorikan sebagai tabungan murah dengan berbagai ketentuan dan fasilitas yang menarik. Seperti gratis biaya administrasi bulanan, lalu fasilitas asuransi personal accident dengan minimal saldo Rp500.000. Selain itu, penabung Junior juga akan mendapatkan fasilitas untuk menggunakan electronic channel BRI seperti ribuan jaringan ATM BRI dan ATM lain yang tersebar secara nasional (ATM Bersama,ATM Link,dan ATMPrima),SMSBanking BRI,Kiosk Banking BRI serta fasilitas EDC dan Mini ATM BRI.

Bank lain yang memperkenalkan tabungan anak adalah Bank Bumiputera, dengan Bung Hari Junior. Nah, untuk tabungan ini, selain keistimewaan fasilitas yang mudah dan murah, nasabahnya juga bisa memiliki kerja sama dengan produk makanan waralaba McDonald’s.

Nasabah yang memiliki kartu ATM Bung Hari Junior secara otomatis juga menjadi anggota McKids’s. Sebab, kartu ATM tersebut memiliki fungsi sebagai kartu anggota McKid’s. Bank Bumiputera juga membundel tabungan untuk anak-anak berusia 16 tahun ini dengan asuransi kesehatan.Ada pergantian rawat inap antara Rp100.000 sampai Rp500.000 sehari, atau maksimal Rp36,5 juta sampai Rp182,5 juta setahun.

Penabung tak perlu membayar premi dan tak ada pengurangan saldo. ”Ini sejalan dengan program ’Ayo ke Bank’ milik pemerintah,” ujar Consumer Liability Product Development Department Head Bank Bumiputera Novarina AD. Sementara Bank Permata juga meluncurkan produk tabungan anak bernama PermataBintang.

Selasa, Juni 02, 2009

Perkembangan Anak : Tak Perlu Pengawasan Berlebih

ORANG tua sebaiknya ikut mengawasi anak yang sedang bersosialisasi di lingkungan barunya.Namun hindari melakukan pengawasan secara berlebihan.

“Pengawasan sangat diperlukan, terutama pada anak yang masih dalam masa perkembangan. Ini karena lingkungan yang sekarang itu sangat riskan,” ucap Shelomita Sulistiany lebih dikenal sebagai Shelomita. Dampak negatifnya bila orang tua tidak melakukan pengawasan adalah terjadinya suatu hal yang di luar dugaan sehingga mungkin akan mengancam keselamatan anak.

Namun, bukan berarti pengawasan dilakukan berlebihan. “Anak yang sedang bermain di taman misalnya, bagi orang tua cukup memperhatikan mereka dari pinggir saja. Biarkan mereka bermain dengan temannya, dengan pendekatan mereka sendiri,” ujarnya. Hal yang sama juga dikatakan psikolog keluarga dari I Love My Psychologist, Dra Psi Heryanti Satyadi MSi bahwa dalam membantu anak bersosialisasi, tidak perlu pengawasan yang berlebihan dari orang tua.

Orang tua cukup memberi fasilitasnya, terutama memberi waktu kepada anak untuk bermain dengan teman sebaya. Selain itu, orang tua juga tidak perlu membatasi gerak anak, tetapi yang perlu diajarkan adalah kepekaan sosial. Jadi anak diajarkan dapat melihat situasi sosial, menilai apa yang menjadi tuntutan sosial yang harus dipenuhi saat itu dari dirinya.

Kemudian anak dilatih untuk menjawab kebutuhan lingkungan sosial yang dihadapinya dengan keunikan pribadinya tanpa tekanan harus begini atau begitu. “Anak boleh menjadi dirinya namun tidak boleh melanggar social boundariesyang ada dan yang sudah dipahaminya,” ujarnya.Misalnya saja, anak bermain dengan teman-teman di lingkungan barunya.

Anak perlu diberi batasan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh ia lakukan bersama teman-temannya. Adapun bagi anak-anak yang dipilihkan orang tuanya bersekolah di rumah atau homeschooling, tidak perlu takut akan anak menjadi kurang pergaulan. Sosialisasi bisa dilakukan di luar rumah. Misal dengan teman rumahnya atau dengan orang yang ada di dalam rumah.

“Teman-teman yang ada di sekitar rumah bisa diajak bermain bersama dan diperkenalkan orang tuanya,” ucap Shelomita yang mempunyai lembaga di bidang home schooling “Langkahku child & family educare”. Shelomita mengajarkan sosialisasi bagi anak didik home schooling- nya dengan melakukan banyak kegiatan bersama berupa gathering yang mempertemukan antara orang tua murid yang tergabung dalam “Langkahku Child & Family Educare”.

“Walaupun mereka sekolah di rumah, minimal 2 bulan sekali anak-anak yang tergabung dalam ‘Langkahku child & family educare’ bertemu dan dijadikan sebagai ajang perkenalan mereka untuk lebih dekat,” ucap ibu tiga anak ini.

Sindo, Tuesday, 02 June 2009

Perkembangan Anak : Bersosialisasi di Tempat Baru

BAGIanak-anak,beradaptasi dengan lingkungan baru bukanlah hal yang mudah. Bila anak mengalami kesulitan,bantulahdengan tanpa paksaan.

Beberapa hari terakhir ini Alin sering mengurung diri di kamarnya. Sesekali ia mengintip anakanak yang sedang bermain di depan pagar rumahnya.Sejak pindah di rumah barunya,bocah berusia 3 tahun itu lebih sering menyendiri. Lingkungan baru yang belum dikenalnya membuat ia tidak percaya diri.

Tidak semua anak senang di lingkungan barunya. Ada anak yang memang sudah percaya diri di tempat baru, tetapi tidak sedikit juga anak yang memiliki tipe pemalu sehingga ia susah untuk beradaptasi di tempat barunya. Psikolog sekaligus pemerhati anak, Seto Mulyadi mengatakan, untuk anak yang mempunyai tipe pemalu,beradaptasi di tempat baru memang bukan hal yang gampang.

Nah,untuk membantu peran orang tua sangat dibutuhkan.Hendaknya Anda memberi penjelasan mengenai dunia luar dan diberikan secara bertahap.Jika anak pemalu sudah terbiasa, dan menjadi bisa,maka ia akan melangkah maju lebih cepat. “Anak dengan tipe pemalu jika dipaksakan mengenal dunia luar akan menjadi trauma,” ucap pria yang biasa disapa Kak Seto ini.

Setiap anak akan mengalami perubahan, dari yang tahu menjadi tidak tahu, dari yang besar menjadi kecil, dari yang SD menjadi SMP.“Setiap anak pasti akan tumbuh dan berkembang. Ajarkan anak dalam hal bergaul, melakukan pekerjaan, bersikap dan bertindak,” ungkap Kak Seto. Dikatakan Kak Seto,dalam hal ini juga perlu dilakukan simulasi atau pelatihan dalam mengenali dunia barunya.

Misalnya dalam hal mengenal lingkungan barunya di sekolah, dengan cara mengajak anak melihat gedung sekolahnya yang baru,memperkenalkan kepada guru-guru dan mengajarkan mereka bahwa guru-guru di SMP untuk satu mata pelajaran adalah satu. “Anak jadi tidak kaget pada saat hari pertama ia masuk sekolah jika sebelumnya sudah diperkenalkan dengan lingkungan barunya,” ucap Kak Seto.

Selain itu juga, Kak Seto mengatakan mendampingi anak di awal mereka masuk adalah sesuatu yang normal, tidak untuk memanjakan mereka, tetapi hanya mengantarkan mereka untuk membantu berlatih bicara kepada guru. Dikatakan psikolog keluarga dari I Love My Psychologist,Dra Psi Heryanti Satyadi MSi bahwa sejak anak berusia dua tahun, biasakan untuk masuk di lingkungan yang lebih luas dari sekadar lingkungan rumah.

Ajarkan anak untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang-orang lain yang sering dijumpai selain orang tua,pengasuh, atau anggota rumah lainnya. “Ajarkan anak menjawab sapaan atau pertanyaan dari orang lain dan menyapa orang yang ada di sekelilingnya,” tutur psikolog yang sedang disibukkan dengan kegiatan kuliah doktoral di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

Heryanti berpesan untuk jangan terlalu memaksakan anak bersikap ramah dan akrab dengan teman-teman yang baru dikenalnya. Biarkan anak meningkatkan tahap sosialisasinya sejalan dengan pertumbuhan usianya. Tiap anak memiliki gaya berbeda dalam menyesuaikan diri sesuai dengan temperamennya.

Ada yang sangat mudah masuk di lingkungan baru dan beradaptasi dengan orang-orang yang ada.Ada juga yang pendiam dan enggan bersosialisasi.“Tidak dapat dipaksakan akan reaksi sosial tiap anak yang berbeda-beda,”ujar psikolog yang aktif sebagai narasumber di pembinaan gender “Wanita Bijak” Indonesia ini.

Cara yang bisa ditempuh dalam membantu sang anak untuk menghadapi dunia barunya, menurut Kak Seto yang juga pemilik sanggar si Komo,ialah melakukan dialog atau komunikasi timbal balik dengan anak.Yakinkanlah kepada anak bahwa semua anakanak yang lain juga akan mengalami hal yang sama seperti ini.

Dikatakan artis sekaligus pemilik lembaga home schooling ”Langkahku Child & Family Educare” Shelomita Sulistiany, sosialisasi mempunyai dampak positif bagi orang yang melakukannya, termasuk anak-anak.”Sosialisasi bisa berdampak pada perkembangan anak, meningkatkan rasa kepercayaan dirinya, serta bagus untuk building team work, atau kerja sama dengan temannya,” tutur penyanyi yang juga lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini.

Di mana dampak itu paling terlihat adalah dari bahasa dan sikap yang diperoleh anak. Di saat anak-anak berteman di lingkungan, baik dengan teman-teman yang biasa berkata baik,maka bahasa mereka pun biasanya terbentuk menjadi baik.

Sindo, Tuesday, 02 June 2009

Kamis, Mei 28, 2009

Perkembangan Anak : Tumbuhkan Jiwa Seni Anak dengan Buku Bergambar

KOMPAS.com - Buku bergambar diyakini dapat meningkatkan perasaan anak-anak pada seni sejak usia dini.

Dalam kaitan itu, kini hingga 30 Juni mendatang diselenggarakan ceramah dan pameran yang menampilkan para pemenang dari Bologna International Children’s Book Fair di Kota Kecil Think, pusat pendidikan ilmiah di Shangai, dengan sasaran anak-anak daru usia 3 sampai 11 tahun.

Dengan maksud menghadirkan kisah peri kreatif kepada lebih banyak anak dan orang-tua, acara tersebut berusaha membuktikan bahwa setiap orang dapat menjadi terkenal seperti Hans Christian Andersen, pengarang Denmark yang terkenal dengan kebanyakan karyanya bercerita mengenai peri, selama mereka berusaha menelusuri kehidupan dengan hati mereka.

Sebagian besar pembicara dalam acara itu datang dari Taiwan. Bermacam kisah mengenai masa kecil mereka dan pengalaman melukis akan dibagi, sedangkan untuk menghadiri acara tersebut tak dipungut biaya.

Pang Yawen, seorang artis yang buku bergambar pertamanya dipilih oleh Bologna International Children’s Book Fair 2001, melakukan kunjungan pertamanya ke Shanghai selama libura Hari Buruh 1 Mei dan memberi ceramah dengan tema "Misteri Di Balik Buku Bergambar".

"Buku bergambar memiliki daya tarik yang tak tergantikan. Semua buku itu memiliki kata-kata sederhana yang memainkan peran penting dalam perkembangan bahasa, daya khayal, keindahan dan kreativitas anak," kata Pang.

"Dunia itu murni seperti kita melihat kisah peri. Kita dapat menjadi biasa dan membumi, tapi ada daya khayal pasti di dalam otak kita. Daya khayal adalah landasan hidup anak. Membaca buku bergambar dapat memberi mereka sayap agar bisa terbang," katanya.

Pang lulus dari Academy of Art University di St. Francisco, dengan bidang studi ilustrasi. Buku bergambar milik aktris tersebut "A Fox Lays On Eggs" dan "Doggie Scar Want To Be A Sheep" telah terjual lebih dari 10.000 eksemplar di seluruh dunia.

Karya Pang penuh kejenakaan dan humor, sehingga memberikan setiap gambar di setiap halaman penciptaan yang unik, dan gayanya yang hangat serta melukiskan hewan warna-warni telah diterima dengan baik oleh banyak pembaca.

"Keikutsertaan orang-tua sangat penting. Membacakan cerita kepada anak-anak bukan hanya memelihara hubungan erat dengan mereka, tapi juga memperluas ketertarikan mereka pada membaca," kata Pang, sebagaimana diberitakan kantor berita resmi Xinhua, Kamis (14/5).

"Kadangkala dengan dukungan, dampaknya akan lebih nyata. Membaca buku bergambar meningkatkan pemahaman anak mengenai gambar dan kehidupan. Mereka akan merasa lega ketika mereka mengetahui apa yang ada di balik rancangan sederhana," katanya.

Buat Pang, kunjungan ke Shanghai adalah pengalaman baru yang mendebarkan yang membawa inspirasi. Pang mengatakan ia berharap makin banyak anak akan "terbang dengan bebas di langit penuh peri".

Perkembangan Anak : Hati-hati Tentukan Potensi Bakat Anak !

Senin, 25 Mei 2009 | 16:40 WIB

KOMPAS.com - Kalangan orangtua diingatkan untuk lebih berhati-hati dalam membantu menentukan pilihan program studi di perguruan tinggi pada anak-anak yang lulus SLTA, agar tidak sampai salah hingga kemudian terjadi penyesalan.

Hal itu mengingat pilihan terbaik program studi adalah yang sesuai dengan potensi bakat anak, namun banyak terjadi salah pada minat anak-anak atau bahkan keinginan orangtua, yang sifatnya sesaat dan berubah-ubah, demikian terungkap dari seminar psikologi dan pendidikan di Denpasar, Minggu.

Pada acara bertema Mencetak Anak Juara Dari Rumah yang pesertanya melimpah sampai sekitar 1.000 orang sehingga harus dibagi dalam dua sesi itu, menampilkan pembicara, Instruktur Smart Primagama, Drs H Supriyadi dan psikolog dari Yogyakarta, Nurmey Nuruly, SPsi.

Supriyadi mengingatkan, pentingnya pihak sekolah maupun orangtua/walimurid
membantu menemukan potensi bakat pada anak-anak melalui berbagai metode, misalnya dengan mengajukan berbagai pertanyaan guna mengetahui mereka siap dan mudah atau kesulitan dalam menjawabnya.

"Jika beberapa pertanyaan dari salah satu bidang studi dapat dengan mudah dijawab, maka bidang studi itulah salah satu indikasi potensi bakatnya. Tetapi akan lebih akurat apabila melalui cara ilmiah seperti tes psikologi, metode sidik jari dan lainnya," katanya.

Sementara Rully menekankan pentingnya membangun suasana senang pada anak-anak, agar mampu dengan mudah mempelajari hal-hal yang sesuai dengan potensi maupun minatnya.

"Kenapa anak-anak suka sulit disuruh belajar, karena mereka berada dalam suasana yang tidak mendukung. Coba mereka senang, tidak disuruh pun akan rajin belajar," ucapnya seraya mengingatkan bahwa anak-anak bukan "orangtua kecil".

Penciptaan suasana senang, gembira, baik di rumah maupun di sekolah, akan mampu menggali potensi bakat yang bersangkutan, sehingga dapat memudahkan proses penjurusan di SLTA maupun pemilihan program studi ke jenjang perguruan tinggi.

Ia mengingatkan, bahwa selama ini banyak terjadi anak-anak menempuh studi yang sebenarnya tidak sesuai dengan potensi bakatnya, hanya karena menuruti keinginan orangtua atau minat sesaat yang didasarkan ajakan teman atau bahkan sekedar gengsi.

"Janganlah kita memaksakan anak-anak menempuh studi pada bidang yang tidak sesuai potensi, apalagi tidak diminati. Hal itu sama saja kita ’memenjarakan’ mereka selama masa studi. Tetapi kalau belajar sesuai potensi bakat, maka mereka akan enjoy dan hasilnya bisa memuaskan," tambahnya.


ABD
Sumber : Antara

Minggu, Mei 24, 2009

Perkembangan Anak : Sarapan Berkualitas untuk Anak

KOMPAS.com,Sabtu, 23 Mei 2009 - Sarapan pagi sangat penting untuk anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan dan selalu bergerak aktif. Sarapan yang sehat, tidak hanya mencukupi gizi anak tapi juga membuat otak belajar dan berkonsentrasi dengan baik.

Untuk anak 6-12 tahun, menu sarapan idealnya terdiri atas padi-padian atau gandum utuh, buah-buahan atau sayuran, kacang-kacangan, susu atau produk hewani lainnya. Porsi sarapan sebaiknya tidak terlalu banyak karena porsi besar akan mengganggu sistem pencernaannya. Kita bisa menambahkan makanan selingan pagi sehingga anak akan tercukupi energi sampai siang hari.

Sumber karbohidrat juga tidak harus nasi, kita bisa menggantinya dengan golongan serealia lain seperti gandum atau oat. Sereal adalah pilihan menu ideal buat sarapan mengingat kelengkapan kandungan gizi maupun nilai kepraktisannya. Sereal terbuat dari bahan alami dan mengandung lebih banyak serat yang dilengkapi dengan ragam vitamin. Dengan demikian, sereal akan mencukupi bukan saja kebutuhan energi, melainkan banyak zat gizi esensial. Memilih sereal untuk sarapan berarti sudah memenuhi seperempat kecukupan kalori selain kecukupan sekian vitamin, dan serat.

Tip menyiapkan sarapan sehat untuk anak:
1. Siapkan menu sarapan sehat dan bergizi seimbang.
2. Pilih menu sarapan yang praktis dan bervariasi dari berbagai jenis bahan makanan.
3. Sarapan tidak harus nasi. Sereal, roti, kentang, dan mie bisa menjadi alternatif.
4. Susu atau hasil olahannya seperti yogurt sangat dianjurkan.
5. Bisa dilengkapi dengan buah segar atau yang diblender.
6. Beri air minum yang cukup.
7. Berikan pula kesempatan buat anak merencanakan dan mempersiapkan sarapannya.

KELUARGA : 6 Janji yang Bikin Hubungan Makin Erat


KOMPAS.com, Minggu, 24 Mei 2009 - Sepuluh tahun pernikahan, seringkali menjadi tantangan tersendiri. Karir yang mulai mapan, ditambah anak-anak yang semakin besar, membuat kita lupa bagaimana indahnya mendengar sweet promise atau janji manis dari pasangan.

Padahal janji manis adalah medium untuk membuat kita selalu jatuh cinta pada pasangan. Karena janji manis merupakan blueprint dari rasa cinta yang dilakoni setiap harinya. Psikolog John Gottman, PhD, bahkan menyakini, janji manis yang diucapkan setiap hari akan mengkristal dalam hati. "Kristalisasi inilah yang nantinya menjadi wujud nyata dari cinta."

Lalu janji manis seperti apa yang dapat melanggengkan komitmen berbagi hidup bersama pasangan?

"I vow to not go to bed angry"
Memberikan punggung pada pasangan usai bertengkar, ternyata bukan reaksi yang bijak. Penelitian yang dilakukan University of Washington mengungkapkan, pertengkaran yang dibawa tidur hanya akan meningkatkan gengsi ketimbang rasa sayang kita terhadap pasangan. Maka penelitian yang dilakukan pada Love Lab ini, mendorong setiap pasangan menyelesaikan masalah sebelum tidur. Tujuannya hanya satu, menyelesaikan permasalahan yang menguntungkan kedua belah pihak.

"I vow to keep our romance going -even when I'm not feeling romantic"
Kerja yang menumpuk yang dibayangi dengan acara rutin keluarga besar, sering kali membuat kita lupa akan kesenangan yang dilakukan sebelum menikah. Menonton film atau makan di restoran romantis, misalnya. Padahal momen berdua ini akan membuat kita dapat saling memperhatikan secara utuh. Habiskanlah waktu bersama di akhir pekan, untuk menyadari bahwa pasangan yang ada di samping kita adalah yang terbaik bagi kita.

"I vow to be honest"
Berapa kali kita rela menemani pasangan menonton siaran langsung sepak bola yang sebenarnya tidak kita sukai? Mencoba untuk menikmati, sebenarnya hanyalah menyiapkan bom waktu. Karena di dalam hati kita marah dan jenuh. Berjanji untuk menemani pasangan dalam keadaan suka dan duka, bukan berarti menyembunyikan kejujuran. Justru definisi cinta sejati adalah saat kita bisa jujur mengekspresikan apa yang kita rasa dalam kebersamaan.

"I vow to stay faithful -even if I'm tempted
Polling mengungkapkan 28 persen laki-laki yang sudah menikah, akan mengalami affair pada usia 50 tahun. Dan 17 persen perempuan yang sudah menikah, juga mengalami hal yang sama. Memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis adalah hal yang wajar. Tapi yang membuat komitmen kita berbagi hidup selamanya lebih memiliki makna adalah ketika kita tidak ingin menguji diri kita sendiri.

"I vow to take care of myself"
Tanpa disadari menjaga dan merawat diri adalah cara untuk membuat pasangan kita selalu jatuh cinta. Kesehatan fisik dan emosi adalah modal utama untuk dapat mendampingi pasangan. Apabila kita sakit, pasangan kita pasti akan merasa kurang bersemangat menjalani rutinitas. Alhasil, hari-hari yang dijalani pun terasa lebih berat dari biasanya karena tidak ada kesenangan yang dapat dinikmati bersama.

"I vow to cultivate intimacy"
Tidak ada salahnya untuk menyediakan waktu untuk bermesraan. Waktu bermesraan ini, adalah cara untuk memperdalam ikatan dengan pasangan. Kita mendengarkan apa yang menjadi masalah terbesarnya, tanpa harus menggurui. Posisikan diri sebagai seorang pendangar yang baik. Kadang kala, memiliki pendengar yang baik adalah terapi terbaik untuk melepaskan stres.

Kamis, Mei 21, 2009

Perkembangan Anak : Latih Tanggung Jawab Anak lewat Binatang

BINATANG peliharaan yang Anda berikan kepada si kecil akan melatihnya bertanggung jawab dan memiliki rasa mencintai.Jangan lupa,pilih binatang yang tak berbahaya bagi si kecil.

Lucu dan menggemaskan, itulah yang menjadi pertimbangan bagi banyak orang untuk membeli dan memelihara hewan peliharaan di rumah. Selain itu hewan peliharaan juga bisa menjadi teman bermain buah hati Anda. Memang tidak semua anak menyukai binatang, malah ada yang takut dengan binatang tertentu.

Namun, ada juga anak yang sangat suka binatang. Bila buah hati Anda, termasuk pencinta binatang, tak ada salahnya Anda memberikan binatang untuk teman bermain. Binatang peliharaan yang menjadi favorit kebanyakan orang tua untuk diberikan kepada anak-anaknya, antara lain,anjing,kucing,hamsteratau ikan-ikan yang berenang di dalam akuarium.

Tak hanya sebagai teman bermain, binatang yang Anda berikan buat si kecil bermanfaat bagi perkembangan mental dan psikis.Saat Anda memberikan binatang kepadanya, berarti secara otomatis Anda memberikan tanggung jawab kepada si buah hati. Mereka akan mulai bertanggung jawab untuk memberinya makan.

Selain belajar tanggung jawab, anak-anak juga akan belajar mencintai sesama makhluk hidup.”Binatang yang diberikan kepada mereka akan melatih tanggung jawab pada anak,”kata Psikolog Anak dari Universitas Indonesia (UI) Dr Farah Siregar. Ditambahkan Farah, anakanak cenderung menganggap hewan peliharaan yang mereka peroleh sebagai teman baik.

Jadi anakanak merasa seorang teman bisa diperlakukan seperti ketika dirinya bermain-main dengan anakanak seusianya.Perlakuan yang sama itulah yang juga akan mereka berikan kepada hewan peliharaan yang mereka miliki.

”Karena kecenderungan anak menganggap peliharaan mereka sebagai seorang teman, orang tua harus benar- benar memilih binatang yang aman untuk mereka,”kata Farah dihubungi beberapa waktu lalu. Jika anak-anak sudah menganggap binatang mereka sebagai teman, mereka tidak sungkansungkan memeluk, mencium bahkan memukul binatang kesayangan mereka jika marah.

Saat itulah orang tua harus melindungi anakanaknya. Entah itu kemungkinan bakteri yang menular atau alergi yang bisa saja terjadi pada anakanak yang sensitif, atau kemungkinan anak digigit karena hewan yang menggigit karena merasa tersakiti. Sebelum memberikan hadiah kepada anak-anak seekor binatang, orang tua juga harus bijak menentukan hewan yang akan dipelihara.

Misalnya, apakah sesuai memelihara anjing herder di rumah sempit atau di apartemen yang kecil. Apakah kucing angora tidak akan mengganggu anggota keluarga lain yang alergi terhadap bulu-bulu.Tentukan pula apakah biaya ke dokter hewan cocok dengan anggaran belanja.

”Hitunglah dengan matang saat memilih binatang yang ingin dibeli.Jika sudah dibeli,ajarkan kepada anak batasan-batasan dalam permainan dengan hewan barunya,”katanya. Batasan-batasan yang tegas yang diberikan kepada anak itu bisa berupa larangan. Misalnya, larangan untuk mencium anjing yang sedang bermain, atau larangan memeluk kucing anggora ketika tangan dalam keadaan basah.

”Dengan larangan dan aturan yang tegas,anak jadi tahu dan sadar bagaimana sebenarnya bermain dengan hewan,” ujar dia. Bila tidak dapat memelihara binatang peliharaan di rumah, jangan khawatir.Ini karena tidak harus memiliki binatang peliharaan untuk mengenalkan kehidupan binatang kepada anak-anak.

Orang tua dapat membawa anak ke kebun binatang, Seaworld, peternakan, tempat penangkaran atau di objek wisata sentuh, di mana anak-anak bisa menyentuh binatang. Memilih binatang yang tepat bagi anak di rumah,ternyata juga mendapat tanggapan serius dari orang tua dari tiga anak, Sri Hannah,39 tahun.Menurut dia, hewan peliharaan itu penting bagi anak-anak karena bisa membuat anak lebih ceria,memiliki kesibukan yang bermanfaat daripada bermain game.

Hannah yang juga seorang dokter gigi tersebut mengatakan bahwa peliharaan dapat membantu membangun self-esteem dan rasa percaya diri anak. Juga bisa memperkaya perkembangan emosional anak dengan membuat anak terpapar masalah-masalah penting, seperti reproduksi,kelahiran,penyakit, kecelakaan,kematian,dan rasa sedih. (bernadette lilia nova)

Belajar Empati dari Binatang

MEMELIHARA binatang memiliki makna tersendiri bagi si buah hati. Tak sebatas teman bermain, binatang juga menjadi jurus ampuh untuk mengasah empati si kecil.

Saat memelihara binatang, secara otomatis anak mulai mempelajari kehidupan binatang tersebut. Siklus kehidupan binatang itulah yang kemudian memunculkan empati dan rasa peduli pada anak. Anak akan mengerti bagaimana harus menyikapi binatang yang lapar atau sedang kesakitan.

Saat memberi makan misalnya, secara langsung anak akan belajar bagaimana menyayangi binatang. Malah terkadang ia rela memberikan sebagian makanannya kepada binatang kesayangannya. Si kecil pun akan rela membagi mainannya untuk si kecil.

Tak hanya itu, si kecil juga tak akan segan-segan membagi waktunya untuk binatang piaraannya. Binatang peliharaan mengasah rasa kepekaan anakanak terhadap pertemanan, dukungan, dan cinta. Binatang peliharaan selalu siap memberikan perhatiannya, dan perhatian yang mereka berikan tak terbagi, terutama untuk sesuatu yang menyenangkan.

Masih banyak lagi segi positif yang bisa diperoleh anak dari kecintaannya pada hewan peliharaan. Dengan memiliki bintang semisal hamster, kucing, ikan, anjing, atau apa saja, anak diberi kesempatan untuk merawat dan menjaga. (bernadete)

Referensi : Media Seputar Indonesia, Monday, 18 May 2009

Perkembangan Anak : Stimulasi Anak dengan Permainan

NUTRISI saja tak cukup menunjang pertumbuhan dan perkembangan otak anak.Perlu stimulasi untuk mengoptimalkannya.Stimulasi bisa dilakukan melalui permainan yang menyenangkan.

Perkembangan otak merupakan fondasi awal bagi kecerdasan dan tumbuh kembang anak pada tahap berikutnya. Dalam periode emas perkembangan anak, terjadi perkembangan otak yang paling signifikan. Dikatakan dokter anak spesialis saraf dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr Dwi Putro Widodo, SpA(K) bahwa proses perkembangan otak anak, ada dua tahap, yakni pembentukan sinaps (koneksi) dan transmisi sel otak (komunikasi).

”Pada tahap pertama, sel-sel otak membentuk sinaps, yaitu penghubung antara dua ujung selsel yang berbeda. Sedangkan tahap komunikasi adalah tahap di mana adanya penyampaian pesan antarsel otak.Fase ini adalah fase di mana proses pembelajaran dan daya ingat dimulai,”tutur Dwi.

Dwi menuturkan, diperlukan nutrisi dan stimulasi yang tepat untuk perkembangan otak yang optimal. Di antaranya adalah nutrisi penting untuk otak yaitu DHA. ”DHA dapat membantu proses pembelajaran dan daya tangkap anak,” ucap Dwi saat acara Press Conference ”Enfa A+ Baru dengan Lebih Banyak DHA” di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Penelitian membuktikan bahwa DHA memperkuat keutuhan sel otak dan menjamin komunikasi antarsel- sel otak secara efektif.Untuk mengoptimalkan proses perkembangan otak anak ini tidak cukup dengan nutrisi saja, juga stimulasi. Stimulasi merupakan kegiatan merangsang kemampuan dasar anak agar anak tumbuh dan berkembang secara optimal.

Stimulasi yang seimbang bagi otak kiri dan otak kanan akan membantu anak memiliki kemampuan yang seimbang juga antara kemampuan khas otak kiri dan kanan.Stimulasi dapat berperan untuk peningkatan fungsi sensorik (dengar, raba, lihat rasa, cium), motorik (gerak kasar, halus), emosi-sosial, bicara,kognitif, mandiri, dan kreativitas (moral,kepemimpinan).

Siapa yang tidak suka bermain, orang dewasa saja masih butuh bermain,terutama anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan, di mana mereka masih mendapatkan banyak manfaat dalam bermain yang salah satunya sebagai penerapan pola asuh dari orang tua. Psikolog anak,Dr Rose Mini AP, Mpsi,mengatakan,bermain dalam proses stimulasi yang dilakukan pada anak, penting dilakukan orang tua.

Karena saat inilah otak anak bagaikan sponge baru yang mampu menyerap segala hal dengan cepat dan maksimal.”Untuk itu,semakin banyak pengalaman dan pembelajaran anak, maka semakin banyak yang terserap dan anak akan tumbuh cerdas,” tutur psikolog yang akrab disapa Romi ini.

Romi menjelaskan, yang perlu diingat adalah orang tua harus pandai mengaturnya.Tidak asal dalam memilih permainan sehingga anak dapat berkembang sesuai dengan kapasitasnya. ”Biarkan anak memilih permainannya sendiri. Dengan begitu,anak akan mendapatkan berbagai pengalaman yang menarik rasa ingin tahunya,” kata Romi.

Romi mengatakan,stimulus bisa diberikan saat bermain bersama sehingga akan terasa menyenangkan untuk si kecil. Orang tua bisa memilihkan permainan yang dapat membantu untuk memaksimalkan fungsi serta kemampuan otak dan pikiran anak.Beberapa permainan seperti permainan yang dapat mengenalkan perbedaan dan klasifikasi misalnya puzzle, atau permainan balok.

Atau bisa juga dengan memberikan permainan yang dapat melatih kemampuan emosional dan imajinasi seperti alat musik. Menstimulasi anak dengan bermain, selain menyenang kan dapat membantu orang tua melihat kecerdasan pada anak-anaknya.

Kemampuan orang tua melihat potensi dan bakat anak sangatlah penting karena masing-masing anak memiliki jenis kecerdasan berbeda.” Orang tua perlu menyadari besarnya peran mereka bagi perkembangan anak, terutama perkembangan otaknya,” ungkap motivator keluarga,Gobind Vashdev. (inggrid namirazswara)

Referensi : Media Seputar Indonesia, Tuesday, 19 May 2009

Perkembangan Anak : Pahami Stres pada Anak

SEORANG anak yang berperilaku nakal belum tentu karena si anak tersebut memang nakal.Coba cari tahu penyebabnya,bisa saja si kecil sedang dilanda stres?

Apa yang Anda pikirkan ketika mendapati anak berperilaku nakal atau suka menjahili temannya? Rasa jengkel pasti tebersit, tapi tunggu dulu! Jangan buru-buru memarahinya karena kenakalannya belum tentu karena dia memang nakal. Mungkin saja ada faktor-faktor dari luar yang memicu anak jadi stres sehingga lantas bermanifestasi dalam bentuk kejahilan atau kenakalan.

Dan jangan lupa,masalah yang bersumber dari rumah juga bisa terbawa sampai ke sekolah loh! “Rata-rata anak yang mengalami stres berasal dari keluarga yang broken. Misalnya bapaknya suka memukuli ibunya, atau bapaknya jarang pulang.

Gejala yang tampak di kelas seperti kelihatan ingin menang sendiri, ingin menguasai temannya, pemberontak atau malah sebaliknya berubah menjadi pendiam dan tidak mau apa-apa lagi,” sebut Dra Faida Delta dari SD Pondok Kelapa 03 Pagi,Jakarta.

Gejala yang tampak ketika seorang anak merasa tertekan memang bisa bermacam-macam dan berbeda-beda. Manifestasinya bisa berupa keluhan fisik seperti sakit perut,
migran, dan asma.Atau bisa saja menimbulkan gejala psikis seperti murung dan ketakutan.

Ada pula yang menangis tanpa henti dan berlari tanpa arah tujuan. Menurut Spesialis Perkembangan Anak dari North Carolina Cooperative Extension Service, Karen DeBord PhD, gejala-gejala umum stres bisa berbeda pada setiap tahap perkembangan anak. Pada anak-anak usia preschool bisa diamati dari kurangnya kontrol dirinya, suka lupa waktu, ingin menang sendiri, perubahan pola makan dan enggan bercerita kepada orang tua tentang perasaannya.“

Mereka juga agak gugup saat bicara, sulit tidur dan terkadang mengompol,”ujarnya. Reaksi yang lebih spesifik juga bisa tampak dari anak yang ketakutan, menangis sejadi-jadinya, atau bahkan paranoid. Ada pula anak yang sikapnya kembali seperti bayi lagi. Ia akan merasa ketakutan saat sendirian ditinggal orang tuanya, suka mengisap atau menggigiti jarinya, atau menjadi sangat sensitif terhadap suarasuara.

“Rasa sedih atau marah juga melingkupinya sehingga terkadang dia mimpi buruk, menjadi lebih agresif atau tiba-tiba tidur telungkup sambil menutup kuping,” kata Karen. Melangkah ke masa SD, tipikal anak pada usia ini akan marah dan merasa stres ketika segala sesuatu berlangsung tidak sesuai harapannya.

Manifestasinya bisa pada perubahan perilaku menjadi lebih agresif, bolos sekolah, ketakutan dan hilangnya konsentrasi. Reaksinya juga bisa dengan cara menarik diri dari pergaulan, merasa tidak dicintai dan tidak dipercaya,serta kesulitan mendefinisikan perasaan yang dialaminya.

“Di bawah pengaruh stres, mereka juga mengkhawatirkan masa depannya, kehilangan semangat, mengeluh sakit kepala dan sakit perut, kesulitan tidur, serta sering buang air kecil,”sebut Karen. Selanjutnya menginjak masa pra-remaja,perasaan tertekan biasanya tampak dari sikap suka memberontak, timbul masalah kulit, dan gangguan tidur.

“Gejala ini bisa hilang-timbul dengan tibatiba,” katanya. Kemarahan yang muncul pun biasanya berlangsung lebih lama, pikiran kosong,berkurangnya rasa harga diri dan tidak percaya pada banyak hal di dunia ini.“Orang tua perlu waspada karena mereka juga bisa menunjukkan perilaku yang ekstrem dan berisiko tinggi,seperti mengonsumsi alkohol atau narkoba, bahkan bunuh diri,” sebutnya.

Lantas, apa yang harus dicermati para orang tua? Perubahan perilaku anak adalah jawabannya karena merupakan indikator paling sering dijumpai. Menjahili teman juga bisa jadi merupakan cara anak melampiaskan kegalauan dan stres yang tengah dialaminya. Akibatnya,teman yang dijahili pun jadi ikut-ikutan stres.

“Sering kali ditemui tiba-tiba anak menjadi mogok ke sekolah. Setelah ditelusuri, ternyata masalahnya dia sempat dijahili temannya atau kalah dalam kompetisi. Namun, semuanya kembali lagi pada karakter masing-masing anak,”kata pendidik sekaligus ahli montessori,Lely Tobing. Karakter anak memang turut menentukan ketahanan dan penerimaannya terhadap stres.

Hal tersebut juga dibenarkan oleh penulis buku Help Kids Cope with Stress & Trauma,Dr Caron Goode,yang mengatakan bahwa pengalaman dan kematangan emosional anak juga turut membentuk karakter yang pada akhirnya dapat membantu si anak dalam mengatasi rasa stresnya. Untuk itu, dalam hal sistem pengajaran di sekolah,Lely Tobing menyarankan agar para guru mencoba mengenali karakter anak didiknya.

“Buatlah strategi pengajaran berdasarkan karakter anak didik, kalau memang sekolah memakai metode active learning atau pendekatan individual. Guru juga harus banyak berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang tua.Sebab, biasanya guru tahu saat si anak mood-nya sedang naik atau turun,” papar Lely.

Lebih lanjut Lely mengungkapkan bahwa untuk anak usia di bawah 6 tahun,lingkup sosialnya masih sangat terbatas.Dengan begitu, guru dan orang tua menjadi orang terdekat di luar pengasuhnya. “Otomatis jika karakter orang terdekat ini membuatnya tidak nyaman, dia pasti akan terganggu dan timbul stres,”sebutnya.

Ketika anak mulai masuk sekolah, relasi sosialnya akan bertambah lagi seperti dengan guru olahraga atau penjaga sekolah.Terkadang lika-liku kehidupan sosial bersama teman di kelas yang sepele sekalipun bisa membuat anak tidak nyaman.Misalkan saat harus berpindah tempat duduk atau bertukar teman sebangku. Seiring perkembangan usia,potensi bersinggungan dengan stres kian bertambah.

Contohnya anak yang mendekati masa puber akan mengalami fase krisis identitas, mulai naksir teman sekelas, dan ketika dikecewakan timbullah stres yang berdampak pada nilai tes yang buruk dan tindakan bullying terhadap teman-temannya. “Kehidupan sekolah menunjukkan angka stres yang meningkat setiap tahunnya.

Dan kasusnya juga kian beragam dan menakutkan. Pesta ulang tahun di sekolah dan kompetisi olahraga antarkelas pun bisa menjadi pemicu reaksi stres pada seorang anak,” kata Dr Caron Goode. (inda susanti)

Referensi : Media Seputar Indonesia, Wednesday, 20 May 2009